Siapakah yang disebut sebagai sahabat Nabi saw?

29 Agu

Sahabat adalah orang yang pernah bertemu dengan Nabi saw, dalam keadaan Islam lagi iman, kemudian ia pun mati dalam keadaan Islam. Maka dengan definisi tersebut akan mudah untuk menjelaskan tentang kesahabatan seseorang dengan Nabi saw.

Orang-orang yang segenerasi dengan Nabi saw, mereka beriman dan Islam, namun belum pernah bertemu dengan beliau, seperti Najasyi serta orang yang bermaksud hendak bertemu beliau, tidak dikatakan sebagai sahabat.

Disamping itu seseorang dikatakan sebagai sahabat Nabi saw ataukah bukan, tidaklah selalu dikaitkan dengan apakah ia pernah meriwayatkan sebuah hadits atau tidak.

Kemudian jika ada seorang sahabat yang beinteraksi dengan Nabi saw namun belum pernah melihat fisik beliau, lantaran ia buta, maka tetaplah ia sebagai sahabat, seperti Ibnu ummi Maktum.

Jika ada seseorang yang pernah Islam dan bertemu serta bergaul dengan Nabi saw, namun kemudian mati dalam keadaan murtad, seperti Abdullah bin Jahsy dan Abdullah bin Khathai, maka bukan lagi dianggap sebagai sahabat.

Akan tetapi jika yang murtad tersebut kemudian kembali menjadi muslim, baik kembalinya itu tatkala Nabi saw masih hidup atau wafat, maka masih digolongkan sebagai sahabat. Seperti kisah Syas bin Qais yang pernah murtad, namun tatkala menghadap Abu Bakar ash Shidiq ia sebagai tawanan perang, kemudian menyatakan kembali ke Islam. Abu Bakar ash Shidiq menerimanya bahkan beliau menikahkan Syas bin Qais tersebut dengan saudara perempuan beliau.

Begitu pula anak-anak yang belum mencapai umur dewasa, mereka beriman dan Islam serta pernah bergaul bersama Nabi saw, maka tetap termasuk sebagai sahabat. Seperti kedua cucu beliau, Ibnu Zubair dsb.

Adapun tentang penerimaan riwayat atau hadits dari anak-anak, orang kafir dan orang fasik, para ulama hadits berbeda pendapat tentang sah atau tidaknya periwayatan hadits Nabi saw dari orang yang masih kafir atau di saat masih fasik. Namun disepakati penerimaannya jika periwayatan itu disampaikan setelah masuk Islam dan bertaubat. Untuk usia anak yang belum dewasa, mayoritas ulama menyepakati penerimaannya. Walapun ada perbedaan dalam menentukan umur anak tersebut. Namun rata-rata umur 5 tahun sudah dikatakan menginjak tamyiz, yakni tumbuh kepekaan dan mampu membedakan sesuatu yang tampak serupa.

Kemudian tentang apakah semua yang disebut sahabat tersebut memiliki kedudukan yang setara dalam penerimaan hadits? Semua sahabat, umumnya menerima hadits dari Nabi saw. Namun tentu saja mereka tak sederajat dalam mengetahui keadaan Nabi saw. Di antara mereka ada yang tinggal di kota, di dusun, berniaga, bertukang. Ada yang sering berada di kota, ada yang sering bepergian, ada yang terus menerus beribadat, tinggal di masjid karena mungkin belum memperoleh pekerjaan. Sementara itu Nabi saw pun tidak selalu mengadakan ceramah terbuka. Ceramah terbuka yang biasa beliau lakukan adalah khutbah Jum’at atau hari raya, dan beberapa kesempatan saja. Dalam hal ini ada riwayat dari Al Bukhari dari Ibnu Mas’ud, katanya, “Nabi saw selalu mencari waktu-waktu yang baik untuk memberikan pelajaran supaya kami tidak bosan kepadanya”. Lantaran inilah Masruq[1] berkata, “Saya banyak berada satu majelis dengan para sahabat. Maka ada di antara mereka ibarat kolam kecil yang hanya mencukupi untuk minum satu orang. Ada yang mencukupi dua orang dan ada pula yang tiada kering airnya untuk diminum oleh penduduk bumi”.

Selanjutnya untuk mengetahui bahwa seseorang pernah bertemu dengan Nabi saw, sehingga dengan itu si Fulan atau Fulanah dikatakan sebagai sahabat, tentu saja melalui penyelidikan berita yang mutawatir, yaitu berita yang diriwayatkan oleh sekian banyak orang yang tak mungkin mereka bersepakat dusta. Atau dari berita yang nilainya di bawah mutawatir namun kredibel. Jika dengan hal itu dapat diketahui bahwa  Fulan adalah sahabat Nabi saw, maka dari Fulan tersebut akan dapat pula diketahui siapa-siapa orang yang masuk dalam kategori sahabat.

Selain itu tabi’i yang tsiqah (bisa dipercaya), kemudian ia menerangkan tentang kesahabatan seseorang dengan Nabi saw, maka hal ini pun merupakan informasi yang sah untuk mengetahui sahabat.

Jika ada seseorang yang diakui keadilannya di zaman Nabi saw, kemudian ia mengaku sebagai sahabat Nabi saw, maka hal ini dianggap sah. Selama pengakuan orang (sahabat) tersebut jarak waktunya tidak lebih dari seratus tahun dari wafatnya Nabi saw. Adil yang dimaksud adalah memenuhi keadaan:

  • Bahwa orang tersebut harus Islam. Karenanya periwayatan dari seorang kafir tidak dapat diterima.
  • Setelah itu Mukallaf, yaitu seseorang yang memiliki usia dewasa, mampu membedakan benar dan salah, sehingga periwayatan hadits dari anak kecil tidak bisa diterima.
  • Kemudian orang tersebut harus selamat dari hal-hal yang menjatuhkan kepribadiannya. Sehingga dengan demikian orang tersebut harus populer atau dikenal sebagai:
    • Orang yang memelihara ketaatan dan menjauhi maksiat;
    • Selalu berpedoman pada adab-adab syari’at;
    • Menjauhi dosa-dosa kecil yang dapat menodai agama dan sopan santun; Tidak gemar dengan perkara-perkara yang mubah yang dapat menodai muru’ah (keperwiraan) atau mengakibatkan penyesalan, seperti makan di jalan umum, buang air kecil tidak pada tempat yang semestinya, bergurau berlebihan, dan sebagainya;
    • Tidak mengikuti pendapat salah satu madzhab yang bertentangan dengan syara’.

[1] Seorang tabi’i besar. Nama lengkapnya Masruq ibn Al Ajda’ Al Hamdani Al Kufy. Umar menukar nama Al Ajda’ dengan Abdurrahman. Beliau terkenal keahliannya dalm mengendarai unta, wafat tahun 63 H.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: