As Sunnah dan Ad Da’wah

27 Agu

Ummul mukminin ‘Aisyah ra pernah ditanya tentang akhlaq Rasulullah saw. Dia menjawab dengan tepat sekali, “Akhlaqnya adalah Al Qur’an”.[1] Jawaban itulah telah menerangkan dengan sejelas-jelasnya bahwa mengimplementasikan Al Qur’an itu tidak bisa tidak harus dengan ittiba’ (mengikut) kepada Nabi Muhammad saw, atau mengikuti sunnahnya. Oleh karenanya Islam disebut sebagai agama ittiba’ bukan ibtida’ (menciptakan).

“Barangsiapa mendatangkan hal baru dalam urusan agama yang tidak termasuk bagian darinya (tidak ada dasar hukumnya) maka tertolak”[2]

Sekalipun perkara ini sudah sedemikian gamblang, namun dalam implementasi kehidupan beragama tetap saja terdapat perkara-perkara tambahan yang merecoki syari’at. Ada yang menambah-nambah ibadah sehingga menjadi bid’ah. Perkara bid’ah ini ada kemungkinan berawal dari hawa nafsu yang ingin diperturutkan atau karena faktor pengetahuan agama yang minimal. Biasanya para penyeru bid’ah maupun para pengikutnya berada dalam keadaan tersebut.

Para pembaca mungkin pernah membaca tentang peran orang-orang sekuler yang merusak sunnah. Mereka sesungguhnya minim dalam pengetahuan agamanya, tidak hafal ayat-ayat Al Qur’an kecuali sedikit, tidak bisa membaca kitab “Arab gundul”, namun  mereka berani menafsirkan hukum Allah tanpa kaidah yang lazimnya dipakai para ulama. Mereka menempatkan hadits tidak pada tempatnya, dan sebagainya. Ada pula yang menginfiltrasi syari’at yang justru dilakukan oleh kalangan intelektual dan “ulama” tertentu. Mereka membuat kaidah tersendiri dalam memahami sunnah Rasul saw yang berimplikasi pada tertolaknya sunnah secara keseluruhan atau sebagian lantaran penyampaian hadits atau agama harus melewati jalur tandzim (“sanad”) hingga ke imam mereka.

Selain itu implementasi sunnah juga mengalami problematika dalam aplikasi di bidang da’wah Islamiyah. Sebagian berda’wah dengan berpedoman pada pandangan lahiriyah suatu nash, sebagian lagi berpijak pada kontekstualnya. Kedua pandangan tersebut berimplikasi kepada sikap dan manhaj da’wah masing-masing, sehingga seolah umat Islam ini terbawa oleh aliran pemahaman yang beraneka ragam.

Sunnah dan da’wah adalah dua istilah yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain, sebagaimana keutuhan antara pemerintah dan rakyat, yang mana pembahasan mengenai pemerintah tak akan lepas dengan rakyat. Masing-masing kata saling mengait dan membutuhkan. Sunnah itu merupakan kendaraan da’wah, dan dialah yang mengantarkan da’wah kepada tujuannya. Sunnah akan menjadi kendaraan yang mogok tanpa progres, manakala terpisahkan dari konteks da’wah Islamiyah. Demikian pula da’wah tanpa bimbingan sunnah akan tersesat dari perjalanannya yang mulia.

Buku ini juga mencoba memaparkan perjalanan sunnah yang menjadi inspirasi metodologi ilmiah dalam syari’at atau agama, sebagaimana kita ketahui hadirnya Ilmu Hadits Riwayat dan Ilmu hadits Dirayat atau Ilmu Musthalah Hadits yang metodologinya tak pernah dimiliki dalam kitab-kitab suci agama selain Islam. Dalam bahasan ilmu-ilmu hadits ini akan menjadi sangat luas cakupannya. Jika diperdalam maka ilmu hadits tidak hanya mencakup istilah-istilah saja namun juga sejarah dan para pelakunya, tentang faham dan mazhab-mazhab, ilmu bahasa, ilmu tafsir dan hukum-hukum yang bisa diambil, dan sebagainya yang dengan itu lahir produk-produk kekayaan penulisan dalam buku-buku atau literatur. Tak hanya itu pendalaman sunnah Rasul juga melahirkan sumber daya manusia atau pribadi yang unggul, tokoh-tokoh yang menerangi kegelapan, para mujtahid, madrasah-madrasah atau universitas, serta peradaban yang bercahaya.

Dengan memahami perannya yang tak boleh ditinggalkan ini diharapkan umat Islam mampu menyuguhkan keindahannya di meja kehidupan manusia. Berinteraksi dengan Al Qur’an dan As Sunah tidak layak hanya sebatas ilmu pengetahuan tanpa amal dan juga tak layak menerimanya tanpa pemahaman, karena kedua hal itu hanya akan menutupi cahaya Islam. Oleh karenanya Ali ra pernah berkata:

Dua orang yang  membuat punggungku patah, yaitu orang berilmu yang bermaksiat dan orang bodoh yang banyak beribadah. Orang bodoh ini menipu manusia dengan ibadahnya sedangkan orang berilmu tersebut memperdaya mereka dengan maksiatnya

Diharapkan buku ini menjadi inspirasi bagi para pembaca untuk senantiasa mencintai sunnah, mendalami dan mengamalkannya, menebarkannya di kalangan umat Islam hingga mereka mendapatkan furqannya dan tersingkirlah kebatilan serta terpampang kebenaran yang manisnya terasakan bagi seluruh alam.


[1] HR Ahmad, Muslim, dan Abu Daud dari ‘Aisyah ra, sebagaimana dalam Shahih al-Jami’ash-Shaghir

[2] HR Bukhari dan Muslim, dari Ummul mu’minin, Ummu Abdillah, ‘Aisyah ra.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: