Kedudukan As Sunnah Terhadap Al Qur’an

28 Agu

Al-hadits atau as-sunnah adalah penafsiran terhadap ajaran Al Qur’an. Ia merupakan implementasi realistis serta ideal dalam Islam. Kepribadian Nabi Muhammad saw. adalah merupakan pengejawantahan Al Qur’an dalam sebuah ajaran Islam.

Sebagaimana hal ini pernah disampaikan oleh Ummul Mu’minin ‘Aisyah ra, tatkala ditanya tentang budi pekerti Rasulullah saw., ia menjawab:

Budi pekertinya adalah Al Qur’an” (HR. Muslim)

Para sahabat telah bersepakat menetapkan wajib ittiba’ terhadap al-hadits, baik tatkala Rasulullah saw masih hidup ataupun sesudahnya. Sehingga al-hadits adalah sebagai pedoman hidup atau sumber hukum setelah Al Qur’an, dan sama sekali tidak boleh diingkari kedudukannya.

Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah” (Al Hasyr: 7)

Begitu penting kedudukan al hadits sampai-sampai Rasululah saw. memberi penghargaan khusus kepada para periwayat dan pengajar hadits.

Rasulullah saw. berdo’a: “Ya Allah, rahmatilah khalifahku”. Wahai Rasulullah, siapakah khalifah tuan? Tanya kami. “Yaitu orang yang meriwayatkan hadits-haditsku dan mengajarkannya kepada manusia”. (HR At-Thabrani)

Adapun kedudukan al hadits terhadap Al Qur’an adalah:

  • Sebagai fungsi untuk menetapkan dan menguatkan Al Qur’an. Sehingga akan didapati hukum yang memiliki dua sumber sekaligus, yaitu dalil yang terdapat dalam Al Qur’an dan dalil penguat yang terdapat dalam hadits nabi saw.
  • Memberikan perincian atau menjelaskan penafsiran ayat-ayat Al Qur’an yang bersifat mujmal (umum), atau memberikan taqyid (syarat) terhadap hal-hal yang muthlaq dalam Al Qur’an, atau memberikan takhshih (pengkhususan) terhadap ayat Al Qur’an yang ‘am (umum).

“Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”. (An Nahl: 44)

Maka akan didapati penjelasan tentang tata cara shalat, membayar zakat, ibadah hajji, dan sebagainya dalam hadits-hadits Nabi saw.

  • Menetapkan hukum yang tidak didapati dalam Al Qur’an.

 

Dalam al hadits telah termaktub ajaran yang bersifat:

  • Universal (syumuliyah), yaitu mencakup seluruh lapangan kehidupan manusia beserta dimensinya: ruh/hati, akal dan jasadnya serta dalam dimensi waktu: dahulu, kini ataupun mendatang, juga petunjuk hubungan vertikal (Allah swt) dan horisontal yaitu alam seisinya.
  • Berimbang antara kebutuhan ruh dan tubuh, antara akal dan hati, antara dunia dan akhirat, antara teori dan praktik, antara yang nyata dan ghaib, antara kebebasan dan tanggung jawab, antara individu dan masyarakat, antara mengikuti dan berkreasi.
  • Mudah, sebagaimana hadits: “Sesungguhnya Allah tidaklah mengutusku untuk menyulitkan dan mencari-cari kesulitan, tetapi Dia mengutusku untuk mengajar dan memudahkan” (HR Muslim)

 

As Sunnah adalah referensi kedua setelah Al Qur’an, ia juga merupakan sumber petunjuk kedua yang tetap akan terpelihara. Petunjuk itu akan terus mengalir ke dalam lapangan syari’ah, hukum dan fiqh, da’wah, pendidikan dan melandasi seluruh sektor kehidupan manusia. Mempelajari ilmu-ilmu hadits merupakan bagian tak terpisahkan dengan integralitas ajaran Islam. Imam Syafi’i berkata: “Demi umurku, soal ilmu hadits ini termasuk tiang agama yang paling kokoh dan keyakinan yang paling teguh. Tidak digemari untuk menyiarkannya selain orang-orang yang jujur lagi taqwa”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: