PENGKHUSUSAN BAGI NABI SAW

29 Agu

Tidak semua yang diperbuat Nabi saw menjadi masyru’ atau disyari’atkan bagi seluruh manusia. Namun ada beberapa perbuatan beliau yang bersifat khusus dan tidak diperuntukkan kepada umatnya, yaitu seperti tentang diperbolehkannya beliau menikahi wanita lebih dari empat orang serta mengawini mereka tanpa memberikan maharnya. Hal ini tersebut di dalam Al Qur’an:

“..dan perempuan mu’min yang menyerahkan dirinya kepada Nabi (untuk dikawini tanpa mahar) kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mu’min.” (Al Ahzab: 50)

Kemudian tentang sebagian perbuatan beliau ketika hanya berkaitan dengan urusan keduniaan saja. Tatkala Rasulullah saw. kedatangan seorang sahabat yang tidak berhasil dalam penyerbukan putik kurma dan meminta penjelasan kepada beliau. Maka dijawabnya, “engkau lebih mengetahui urusan duniamu”.

Juga tatkala perang Badr Rasulullah saw hendak menempatkan pasukan kaum muslimin pada suatu tempat, yang kemudian ada seorang sahabat bernama Al Hubab bin Al Mundzir mempertanyakan lokasi yang dipilih Rasulullah saw tersebut, apakah hal itu merupakan wahyu atau pendapat pribadi beliau dalam rangka taktik perang. Beliau menjawab bahwa hal itu adalah siasat semata. Maka tatkala sahabat tersebut mengusulkan tempat yang lebih strategis, akhirnya beliau menyutujui dan segera memindahkan pasukan kaum muslimin ke tempat yang diusulkan sahabatnya.

Terdapat riwayat bahwa Nabi saw dalam beberapa kesempatan shalat sunnah dua rakaat sebelum shubuh, setelah itu beliau berbaring dengan memiringkan tubuhnya ke samping kanan[1]. Dan setelah itu ada keterangan dari ‘Aisyah ra, “Nabi saw berbaring seperti itu bukan untuk mencontohkan perbuatan sunnah, namun semata karena beliau lelah setelah sepanjang malam beribadah, sehingga beliau perlu istirahat sejenak“.[2]

Selain itu ada juga sebagian perbuatan beliau yang bersifat pribadi sebagai manusia, yang tidak menunjukkan kepada suatu tata cara tertentu. Beliau bukan malaikat, dan risalah yang dibawanya tidak menghapus sisi sifat kemanusiaan beliau sebagai seorang manusia biasa. Kadangkala sebagian perkataan atau perbuatan beliau tidak mengandung dimensi syari’at, seperti kesenangan beliau akan daging kambing bagian paha depan serta labu manis. Itu adalah perkara yang timbul dari kecenderungan pribadi yang didorong oleh karakter pribadi beliau. Maka jika ada seorang muslim yang tidak suka dengan daging kambing bagian paha depan, dan ia menyenangi daging bagian punggung atau paha belakang, maka itu tidak terlarang baginya.


[1] Dari Aisyah ra, ia berkata, “Nabi saw setiap kali beliau usai melakukan shalat dua rakaat sebelum shubuh, beliau berbaring pada sisi kanan belau”. (HR Bukhari dalam kitab at-Tahajjud, bab “adh-dhaj’ah ‘ala syaqqil-aiman ba’da rak’atai al-fajr”.

[2] Diriwayatkan oleh Abdurrazaq. Dalam mata rantai periwayatannya terdapat seorang perawi yang namanya tidak disebut dengan jelas. Lihat Fathul Bari, kitab at-Tahajjud, bab “man tahaddatsa ba’da rak’atain wa lam yadhthaji’.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: