Hadits di masa Nabi saw

15 Okt

Dalam mendapatkan hadits pada masa Nabi saw masih hidup, para sahabat berinteraksi secara langsung maupun tidak langsung kepada beliau. Kadangkala mereka mengunjungi rumah Nabi saw atau berbicara dengan isteri beliau dan menanyakan sesuatu hal agama yang ingin diketahuinya. Kadang pula  mereka bertemu di jalan, di pasar, di masjid, bersama dalam safar, majelis-majelis dan sebagainya. Dalam hal itu para sahabat memperhatikan seluruh tutur kata, perilaku dan sikap-sikap Nabi saw terhadap sesuatu hal untuk kemudian dijadikannya sebagai uswah hasanah bagi mereka. Jika mereka berjauhan tempat dengan Nabi saw, maka mereka selalu mengutus seseorang untuk pergi mendatangi beliau dan menyampaikan keperluan agamanya.

Dengan demikian para sahabat Nabi saw pada zaman beliau masih hidup tatkala menerima hadits (syari’at) adakalanya secara langsung dari beliau sendiri, yakni mendengar secara langsung ucapan Nabi saw, ataupun melihat secara langsung gerak-gerik beliau, dan juga melihat langsung sikap Nabi saw terhadap suatu peristiwa atau kasus. Biasa juga mereka mendengar jawaban Nabi saw ketika dimintai pertanyaan atau bahkan Nabi saw sendiri yang memulai pembicaraan, memerintahkan, melarang, mengomentari atau mengabarkan sesuatu berita.

Semua sahabat secara umum telah menerima hadits, namun dalam menerima hadits ini para sahabat tidaklah sama pengetahuannya terhadap Rasul saw. Sebab di antara mereka ada yang tinggal di desa-desa, ada yang berniaga, bepergian dari satu tempat ke tempat lain yang jauh dan yang dekat, ada pula yang tekun terus-menerus beribadat di masjid, ada juga yang tidak memperoleh pekerjaan sehingga menetap di suatu tempat.  Ada yang menerima hadits di “ceramah terbuka” baik di waktu shalat Jum’at atau hari raya atau momentum tertentu.

Tidak semua sahabat mencapai tingkatan ijtihad, sebab tingkat pengetahuan mereka tentang sunnah juga bertingkat-tingkat. Para sahabat sendiri terdiri dari multi kalangan, ada yang merupakan orang desa, orang badui, buruh dan pedagang ada juga dari bangsawan terhormat. Mereka mengamalkan sunnah sesuai dengan pemahamannya, baik ia mujtahid atau tidak. Pada saat itu tak ada cerita bahwa sahabat yang tidak mampu berijtihad dituntut agar merujuk kepada sahabat yang mampu berijtihad mengenai hadits yang ia dengar, tidak di zaman Nabi saw tidak pula di zaman sahabat. Juga tak ada cerita bahwa para khalifah memerintahkan para sahabat yang bukan mujtahid (terutama para penghuni lembah) untuk tidak mengajarkan apa yang mereka terima dari Nabi saw, baik secara langsung maupun dengan perantaraan, sebelum meminta pertimbangan dari sahabat yang mujtahid.

Keanekaragaman keadaan para sahabat inilah yang menjadikan mereka berbeda-beda dalam tingkat penerimaan hadits-hadits Nabi saw. Jika diumpamakan keadaan mereka seperti mata air di kolam kecil yang hanya mencukupi untuk minum satu orang, ada yang mencukupi dua orang dan ada yang tidak kering-keringnya mata air itu hingga mencukupi penduduk bumi.

Meskipun pengetahuan para sahabat terhadap sunnah itu berjenjang namun mereka tidak berbeda pendapat dalam menerangkan dalil sebagian hukum. Mereka menguasai lafadz dan bersepakat terhadap sunnah atas apa yang diijtihadkan dan istinbath (mengeluarkan hukum dari sumber aslinya). Hal itu terjadi karena para sahabat melihat hal-hal yang dimudahkan oleh Allah baginya, berupa ibadah Nabi saw, fatwa-fatwa dan keputusan beliau, kemudian para sahabat menerima, menghafal dan memahaminya. Mereka adalah orang-orang yang damai, tenang terhadap apa-apa yang mereka terima tanpa menoleh kepada cara-cara pengambilan kesimpulan.

Dikisahkan pada suatu hari ada usungan jenazah melewati Nabi saw dan para sahabat. Lalu Nabi saw berdiri untuk menghormati jenazah tersebut. Para sahabat mengikuti perilaku Nabi mereka dengan ikut berdiri. Namun para sahabat tidak mengetahui rahasia apa di balik perbuatan Nabi saw tersebut. Salah seorang sahabt tidak bisa menyembunyikan pertanyaan di hatinya, ia berkata, “Wahai Rasulullah, jenazah itu adalah jenazah Yahudi”. Nabi saw balik bertanya, “Bukankah ia manusia?” kemudian beliau melanjutkan, “Apabila  kalian melihat jenazah, maka berdirilah untuk menghormatinya”. [1]

Para sahabat berbeda pendapat mengenai alasan penghormatan jenazah. Ada yang mengatakan hal itu untuk mengagungkan kedahsyatan maut. Ada pula yang mengatakan untuk menghormati para malaikat yang mengelilingi si mayit[2]. Tetapi sebab tersebut sudah disebutkan Nabi saw ketika  beliau bertanya, “Bukankah ia manusia?”


[1] Hadits ini tercantum dalam kitab shahih, dari jalur Jabir bin Abdillah dan jalur Sahl bin Hanif.

[2] Hujjatullah al-Balighah, 144

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 212 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: