ATENSI PARA PENCARI HADITS

31 Agu

Tak diragukan lagi begitu antusiasnya para pencari berita di kalangan para sahabat, dan generasi sesudahnya, sepeninggal Nabi saw. Mereka adalah generasi yang  proaktif dalam menjaga sunnah-sunnah Nabi saw yang begitu mereka cintai dan kemudian menghimpunnya dalam bentuk lembaran atau tulisan maupun hafalan.

Para pemburu berita (para rawi) tidak hanya berpuas diri mencari hadits (berita) di negeri sendiri, atau dari satu kota saja. Baik kota yang dekat maupun kota yang jauh. Walaupun sebenarnya para ulama pada saat itu lebih mengutamakan mencari hadits di negeri sendiri, namun mereka dengan gigih bersedia mengadakan perjalanan jauh hanya untuk meyakinkan para ulama sesamanya. Dalam perjalanan mereka itu bermaksud mendapatkan sanad yang tinggi, dan lebih dahulu mendengar. Kemudian juga dimaksudkan untuk bertemu dengan para penghafal hadits dan menimba ilmu kepada mereka. Hal-hal seperti itulah yang mendorong mereka untuk mengadakan perjalanan ke negeri lain, jika di negeri sendiri tak didapatkan. Mereka begitu mendambakan perlawatan mencari hadits, sehingga bisa dikatakan sebagai pengembara atau pengelana riwayat (hadits), untuk mendapatkan ilmu dari sumber pertama.

Upaya pencarian ilmu secara langsung (lisan) telah dimulai pada abad pertama Hijriyah. Abu Darda’, seorang sahabat besar, mengatakan, “Andaikan aku menemui kesulitan memahami ayat dari Kitabullah, padahal tidak ada yang dapat membantu mmecahkannya kecuali seorang yang menetap di Birk al-Ghimad, tentu aku akan pergi ke sana”.[1]

Sahabat Jabir bin Abdullah (78 H) membeli seekor unta, yang dipacunya menuju Syam selama sebulan, hanya untuk menemui Abdullah bin Unais dan bertanya tentang hadits yang menyangkut tentang qishash.

Sa’id bin Al Musayyab (105 H) juga pernah berkata, “Sungguh, aku rela pergi berhari-hari dan bermalam-malam hanya untuk mencari sebuah hadits”.

Yang lain lagi misalnya Abu Qalabah (104 H) menyampaikan, “Aku pernah tinggal selama tiga hari di Madinah, dengan keperluan tak lain hanya untuk bertemu dengan seseorang yang memiliki hadits dan bersedia menceritakannya padaku”.

Begitulah masih banyak kisah para perawi yang mencari hadits, hingga ada yang mendatangi kota Basrah sebanyak delapan belas kali, sebagaimana yang dilakukkan Abdan, hanya untuk mendengar hadits-hadits yang diriwayatkan oleh penduduk kota itu dan yang hanya dimiliki oleh Ayyub.[2]

Begitulah, walaupun sejumlah kitab hadits telah disusun, namun perjalanan mencari ilmu masih tetap dirasakan perlu. Kitab-kitab itu memang bisa menjadi jalan pintas bagi mereka yang tidak ingin bersusah payah dan suka serampangan. Tetapi oranng-orang yang memuliakan ilmu dan ingin menemukan kebenaran tentu tak akan merasa puas hanya dengan membaca kitab-kitab yang ada. Rasa ingin tahu itulah yang senantiasa menggoda orang-orang yang tamak ilmu, dan tetap melakukan perjalanan mencari hadits ke berbagai wilayah di mana sumber-sumber periwayatan bisa didapatkan.

Mereka benar-benar merupakan generasi yang komitmen dan penjaga sunnah Rasulullah saw yang luar biasa. Mereka berpetualang ke segenap penjuru untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan untuk menjaga sunnah ini. Julukan sebagai pengembara hadits bagi mereka juga tidak salah. Tak tanggung-tangung apa yang mereka lakukan itu. Perjalanan mereka memang berbeda-beda tempat, tujuan dan waktunya. Ada yang berusia 15 dan 20 tahun, ada yang dengan bersusah payah, ada yang perjalanannya itu terus bertanbah jauh, ada yang terus mencari hadits hingga berpuluh-puluh tahun lamanya.[3] Mereka melakukannya dengan menanggung berbagai kepayahan, mencari hadits, sedikit atau banyak, mengembara dari timur hingga barat. Dan kadang mereka juga harus mengelilingi penjuru timur dan barat itu hingga berkali-kali.

Aktivitas mereka sedemikian gencar dalam melakukan interaksi sosial di wilayah-wilayah perluasan Islam, membaur atau penyatuan kultur di berbagai kota atau negara. Apa akibat yang ditimbulkan dari perilaku para pencari hadits ini? Tentu saja terjadilah proses integrasi, pengokohan hubungan di antara negara-negara Islam di dunia. Pengembaraan mereka terbukti mempererat jalinan timur dan barat. Penyebaran Islam juga semakin meluas melalui hadits-hadits yang mereka sampaikan ke penjuru negara itu. Hadits-hadits yang telah menyebar itu mengundang penelusuran atau penyelidikan pada sanad dan matannya. Sehingga justru dengan itu terjadi penyatuan nash bahkan juga tasyri’ atau pesan dari hadits tersebut.

Dari hadits-hadits yang mulai menyebar ke berbagai penjuru dan ramai menjadi pembicaraan banyak orang itu, mengalir menjadi suatu tema atau topik tertentu dari suatu hadits yang menarik hati mereka, menjadi buah bibir atau populer di kalangan manusia. Hal ini terjadi karena hadits adalah sesuatu yang baru dalam dunia mereka, utamanya yang baru mengenal Islam. Misalnya hadits tentang “innamal a’malu binniyat…” bahwa sesungguhnya segala amal itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.

Hadits tersebut sering menjadi penghias kitab-kitab yang beredar pada masa  itu. Bahkan Imam Bukhari berpesan, “Barangsiapa yang hendak menyusun sebuah kitab, hendaknya ia memulai dengan hadits niat tersebut”.[4] Dan Imam Bukhari telah menjadikan hadits tersebut pada pembuka kitab Shahih-nya. Abdurrahman bin Mahdi (198 H) juga berpesan, “Seseorang yang hendak mengarang kitab ilmu, sebaiknya memulai dengan hadits ini”.

Akhirnya para pembaca menemukan hadits niat  menjadi pembuka pada banyak kitab hadits dengan redaksi yang hampir seluruhnya sama. Dengan itulah segera terkesan seolah-olah hadits tersebut mutawatir, seolah diriwayatkan banyak sekali oleh orang yang menerimanya. Padahal rawi pertamanya hanya dari seorang, yaitu Umar ra, kemudian diterima oleh seorang pula yaitu Al Qamah, dari Al Qamah juga hanya diterima seorang pula yaitu Muhammad, dan dari Muhammad ini diteruskan oleh seorang yaitu Yahya bin Sa’id. Jadi hadits ini tidak mutawatir, karena diriwayatkan oleh Umar ra sendirian. Hadits ini sebelumnya juga hanya dikenal di Madinah saja, kemudian menjadi populer dibicarakan di penjuru kota.

Demikian itulah bahwa perjalanan mencari hadits itu berpengaruh bagi penyatuan nash (teks) hadits dan mengubah warnanya dari kedaerahan tempat asalnya, ke warna umum yang universal, padahal sebelumnya riwayat tersebut berasal (diriwayatkan) dari satu daerah saja atau hadits lokal, yang sangat mungkin terjadi perbedaan dalam ungkapan sesuai dengan perawi di daerahnya. Namun perbedaan periwayatan itu sedikit demi sedikit mulai melebur ke dalam satu acuan. Dan akhirnya para pembaca atau pendengar akhirnya menganggap sebagai periwayatan satu sumber saja yang sebelumnya datang dari berbagai sumber.

Para pencari hadits telah bekerja menghabiskan waktunya untuk hal itu dan kemudian melakukan penelitian yang mendalam, menyaring serta menilai suatu hadits kemudian menghukuminya, sehingga mereka menjadi populer akan ketelitian dan keluasan ilmunya, menjadi rujukan dan pusat pembelajaran di kalangan umatnya dan akhirnya menempatkannya sebagai pemimpin hadits atau imam. Keadaan ini melahirkan banyak ulama atau imam hadits. Mereka lahir bukan saja dari jerih payah perjuangannya, namun juga tuntutan umat Islam pada zamannya yang haus akan ilmu-ilmu agama dan sunah Rasulullah saw, baik di wilayah-wilayah baru dari perluasan Islam maupun kota-kota lama di Arab. Sunah atau hadits Nabi saw pada zaman itu melahirkan budaya ilmiah baru, pemikiran baru serta melahirkan tokoh-tokoh baru  pula.

Kedaan tersebut tetap saja harus dikritisi dalam penyebarluasan hadits, sebab bisa saja terjadi kelalaian atau ketidaktelitian dari kalangan ulama hadits dikarenakan faktor-faktor tertentu. Seperti mengejar popularitas, ketergesa-gesaan dalam penelitian sehingga menjadikan derajat suatu hadits tidak akurat. Hal ini menjadikan suatu hadits tidak bisa dinilai shahih atau baik, maka jika terdapat ulama atau imam yang berlaku demikian maka ia akan dituduh sebagai seorang imam atau ahli hadits serampangan dalam periwayatan yang dikeluarkannya. Sebagaimana Imam Ahmad pernah menilai Ibnu Luhai’ah (-174 H), seorang ahli hadits dari Mesir juga seorang imam besar serta sebagai hakim negeri itu, adalah sebagai perawi gegabah dalam menerima periwayatan. Demikian pula pendapat Adz Dzahabi[5] menilai hadits-hadits Ibn Luhai’ah tidak bisa digunakan sebagai hujah.


[1] Birk al-Ghimad adalah nama sebuah tempat di tepi laut, sejauh lima hari perjalanan dari Mekah. Nama Abu Darda’ sebenarnya adalah Uwaimir bin Zaid, wafat pada tahun 32 H.

[2] Abdan adalah Ahmad bin Musa al-Juwaliqi (306 H). Sedangkan Ayyub adalah Ayyub bin Kiesan as-Sakhtiyani (131 H) seorang ulama besar dan terpercaya.

[3] Sebagaimana yang dilakukan Abu Thahir as-Silfi Imaduddin Ahmad bin Muhammad al-Ashbahani al-Jarwani, seorang penghafal hadits dan guru besar Islam yang alim, wafat tahun 576 H.

[4] Al Jami’ li akhlaq ar rawi 10/193, I.

[5] Adz Dzahabi adalah al-Hafidz Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad  bin Usman bin Qimaz at-Turkamani al-Fariqi, wafat 748 H.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: