ADAB MEMINANG

28 Apr

Menikah memiliki kedudukan yang mulia dalam pandangan Islam, dan meminang atau melamar merupakan langkah awal menuju kehidupan berkeluarga. Meminang seolah seperti menabur benih untuk kehidupan di masa depannya. oleh karenanya hendaklah dimulai dengan jalan yang mulia sebagaiman telah diajarkan dalam agama. Proses pernikahan hendaknya memperhatikan adab-adabnya sebagai berikut:

1.       Pemilihan atas dasar agama

تنُكَحُ المرأةُ لأربع لمالها لحَسَبِها ولجمالها ولدينها فَاظْفَرْ بذاتِ الدينِ تَرِبَت يداك رواه البجارى و مسلم

“Wanita itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena (kemuliaan) keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya, maka pilihlah wanita karena agama (jika tidak), maka binasalah engkau” (HR Bukhari dan Muslim)

الناس معا دِنُ فى الخير والشر خيارهم فى الجاهلة خيارهم فى الإسلام إذا فَقِهواْ

“Manusia itu laksana tambang di dalam hal kebaikan atau keburukannya. Yang terbaik di masa jahiliyah akan tetap menjadi terbaik di masa Islam asal mereka memahami (agama)” (HR Ath Thayalisi, Ibnu Mani’ dan ‘Askari)

“Jauhilah rumput hijau sampah! Mereka bertanya: “Apakah rumput hijau sampaah itu yaa Rasulullah?” Nabi saw menjawab: “Wanita baik-baik tetapi tinggal di lingkungan yang buruk” (HR Daraquthni, Askari dan Ibnu ‘Adi)

“Pilihlah yang baik untuk benih kamu, karena wanita itu melahirkan (anak) seperti saudara-saudara laki-laki dan saudara-saudara perempuannya” (HR Ibnu ‘Adi dan Ibnu ‘Asakir)

Dalam riwayat lain: “Carilah tempat-tempat yang cukup baik untuk benih kamu, karena lelaki itu mungkin menyerupai paman-pamannya”

2.       Melihat wanita yang dipinang

أُنظرْ اليها فإنه أحرَى أنيؤدَمَ بينكما  رواه الترمذى والنساءى

“Lihatlah dia, karena sesungguhnya hal itu lebih menjamin untuk melangsungkan hubungan kalian berdua” (HR Tirmidzi, Nasa’I, Ibnu Majah dan Bukhari)

إذا القى اللهُ فى قلبِ امْرءٍ خِطْبة امْرَأَةٍ فلا بأس أن ينْظُرَ إليها

“Bila Allah telah menjatuhkan di hati seseorang (keinginan) meminang seorang wanita, maka ia tidak berdosa melihatnya” (HR Ahmad dan Ibnu Majah)

Beberapa hal yang harus dihindari dalam hal ini:

Berjabat tangan

“Dari A’isyah ra, ia berkata: Tangan Rasulullah saw tidak pernah sama sekali menyentuh tangan wanita di dalam bai’at, bai’at Rasulullah saw kepada mereka adalah dengan ucapan” (HR Bukhari)

Berkhalwat

“Ingatlah, janganlah seseorang lelaki berkhalwat dengan seorang wanita, dan janganlah seorang wanita bepergian kecuali bersama mahramnya” (HR Bukhari dan Muslim)

Meminang pinangan orang lain;

“Janganlah seseorang meminang pinangan saudaranya, sehingga peminang itu meninggalkannya atau mengizinkannya” (HR Bukhari)

Meminang di masa ‘iddah ;

“Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma`ruf. Dan janganlah kamu ber`azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis `iddahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun”. (Al Baqarah: 235);

Bertukar cincin;  dsb.

AQAD NIKAH

1. Lelaki non Muslim baik dari Ahli Kitab ataupun musyrik diharamkan menikah dengan muslimah.

“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mu’min lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu”. (Al Baqarah: 221)

2.  Istri wajib beragama samawi (Al maidah 5), dengan alasaN;

  • Memberi alasan wanita ahli kitab untuk masuk islam secara kesadaran, setelah bergaul dengan suaminya
  • Islam membenarkan kenabian Musa as dan Isa as, sehingga istri mendapat gambaran yang lebih baik tentang keduanya.
  • Tidak ada paksaan dalam agama
  • Anak-anak dilahirkan mengikut ayahnya, secara syar’iy agamanya mengikut ayahnya.

3.       Niat nikah selamanya

4.       Istri halal baginya

5.       Ada kerelaan pihak wanita

“Tidak boleh dinikahkan wanita janda sehingga ia diajak musyawarah dan (tidak boleh dinikahkan) gadis sehingga diminta izinnya. Mereka bertanya: Yaa Rasulullah, lalu bagaimana izinnya? Nabi saw menjawab: ia diam” (HR Jama’ah)

“Seorang remaja putri pernah datang menghadap Nabi saw lalu berkata: sesungguhnya ayahku telah menikahkan aku dengan anak saudara laki-lakinya agar dapat terangkat denganku kerendahan derajatnya. Abdullah berkata: lalu Nabi saw menyerahkan persoalan ini kepada diri wanita itu sendiri. Kemudian wanita itu berkatra: Biarlah aku merelakan apa yang diperbuat oleh ayahku, hanya saja aku ingin memberitahu kepada semua perempuan, bahwa sesungguhnya bagi para bapak tidaklah berhak memiliki wewenang sedikitpun dalam urusan (pernikahan anaknya). (HR Ibnu majah)

6.       Kerelaan wali

“Siapa saja perempuan yang menikah tanpa izin walinya maka pernikahannya batal, maka pernikahannya batal, maka pernikahannya batal” (HR Ashhab as Sunan kecuali Nasa’i)

لانكاح إلا بوليٍّ

“Tidak sah pernikahan kecuali dengan wali” (HR Tirmidzi dan Abu Daud)

“Jika mereka (walinya) berselisih, maka hakimlah yang menjadi walinya” (HR Imam yang lima kecuali nasa’i)

7.       Saksi

لا نكاح إلا بوليٍّ وشاهِدَى عدلٍ

“Tidak sah suatu pernikahan kecuali dengan adanya wali dan dua saksi yang adil” (HR Imam Ahmad dan Daraquthni)

8.       Mahar

Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.(An Nisa: 4)

إنَّ من خير النساء أيْسَرُ هُنَّ صدَقا

“Di antara wanita yang terbaik adalah mereka yang paling mempermudah maharnya” (HR Ibnu Hibban)

أعظم النساء بركةَ ايْسَرُهُنَّ صدقا

“Wanita yang paling banyak barokahnya adalah mereka yang paling mudah maharnya” (HR Ahmad dan Baihaqi)

9.       Kekufuan

Yaitu persesuaian antara kondisi suami dengan istri dalam hal agama, nasab, profesi, kehormatan dan harta.. namun hal ini bukanlah syarat sahnya pernikahan, hanya merupakan syarat kesinambungan keharmonisan rumah tangga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: