Apakah itu hadits marfu’?

29 Agu

Pengertian marfu’ itu sendiri berarti yang diangkat, yang dimajukan, yang diambil, yang dirangkaikan, yang disampaikan. Dalam ilmu hadits, marfu’ adalah sabda atau perbuatan atau taqrir atau sifat yang disandarkan kepada Nabi saw. Dalam hadits marfu’ tidak dilihat apakah sanadnya bersambung ataukah terputus. Hadits marfu’ tidak selamanya bersambung sanadnya (muttashil). Terkadang sanad yang gugur itu adalah sahabat (mursal). Kadangkala yang gugur adalah seseorang setelah sahabat atau disebutkan seseorang yang tidak jelas (munqathi’). Kadang pula yang gugur itu dua orang atau lebih (mu’dhal). Maka hadits-hadits yang terdapat faktor keguguran ini menjadi dha’if, sekalipun marfu‘.

Dalam hadits marfu‘ yang berupa perkataan Nabi saw adalah seperti ucapan sahabat : “Aku pernah mendengar Nabi saw bersabda begini” atau “Rasulullah saw menuturkan kepada kami begini” atau sahabat lain berkata: “Rasulullah saw pernah bersabda demikian…” atau “Bersumber dari Nabi saw, sesungguhnya beliau pernah bersabda demikian …”

Marfu‘ yang berupa perbuatan adalah seperti ucapan seorang sahabat: “Aku pernah melihat Nabi saw melakukan begini..” atau seorang sahabat berkata: “Rasulullah saw pernah melakukan demikian ..”

Contoh marfu‘ yang berupa taqrir (persetujuan, penetapan): seorang sahabat berkata: “Aku pernah berbuat begini di hadapan Nabi saw” atau “Si Fulan pernah berbuat begini di hadapan Nabi saw, tanpa menyebutkan bahwa Nabi saw mengingkari perbuatan itu”. Jadi yang dikatakan marfu’ itu hanya dipandang dari segi matan saja, tanpa memperdulikan sanad. Adapun keadaan hadits marfu’ itu sendiri ada yang secara jelas lafadznya menyandarkan/menisbatkan kepada Nabi saw, dan ada pula yang lafadznya tidak jelas penyandarannya kepada beliau namun hadits tersebut mengandung muatan hukum yang dipastikan datangnya dari Nabi saw. Seperti hadits dari Umar ra, ia berkata: “Do’a itu terhenti antara langit dan bumi, tidak bisa naik sedikit pun  daripadanya sebelum dishalawatkan atas Nabi”. [1] Padahal yang mengetahui keadaan do’a tersebut hanya Nabi saw. Jika Umar ra dapat mengatakan demikian pastilah ia pernah mendapatkannya dari Nabi saw. Inilah yang dimaksud dengan marfu’ dalam penyandaran hukum.


[1] (HR Tirmidzi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: