Bisakah hadits hasan untuk hujah?

28 Agu

Dengan terdapatnya kriteria rawi yang kurang kuat hafalannya (kurang dhabith), apakah hadits hasan bisa dijadikan sebagai hujah? Tentu saja bisa! Para ulama telah bersepakat bahwa hadits yang bisa dipakai sebagai hujah diistilahkan dengan hadits maqbul (diterima), yaitu hadits shahih dan hadits hasan. Walaupun rawi pada hadits hasan kurang kuat hafalannya dibandingkan dengan rawi pada hadits shahih, namun rawi pada hadits hasan masih dikenal sebagai orang yang jujur dan selamat dari perbuatan dusta.

Untuk selanjutnya jika kemudian ternyata rawi yang kurang dhabith tersebut dikenal sebagai orang yang jujur, serta terdapat sanad atau riwayat lain yang serupa atau lebih dhabith, atau hal-hal yang dapat menutupi kekurangannya, maka hadits hasan ini naik menjadi “shahih”, namun dengan sebutan lain yaitu shahih lighairih (menjadi shahih karena ada yang mendukungnya).

Pengertian adil dalam periwayatan adalah:

  • Selalu memelihara perbuatan taat dan menjauhi perbuatan maksiat
  • Menjauhi dosa-dosa kecil yang dapat menodai agama, menjaga akhlaq yang mulia
  • Tidak melakukan perkara-perkara mubah yang dapat menggugurkan iman kepada kadar penyesalan.
  • Tidak mengikuti pendapat salah satu mazhab yang bertentangan dengan dasar syara’.

Dapat juga disimpulkan bahwa adil di sini adalah sikap berpegang teguh kepada pedoman adab-adab syari’at.

Ada kalanya kita mendengar hadits hasan shahih, istilah ini adalah menurut At Tirmidzi yang menurut beberapa pendapat memiliki tiga maksud:

  1. Menurut Ibnu Shalah berarti bahwa hadits ini mempunyai dua sanad, yang mana sanad pertama adalah bernilai hasan dan sanad kedua shahih.
  2. Pendapat lain mengatakan bahwa sebenarnya antara kedua kalimat itu terdapat huruf penghubung yang terbuang, yaitu “au” (yang berarti: “atau”). Sehingga dibaca “hasan au shahih”. Hadits tersebut sebenarnya hanya mempunyai satu sanad saja, namun para ulama menilainya berlainan, sebagian ulama menilai hasan dan sebagian lagi menilai shahih. Jadi hadits tersebut bernilai shahih, namun karena terdapat ulama lain yang menurunkan nilainya menjadi hasan, maka kekuatan hadits tersebut menjadi di bawah shahih. Sebab hadits shahih itu harus tegas nilainya, tidak boleh ada yang meragukan kredibilitas hukumnya atau menurunkan nilainya.

Kalau hadits yang dinilai hasan shahih tersebut adalah bukan hadits fard, maka hal itu berarti bahwa hadits tersebut mempunyai dua sanad, yakni yang satu shahih dan yang lain hasan. Jika demikian hadits hasan shahih itu nilainya lebih tinggi daripada hadits shahih. Karena hadits yang mempunyai sanad banyak itu dapat bertambah kuat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: