ASAL MULA MUNCULNYA ISTILAH HADITS, KHABAR DAN SUNNAH

27 Agu

Hadits memiliki arti berita/kabar dan kisah, baik yang baru terjadi ataupun yang telah lama berlalu. Istilah ini sebenarnya memiliki dinamika mengikuti perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan, komunikasi sosial dan budaya umat Islam. Hadits atau sunnah yang merupakan hukum kedua umat Islam, senantiasa menjadi bahan pembicaraan dan pengkajian

Pada mulanya istilah hadits atau khabar (kabar) pernah dilontarkan oleh Abu Hurairah tatkala  berkata kepada kaum Anshar, “Apakah kalian berkehendak supaya aku ceritakan kepada kalian suatu hadits, atau berita-berita (khabar) kejadian di masa Jahiliyah?” Kemudian setelah itu umat Islam mempopulerkan istilah hadits atau khabar (berita/kabar).

Seiring dengan perkembangan waktu dan zaman, pemakaian lafadz ini pun berkembang, untuk istilah khabar adalah bagi berita-berita yang terjadi dalam masyarakat.

Berikutnya Ibnu Mas’ud juga pernah melontarkan istilah hadits tatkala berkata, “Sesungguhnya sebaik-baik hadits ialah Kitab Allah, dan sebaik-baik petunjuk ialah petunjuk Muhammad saw”. Di sini Ibnu Mas’ud mensifatkan Al Qur’an dengan sebaik-baik hadits.

Selain itu, istilah hadits juga telah disampaikan oleh Nabi saw tatkala Abu Hurairah pernah bertanya kepada beliau, “Siapakah orang yang paling berbahagia dengan syafa’atmu di hari Kiamat?” Maka jawab Nabi saw, “Aku telah menyangka hai Abu Hurairah bahwa tak ada seorang pun yang bertanya kepadaku tentang hadits ini yang lebih dahulu daripada engkau, karena aku lihat bahwasanya engkau sangat antusias kepada hadits.”[1]

Demikian seterusnya hingga pada akhirnya ada semacam kesepakatan umum bahwa pengunaan lafadz hadits hanya untuk Nabi saw saja.

Ada pun untuk lafadz sunnah pada asalnya berbeda dengan hadits. Telah kita ketahui bahwa hadits adalah segala yang diberitakan dari Nabi saw. Sedangkan sunnah adalah sesuatu yang telah biasa dikerjakan oleh kaum muslimin sejak dahulu, baik diberitakan ataupun tidak. Istilah tersebut disepakati karena lafadz sunnah yang telah berkembang dalam masyarakat Arab sejak dahulu memiliki pengertian “jalan yang ditempuh seseorang dalam kehidupan masyarakat”.

Sebagaimana Nabi saw menggunakan istilah sunnah ini di dalam sabdanya, “Sungguh kamu akan mengikuti jalan-jalan (sunnah) orang sebelummu, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta“.[2]

Makna ini telah berkembang di abad-abad permulaan dalam madrasah-madrasah Hijaz dan Irak. Kala itu sunnah diartikan dengan perbuatan yang telah menjadi tradisi, walaupun bukan sunnah Nabi saw.

Namun berikutnya pada akhir abad dua Hijrah, makna sunnah dikhususkan hanya untuk Nabi saw, karena ada peran dari Imam Syafi’i. Saat itu secara khusus Imam Syafi’i mengajak masyarakat untuk mengamalkan hadits yang tidak mencapai derajat mutawatir (hadits ahad) serta mengajak umat Islam untuk mendahulukan sunnah Nabi saw terhadap apa yang sudah berlaku dalam masyarakat.

Dari hal itu mereka mendapat pengertian baru bahwa hadits merupakan peristiwa yang disandarkan kepada Nabi saw walaupun hanya sekali terjadi dalam sepanjang hidup beliau dan walaupun hanya diriwayatkan oleh seorang saja. Maka dari sanalah pada akhirnya masyarakat Muslim mendapatkan pengertian hadits dan sunnah menjadi satu makna.

Berbicara tentang sunnah, maka sebutan sunnah itu sebenarnya karena suatu perbuatan yang sudah menjadi kebiasaan (tradisi), diamalkan oleh banyak orang yang tak terkira jumlahnya secara terus menerus dan turun temurun, atau bisa dikatakan sebagai amaliyah yang mutawatir (baca: banyak sekali pengamalnya). Ada pun sunnah Nabi saw yakni cara Nabi saw melakukan suatu ibadat yang telah diberitakan kepada kita dengan amaliyah yang mutawatir pula. Nabi saw melakukan suatu amal perbuatan bersama sahabat, lalu para sahabat mengamalkan terus hingga berlanjut kepada para tabi’in. Walau pun beritanya tidak mutawatir (baca: tidak banyak yang memberitakan), namun telah diamalkan dengan mutawatir. Jadi pelaksanaan yang mutawatir inilah yang dikatakan sunnah, walau dari segi sanad tidak mutawatir.

Kemudian jika Nabi saw bersabda: “Saya telah tinggalkan kepada kalian dua hal yang sekali-kali kalian tidak akan sesat selama berpegang kepadanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya”.[3]

Maka istilah sunnah dalam hadits tersebut memiliki makna sabil/sirath/thariqah (jalan), ath thariqul mustaqim (jalan yang lurus), uswah (suri teladan) atau khithah (garis kerja).

Istilah sunnah juga dipakai dalam Al Qur’an:

Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat perubahan pada sunnah Allah”. ( Al Ahzab:62)

Seperti juga sabda Nabi saw:

Barangsiapa yang membuat sunnah (jalan) kebaikan, maka baginya pahala sunnah yang baik itu dan pahala orang yang mengamalkannya hingga hari kiamat. Dan barangsiapa membuat sunnah (jalan) keburukan, maka baginya dosa atas sunnah yang buruk itu dan dosa orang yang mengerjakannya hingga hari kiamat”. (HR Bukhari dan Muslim).

Sungguh kamu akan mengikuti sunnah-sunnah orang sebelummu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka memasuki sarang dlab (sejenis biawak), sungguh kalian memasukinya juga“. (HR Muslim)

Menurut pemahaman hadits tersebut, perbuatan yang dilakukan secara terus menerus dan menjadi ikutan atau menjadi tradisi (kebiasaan) maka dinamai sunnah, sekalipun tidak baik. Jadi sunnah secara makna bahasa ini bisa berarti jalan terpuji atau pun jalan yang tercela.

Kemudian penjelasan lain dari Imam Asy-Syatibi berkata, “Seseorang itu akan dikatakan mengikuti Sunnah apabila dia melakukan amal yang sesuai dengan ajaran Nabi s.a.w, dan seseorang itu akan dikatakan melakukan bid’ah apabila dia melakukan amal atau perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Nabi saw”.

Maka dengan demikian kata as-Sunnah adalah merupakan lawan dari kata bid’ah.

Sunnah juga mencakup amalan yang dilakukan oleh para sahabat ra Imam Asy-Syatibi berkata: “Alasan bahwa amal para sahabat juga termasuk di dalam kategori sunnah adalah bahwa Rasulullah s.a.w bersabda, ”Kamu hendaklah mengikuti sunnahku dan Sunnah Khulafa’ Ar-Rasyidin sesudahku. Berpegangteguhlah kepadanya dan gigitlah ia dengan gigi geraham”.[4]


[1] HR Bukhari

[2] Muttafaqun ‘alaih

[3] HR Abu Daud dan Imam Malik

[4] HR. Abu Daud, dan Tirmidzi mengatakannya sebagai hadits Hasan Shahih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: