Upaya Pemberantasan Hadits Palsu

12 Okt

Para ulama telah mengadakan upaya menangkal pemalsuan terhadap hadits Nabi saw dan berusaha untuk memelihara serta membersihkannya dari segala bentuk kerancuan hadits. Upaya yang diciptakan para ulama tersebut cukup sistematis, yaitu:

Meng-isnad hadits (penelusuran mata rantai sumber berita)

Para sahabat di awal- awal Islam atau sejak masa Rasulullah saw masih hidup sampai masa munculnya fitnah terbunuhnya Utsman bin Affan ra, mereka saling mempercayai satu sama lain (tsiqah mutabadilah). Para tabi’in tidak ragu-ragu menerima riwayat/berita dari sahabat tentang hadits Nabi saw. Namun setelah terjadinya fitnah dan kaum muslimin mulai terpecah ke dalam beberapa golongan dan mulai tersebar hadits-hadits palsu, maka para sahabat dan tabi’in mulai ekstra berhati-hati dalam menerima hadits dari para perawinya.

Bentuk kehati-hatian dan ketelitian para sahabat dan tabi’in tersebut adalah dengan meminta sanad kepada mereka yang menyampaikan hadits, sampai akhirnya dapat menetapkan sanad suatu berita/riwayat/hadits. Kedudukan sanad dalam hal ini bagaikan nasab bagi seseorang. Hal ini mirip dengan kaidah berita pada zaman sekarang yang menetapkan unsur 5W 1H (what, who, why, when, where & how), namun dalam hadits selain unsur obyektivitas tersebut, masih membutuhkan subyektivitas yaitu unsur keadilan (ketaqwaan) bagi pembawa berita, sehingga terjaga kredibilitas suatu berita.

Pada mulanya para sahabat dalam menerima hadits tidak selalu menanyakan sanadnya. Akan tetapi setelah terjadinya fitnah, mereka meminta untuk menyebutkan mata rantai sanadnya. Kemudian setelah mendapatkan mata rantai sanadnya maka ditelitinya. Jika sanad tersebut terdiri dari ahlu sunnah maka diambilnya dan sekiranya terdapat ahli bid’ah, maka ditolaknya.

Meningkatkan perlawatan mencari hadits

Mereka meningkatkan perlawatan mencari hadits dari satu kota ke kota lain untuk menemui para sahabat yang meriwayatkan suatu hadits. Sejak itu para penuntut hadits hanya mendengar dari para sahabat saja. Jika mendapatkan hadits dari selain sahabat, maka dengan segera mengkonfirmasikannya kepada sahabat. Bahkan Abu Aliyah tidak puas atau tidak ridha jika mendapatkan suatu hadits yang ia dengar dari sahabat Nabi saw yang tinggal di Bashrah, sekiranya ia tidak pergi ke Madinah untuk mendengarkan hadits tersebut dari para sahabat yang berada di sana.

Para sahabat mengadakan perlawatan mencari hadits dari kawannya sahabat yang berada di luar daerahnya. Sebagaimana dilakukan sahabat Ayyub menemui sahabat ‘Uqbah bin Amir di Mesir dan sahabat Jabir menemui sahabat Abdullah bin Anis untuk mencari suatu hadits.

Ada satu hikmah luar biasa yang bisa kita petik, yaitu bahwa fitnah ini terjadi pada masa sahabat masih hidup, sehingga segala berita/hadits bisa dikonfirmasi langsung dengan para sahabat yang nota bene adalah orang-orang yang pernah berinteraksi dengan Rasulullah saw. Seandainya fitnah ini terjadi pada masa yang jauh dari kehidupan para sahabat, maka betapa besar kesulitan yang diderita umat Islam untuk melakukan verifikasi suatu berita/hadits. Sebab dengan itu mata rantai sanad tak tersambung kepada Nabi saw, kalaupun terdapat sanad, hanya akan terhenti pada masa yang tidak menggapai masa sahabat, atau sanad yang tidak memiliki kredibilitas yang kuat. Implikasinya adalah akan terdapat banyak jalan buntu dalam berbagai penelitian dan penelusuran sanad hadits, serta kemungkinan terjadi kerancuan antara yang haq dan yang batil, antara hadits-hadits shahih dengan yang palsu, dan seterusnya.

Mengambil tindakan kepada para pemalsu hadits.

Kehati-hatian para sahabat dalam menjaga dan memelihara sunnah menjadikan mereka tak canggung untuk mengambil tindakan terhadap para pemalsu hadits. Para penjaga sunnah melarang mereka yang tervonis sebagai rawi pemalsu hadits untuk meriwayatkan hadits. Bahkan terjadi tindakan yang lebih tegas lagi hingga mengeksekusi orang-orang yang gemar memalsukan hadits, menyesatkan dan memecah belah umat serta tidak mau bertaubat. Amir Asy Sya’bi pernah memarahi seraya menarik telinga Abu Shalih yang menjadi mufassir. “Celaka kamu, kenapa kamu menafsirkan Al Qur’an padahal tidak benar bacaanmu?” bentaknya.

Sungguh merupakan penyesatan menafsirkan Al Qur’an dengan riwayat-riwayat palsu apalagi membuat riwayat sendiri untuk menafsirkan Al Qur’an. Aktivitas menafsirkan Al Qur’an tak akan lepas dengan hadits-hadits Nabi saw. Oleh karenanya tidak dibenarkan mengambil riwayat yang tidak jelas atau tidak memiliki derajat shahih dalam ini, karena makna atau kandungan Al Qur’an bisa berubah dengan tafsir yang keliru.

Menjelaskan perilaku para pembawa berita (rawi)

Generasi pada sahabat, tabi’in dan tabi’ut –tabi’in mempelajari biografi para rawi, tingkah lakunya, kelahiran dan kematiannya, keadilannya, daya ingatnya, kemampuan hafalan. Hal ini dilakukan untuk membedakan hadits-hadits yang shahih dan yang palsu. Dalam penelitian tersebut jika terdapat rawi yang memiliki sifat-sifat tercela maka mereka memberitahukan kepada umum. Dengan tujuan agar publik mengetahui tentang kedudukan suatu hadits yang diriwayatkan dari si Fulan. Mereka tanpa diliputi sikap basa-basi mengkritik atau memuji seorang rawi dengan niat tulus karena takut kepada Allah semata, karena menjaga sunnah atau hadits Nabi saw dari segala noda adalah termasuk menjaga agamaNya. Jadi jika mereka memuji seorang rawi, hal itu bukan karena takut, ta’jub atau mungkin kasihan terhadapnya. Demikian pula jika mereka mengkritik rawi bukan berarti benci terhadap pribadinya. Karena untuk kepentingan menjaga agama inilah maka dalam mengkritik atau memuji harus adil, sebatas yang diperlukan serta tidak berlebihan, tidak keluar dari akar permasalahan.

Oleh karena itu lahirlah kriteria penetapan sifat-sifat rawi yang bisa dan yang tidak dapat diterima periwayatannya. Para rawi yang tidak boleh diambil haditsnya adalah:

  • Orang yang mendustakan Rasulullah saw
  • Orang yang terbiasa berdusta, sekalipun tidak berdusta terhadap Rasulullah saw
  • Orang yang terbukti sebagai ahli bid’ah
  • Orang zindiq (mendustakan agama)
  • Orang fasiq (bergelimang dengan dosa dan maksiat)
  • Orang yang dikenal sebagai pelupa
  • Orang yang tidak mengerti akan apa yang diucapkannya.

Adapun para rawi yang ditangguhkan periwayatannya, adalah:

  • Orang yang masih diperselisihkan tentang jarh wa ta’dil, yaitu cacat/kekurangan dan keadilannya
  • Orang yang lebih banyak salahnya daripada benarnya serta banyak berlawanan dengan periwayatan yang lebih tsiqah (kredibel) darinya.
  • Orang yang lebih banyak lupanya daripada ingatnya
  • Orang yang lanjut usia, karena dikhawatirkan terdapat kekeliruan
  • Orang yang buruk hafalannya.

Membuat ketentuan umum tentang klasifikasi hadits & kriterianya

Bentuk lain dalam upaya penjagaan sunnah dari kepalsuan adalah dengan membuat ketentuan dan syarat-syarat bagi hadits shahih, hasan dan dha’if.
Membuat ketentuan untuk mengetahui ciri-ciri hadits maudlu’ (palsu)
Mereka membuat ketentuan mengenai tanda-tanda hadits palsu, baik tanda yang terdapat pada sanad maupun matannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 212 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: