UNSUR HADITS

31 Agu

Dalam kaidah umum, suatu berita akan memiliki kredibilitas jika memiliki unsur: Apa (what), siapa (who), mengapa (why), kapan (when), di mana (where), dan bagaimana (How). Maka di dalam ilmu hadits pun suatu berita/hadits yang datang harus memenuhi unsur-unsur tersebut. Kemudian untuk mendapatkan kredibilitasnya, ilmu hadits akan melakukan pemeriksaan dan pembuktian (verifikasi) pada unsur-unsur tersebut yang meliputi: Pembawa Berita; Materi Berita; Sandaran Berita.

Ilmu-ilmu hadits tersebut sangat penting diketahui untuk meneliti suatu berita (hadits), apalagi jika  berita tersebut menyandarkan kepada Rasulullah saw. Terlebih lagi bagi kita di zaman sekarang yang sudah sangat jauh dengan zaman Nabi saw. maka berita dari beliau kepada kita telah melalui banyak sekali keterlibatan manusia di dalamnya. Kalau di zaman Nabi saw. berita-berita dari beliau yang disampaikan kembali oleh para sahabat, maka para penerima hadits tidak akan menanyakan tentang keabsahan berita tersebut. Mereka tak perlu menguji si pembawa berita, materi berita serta sandaran beritanya, karena sangat percaya dengan keadilan (ketaqwaan) para sahabat Nabi saw. tersebut.

Namun pada perkembangan dari generasi ke generasi berikutnya setelah Nabi saw. wafat, hadits-hadits Nabi saw. tersebut telah banyak yang dipalsukan, bercampur dengan fatwa-fatwa, kata-kata  tambahan, dan sebagainya. Hingga akhirnya para ulama hadits menerapkan suatu kaidah-kaidah standar serta menciptakan istilah-istilah untuk menguji kekuatan atau kebenaran suatu hadits (uji material) agar kaum muslimin serta manusia pada umumnya terjaga dari bahaya kepalsuan berita atas nama agama.

 

Ada pun unsur-unsur yang mesti ada dalam suatu hadits meliputi:

Rawi

Rawi adalah orang yang menyampaikan (atau menuliskan dalam suatu kitab) apa-apa yang pernah didengar dan diterimanya dari seseorang (gurunya). Aktivitas dalam menyampaikan suatu hadits/berita tersebut dinamakan me-rawi-kan atau meriwayatkan hadits.

Matan

Matan adalah isi atau materi berita yang disampaikan oleh sanad terakhir. Materi berita itu berupa:

  • Ucapan atau sabda Rasulullah saw., sahabat ataupun tabi’in;
  • Bisa juga berisi tentang perbuatan Nabi (menceritakan perbuatan Nabi saw);
  • Maupun perbuatan sahabat yang tidak disanggah oleh Nabi saw.

Matan bisa juga berarti susunan kata-kata atau redaksi dari suatu hadits.

Sanad

Sanad berarti sandaran atau jalan (thariq), yaitu jalan yang menghubungkan matan hadits dari Nabi Muhammad saw. sampai kepada Mukharrij atau Mudawwin (orang yang mengumpulkan / mengeluarkan hadits, seperti Bukhari, Muslim, dll.). Dalam hal ini seseorang yang meriwayatkan suatu hadits menyandarkan beritanya kepada rawi sebelumnya yaitu pada orang dimana ia menerima berita tersebut. Jadi sanad merupakan sandaran berita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: