Sunnah Berdimensi Hukum dan yang Bukan

29 Agu

Dalam sunnah terdapat dua keadaan, yaitu sunnah yang berdimensi sebagai syari’at yang harus diikuti, dan sunnah yang tidak berdimensi syari’at. Akan tetapi, walaupun ada sunnah yang tidak berdimensi sebagai syari’at (sumber hukum) ini, serta kemudian seseorang berusaha melakukan perbuatan itu untuk mencontoh Rasulullah saw, serta sebagai ungkapan rasa cinta kepada beliau, berarti ia telah melakukan kebaikan dan meraih pahala.

Selain itu ada juga keadaan sunnah yang bersifat universal dan general serta sunnah yang tidak bersifat seperti itu. Untuk membedakan dua keadaan tersebut diperlukan sikap yang adil dan moderat serta kemampuan pengetahuan yang cukup tentang Al Qur’an dan As Sunnah. Jika dilihat jalan kehidupan Rasullulah saw, akan didapatkan keadaan:

  • Kehidupan beliau yang berkaitan dengan kebutuhan manusia seperti makan, minum, duduk, tidur, berjalan, bertetangga, menyelesaikan perselisihan di antara dua orang dengan cara yang biasa dipergunakan manusia, memberi pertolongan dan melakukan transaksi dalam jual beli.
  • Kehidupan beliau yang berkaitan dengan pengalaman dan kebiasaan individu atau masyarakat, seperti bercocok tanam, pengobatan, dan panjang pendeknya pakaian.
  • Sisi kehidupan beliau yang berkaitan dengan strategi manusiawi yang berkaitan dengan suatu situasi dan kondisi tertentu, seperti pembagian tentara dalam medan peperangan, mengatur barisan dalam satu tempat, bersembunyi, berlari, mundur, memilih tempat singgah, dan hal-hal lainnya yang ditentukan oleh situasi dan kondisi tertentu.

Peri kehidupan (sunnah-sunnah) beliau tersebut akan kita dapati dalam perbuatan dan sabda beliau, yang mana hal itu bisa berdimensi sebagai syari’at ataupun dapat termasuk dalam kategori perilaku sehari-hari sebagai manusia. Sebagaimana sabdanya, “Jika aku memerintahkan sesuatu kepada kalian tentang agamamu, maka ambillah; dan jika aku perintahkan kalian tentang sesuatu dari pendapatku sendiri, maka aku hanyalah seorang manusia“. (HR Muslim).[1]

Di sini harus kita pahami bahwa, jika keadaan sunnah tersebut terdapat redaksional atau petunjuk suatu tuntunan atau hukum, maka petunjuk itulah yang patut diikuti. Maka dalam hal ini bagi kita yang belum mampu ber-istinbat[2], sebaiknya perpedoman pada buku-buku atau pendapat para ulama.

Kemudian untuk sunnah yang mengandung syari’at, terdapat juga keadaan sebagai berikut:

  • Sunnah yang disampaikan oleh Nabi saw, dalam kapasitas beliau sebagai penyampai risalah, seperti menjelaskan yang masih general dalam Al Qur’an, mengkhususkan yang umum, mengikat yang mutlak, menjelaskan satu segi ibadah atau tentang halal dan haram, tentang aqidah, akhlaq, atau suatu hal yang berkaitan dengan hal-hal tersebut.

Maka sunnah seperti ini adalah syari’at yang berlaku secara umum hingga hari kiamat dan jika ada sesuatu yang dilarang, maka semua orang agar menjauhinya, semenjak ia mengetahui hukumnya dan mendapatkannya.

  • Sunnah yang disampaikan oleh Nabi saw dalam kapasitas beliau sebagai pemimpin umum bagi masyarakat Islam, seperti mengirim tentara untuk berperang, membelanjakan harta baitul mal (kas negara) sesuai fungsinya dan mengumpulkannya dari berbagai sumber-sumbernya, melakukan pengadilan, membagi rampasan perang, mengikat perjanjian dan hal-hal lain yang menjadi urusan pemimpin, dan strategi pencapaian kemaslahatan masyarakat.

Maka sunnah semacam ini bukanlah syari’at yang berlaku secara umum. Ia tidak boleh dilakukan kecuali dengan izin pemimpin. Juga seseorang tidak boleh melakukan sesuatu dari perbuatan itu dengan spontanitas dari dirinya saja dengan dalih karena Nabi saw telah melakukannya atau memerintahkannya.

  • Sunnah yang dilakukan oleh Nabi saw dalam kapasitas beliau sebagai hakim/qadli. Karena disamping sebagai rasul penyampai risalah dari Rabbnya, serta pemimpin tertinggi umat Islam yang mengatur kehidupan dan strategi politik mereka, beliau juga berperan sebagai seorang hakim yang memberikan kata putus dalam perkara-perkara dengan mengajukan bukti, sumpah, atau pengingkaran.

[1] Hadits nomor 2362

[2] Mengambil kesimpulan atau mengeluarkan hukum dari dalil-dalil dan qaidah-qaidah yang ditetapkan agama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: