Cerita Gempa Bumi Yogyakarta 2006

29 Agu

Sabtu, 27 Mei 2006, pukul 05.53 wib,  Daerah Istimewa Yogyakarta diguncang oleh gempa berkekuatan 5,9 SR versi BMG (sekarang BMKG) dengan pusat gempa 38 km selatan Yogyakarta di kedalaman 33 km di bawah muka air laut. Sedangkan versi  World Wide Seismic Network (WWSN) yang berpusat di Amerika, berkekuatan 6,2 Scala Richter, dan pusat gempa 27 km selatan Yogyakarta pada kedalaman 17 km atau pada koordinat 8,26 LS dan 110,33 BT. Ada pula versi Pusat Informasi Gempa Bumi USGS Amerika Serikat bahwa gempa itu memiliki kekuatan Mw 6,2 atau 5,6 Skala Ricther pada kedalaman 17,1 km dengan lokasi pusat gempa terletak di dekat pusat pantai pada koordinat 8,007 derajat LS 110, 286 derajat BT atau terletak pada posisi kurang lebih 25 km barat daya Yogyakarta dan sekitar 115 km selatan kota Semarang

Akibat gempa yang mengejutkan ini, dengan seketika sebanyak 27.000 rumah ambruk berantakan, ribuan jiwa melayang, korban luka-luka tak berbilang. Kerusakan kota Jogja pun mencapai 10 %. Gempa dahsyat ini tak hanya meruntuhkan materi, namun jiwa manusia turut tergoncang hebat.

 

Huru Hara Di Yogyakarta

Situasi tak terkendali pasca gempa dahsyat terjadi hampir satu jam akibat mencuat isu tsunami. Jalan-jalan di Bantul sejak pagi dipadati kendaraan dan massa yang panik berlarian penuh ketegangan. Mereka bergerak sesuai naluri tanpa menghiraukan keadaan sekelilingnya untuk mencari tempat yang dirasa aman, seperti daerah perbukitan di Gunung Sempu. Kendaraan mereka penuh dengan muatan orang; ada yang satu sepada motor dinaiki tiga orang bahkan ada yang ditambah dengan bayi-bayi mereka. Bahkan beberapa mereka ada yang hanya berlarian terus tanpa alas kaki. Sebagian dari mereka berhamburan menuju utara (Sleman) menyusuri Ring Road sehingga menjadi lautan manusia berlarian dalam satu arah.

Kepanikan dan hiruk pikuk ternyata tak hanya menggoncang Bantul, massa di Sleman justru berlarian menuju selatan karena mengira gempa dahsyat itu dari Merapi. Secara kebetulan Merapi saat itu sedang mengeluarkan awan panas dalam jumlah yang besar. Dari kecamatan Mlati kabupaten Sleman, warga keluar rumah dan berlarian menuju selatan menjauhi Merapi. Semua kepanikan itu terjadi karena saluran ponsel dan telepon serta listrik langsung mati, sehingga sulit mengakses informasi.

Puncak kepanikan massa di Sleman, terutama yang berada di jalan-jalan utama, terjadi setelah massa dari Bantul dan Kota berhamburan menuju Kaliurang, Muntilan, dan Magelang. Lampu-lampu kendaraan mereka dinyalakan sepanjang perjalanan, serta mengatakan, “Cepat lari! Ada tsunami”, “Air sudah sampai Kraton”, “Godean sudah habis”, dan sebagainya. Maka spontan banyak warga Sleman yang termakan isu itu, mereka ikut berlarian menuju tempat yang dirasa aman. Sehingga Sleman pun menjadi geger. Hampir setiap jalan keluar di wilayah Sleman menjadi sangat padat arus lalu lintas massa yang mengungsi.

Di Jl. Godean, ribuan warga yang berasal dari kecamatan Moyudan, Minggir, Godean, Gamping dan sebagian warga Kota, berlarian menuju bukit Menoreh. Arus lalu lintas yang hendak menuju ke Jogja di jalur itu tak diberi kesempatan, malah diharuskan membalik ke arah bukit Menoreh. Di Jl. Magelang, arus lalu lintas yang menuju ke Jogja dihadang oleh arus deras yang berlarian dari Jogja, sambil mengatakan gelombang tsunami sudah menuju Jogja. Kemudian di Jl. Solo dan Jl. Kaliurang juga tak berbeda kejadiannya. Di jalan Magelang, hampir tiga jam mulai jam 08.00, tak ada satu pun kendaraan yang menuju Jogja, semua membelok menuju Magelang. Tak mau ketinggalan kepanikan terjadi di banyak SPBU (POM Bensin) yang berubah menjadi antrian panjang kendaraan yang ingin segera diisi bahan bakarnya.

Kisah yang memilukan adalah para pasien yang sedang dirawat inap di beberapa Rumah Sakit ikut keluar dengan tertatih-tatih dengan infus masih melekat di tubuhnya, didampingi keluarganya. Malah ada pasien yang masih mengenakan pakaian operasi (bedah) yang berbentuk jubah putih itu, berusuha menaiki kendaraan bersama ibunya untuk ikut keluar. Di Bantul, ada seorang bapak yang mengalami patah tulang di kedua kakinya duduk bersandar pada tiang di pinggir jalan dan hanya bisa pasrah di tengah hiruk pikuk massa. Kedua matanya dipejamkan, tubuhnya terkulai lemas, dan ia hanya sendiri tanpa ada yang menemani, kecuali petugas kamerawan sebuah stasiun televisi swasta di Yogyakarta.

Di Klaten muncul isu bahwa tsunami sudah sampai Prambanan, maka ribuan orang pun beramai-ramai mengungsi dengan mengendarai truk, mobil, sepada motor, atau hanya lari tak tahu arah. Mereka menuju kota, lereng Merapi, sampai Delanggu bahkan Sukoharjo.

Itulah sebuah waktu dimana uang tidak berlaku, wajah cakep tak dihirau, hari yang mana hati menjadi bergetar (miris) oleh kekuatan dahsyat! Masya Allah. Hari itu logika seolah tidak berlaku, yang ada hanya histeria massa. Hari itu menjadi hari kepanikan dan telah merasuki jiwa manusia. Sebenarnya jika dinalar, ketinggian daratan di Kota Jogja adalah sekitar 150 meter di atas permukaan air laut dan berjarak lurus kurang lebih 30an kilometer, serta ada bukit memanjang di wilayah Bantul. Sehingga seandainya ada tsunami maka tak akan mencapai Kota Jogja apalagi sampai Sleman, bahkan untuk menjangkau Kota Bantul sekali pun. Sebagai pembanding tatkala gelombang tsunami setinggi belasan meter dan masuk ke daratan hingga 10 kilometer di Aceh Barat, hal ini terjadi karena kondisi topografi pantai di daerah tersebut landai, dan semakin jauh dari pantai maka akan semakin dangkal. Dengan demikian untuk membawa gelombang air laut selatan mencapai Kota Bantul yang jarak lurusnya dengan pantai selatan kurang lebih 20an kilometer, diperlukan kekuatan yang jauh lebih besar dari pada gempa di NAD dan Sumut pada tanggal 26 Desember 2004 yang lalu.

Kepanikan akibat gempa ini telah melanda seluruh warga di Yogyakarta, para guru dan murid, pengusaha dan buruh, pedagang, petani, pekerja kantor, dan sebagainya tanpa kecuali. Goncangan dahsyat menjelang pukul enam pagi itu membuat  banyak orang berpisah dengan sanak keluarganya. Banyak orang yang masih tidur, sedang mandi, buang air atau sedang apa saja terperanjat dan panik sehingga tanpa sadar telah melakukan langkah penyelamatan yang unik  Ada yang berlarian tanpa busana, ada yang berlari bukannya menuju pintu tapi malah menabrak tembok, ada yang ingin segera (maaf)  mengenakan celana namun secara reflek ia melindungi kepalanya dari reruntuhan, sehingga tanpa sadar celana dipakaikan di kepala.

Kisah lain, di wilayah kota Jogja ada seorang ibu tergoncang hatinya saat gempa yang sekonyong-konyong meruntuhkan rumah-rumah di sekitarnya, ia sempat menyaksikan bagaimana rumah-rumah itu bergoyang-goyang lalu runtuh. Lebih dari itu ia sempat melihat putranya tertimpa kayu di kepalanya diikuti kucuran darah. Putra kesayangannya saat itu masih bisa berteriak, “Ibuuu!” kemudian terhenti mendadak. “Nak, ucapkan “laa ilaaha illallah” nak!”, teriaknya. Dan ternyata putranya telah meninggal. Ia sangat terpukul dan tercengang luar biasa dengan peristiwa dahsyat itu seraya berucap, “Ya Allah apakah ini kiamat?, apakah saya ini masih hidup atau sudah  mati?”. Demikian itulah bahwa dalam kenyataannya akan banyak kejadian yang tak tertulis atau tidak terberitakan daripada yang pernah ditulis atau diberitakan.

Kenyataan menjadi semakin ngeri dengan adanya kabar sebagaimana telah diberitakan oleh beberapa media, di salah satu wilayah di Prambanan yang terdapat patahan sepanjang hampir 500 meter dengan lebar tanah menganga yang bervariasi antara  1 cm hingga 15 meter (bukan centi meter!), kemudian menelan beberapa rumah warga. Di Bantul -saat gempa pertama terjadi- tanah, sawah dan jalan beregerak bergelombang. Ada juga air sumur, air sawah muncrat (memancar) hingga ada yang setinggi 4 meter. Saat gempa terjadi, air sumur dan air sawah ada yang hilang meresap namun setelah itu memancar ke atas beserta lumpur dan pasir. Tembok memanjang di tepi-tepi jalan bergoyang seperti ular berjalan di air, kemudian roboh. Serta kisah-kisah bagaimana rumah-rumah dan bangunan-bangunan itu runtuh, dan sebagainya. Kisah-kisah tersebut begitu kerap terucap oleh banyak orang. Sesaat pasca gempa dahsyat pertama terjadi, warga Bantul sudah mulai resah akan datangnya tsunami. Tatkala isu tsunami itu mencuat maka rumah-rumah, pasar dan pertokoan menjadi banyak yang kosong ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya. Gempa dahsyat itu hampir-hampir melumpuhkan sendi-sendi kehidupan di Yogyakarta.

Ada yang menarik, beberapa saat pasca gempa dari seluruh stasiun radio di Yogyakarta hanya satu stasiun swasta yang masih bisa siaran, dan berubah menjadi liputan musibah langsung. Sebelum stasiun radio yang lain bisa mengudara, radio swasta ini pada setiap beritanya senantiasa ditunggu dan disimak oleh banyak orang. Kemudian setelah itu setiap orang menjadi sangat respek dengan berita-berita, dan mereka berubah menjadi sangat sensitif terhadap isu-isu. Seperti isu akan datangnya gempa yang lebih besar lagi, atau apa pun yang membawa bencana, membuat raut wajah banyak orang berubah pucat serta mendebarkan.

Di tengah gempa-gempa susulan yang menggelisahkan, di tengah suasana mencekam, banyak orang mencari teman perlindungan. Maka orang-orang yang tak pernah tegur sapa, orang-orang yang tak pernah mereka kenal kecuali saat itu tiba-tiba menjadi sangat akrab seolah dua bersaudara dan saling mencurahkan isi hatinya, bahkan kadangkala diselingi tangisan serta saling menasihati kesabaran.

Dishare dari : REST BLOG

2 Tanggapan to “Cerita Gempa Bumi Yogyakarta 2006”

  1. gandung 13/01/2013 pada 15:14 #

    saya warga jogja membenarkan kisah ini, memang sepert itu, bahkan masih banyak cerita-crita yg heboh lagi. saya jd menangis setiap teringat kejadian musibah masa itu…

    • nurahmad007 13/01/2013 pada 15:18 #

      terima kasih mas gandung, kami tak bermaksud membuat anda menangis. silakan mampir lagi🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: