BERHUJAH DENGAN HADITS DHA’IF

28 Agu

Dari segi boleh tidaknya hadits dha’if sebagai hujah, menurut sebagian ulama ada peluang diperbolehkan namun dengan memperhatikan beberapa hal:

  • Diperbolehkan meriwayatkan hadits dha’if dalam hal memberi anjuran dan peringatan (at-targhib wat-tarhib).
  • Tidak mengandung hal yang luar biasa (berlebih-lebihan) yang diterima akal, syara’ dan bahasa.
  • Tidak bertentangan dengan dalil syar’i lain yang lebih kuat daripadanya.
  • Untuk menerangkan keutamaan amal (fadhailul’ amal).
  • Sekedar berisi kisah-kisah.
  • Bukan untuk menetapkan aqidah dan hukum (halal dan haram).
  • Bukan dalam perkara-perkara yang batil dan dibuat-buat.
  • Ke-dhai’f-annya bukan karena terdapat perawi yang tertuduh dusta dan banyak salah.
  • Hanya untuk kehati-hatian (ikhtiyath) semata.
  • Disampaikan/dijelaskan sanad-sanadnya atau menerangkan kelemahannya.

Tidak boleh dikatakan: “Rasulullah saw. bersabda, ….” dengan bentuk pasti, atau yang serupa. Sebab hal ini hanya untuk hadits shahih. Oleh karena itu jika kita mengutip suatu riwayat (hadits) yang tidak diketahui keadaannya apakah shahih atau dha’if, maka cara mengutipnya dengan: “Diriwayatkan dari Nabi saw, ….” Dengan adanya tambahan kalimat “diriwayatkan” tersebut merupakan bentuk rupakan kalimat yang tidak pasti, sehingga tidak menisbatkan langsung kepada Nabi saw.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: