ADAKAH YANG “DISORIENTASI” DALAM PERIWAYATAN?

2 Sep

Bukan suatu hal yang mustahil, di tengah-tengah orang-orang beramai-ramai dan antusias dalam menerima dan mengabarkan riwayat-riwayat, kemudian terdapat segelintir pencari hadits yang melakukan “dis-orientasi” dalam periwayatan. Yaitu bukan lagi karena keinginan menjaga sunnah Nabi saw, namun ada orientasi duniawi lainnya.

Namun barangkali istilah tersebut kurang tepat, walaupun memang ada yang berperilaku yang kurang terpuji dalam periwayatan yang dilakukan oleh sebagian kecil orang. Sebutlah Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’ad, ia hafal hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, yang memuat sabda Nabi saw yang melarang mandi di air yang tidak mengalir apabila tercemar dengan najis. Dan ia hanya mau menceritakan hadits tersebut jika mau dibayar satu dinar.[1] Juga Abu Na’im al-Fadl bin Dakkin, ia seorang imam dan penghafal hadits yang terpercaya. Namun dalam urusan periwayatan hadits, ia selalu mengaitkannya dengan harta. Ali bin Ja’far bin Khalid, salah seorang muridnya, berkata, “Kami berkali-kali menemui Abu Na’im al-Fadlil bin Dakkin al-Qurasyi untuk mencatat hadits darinya, tapi kemudian ia mengambil bayaran beberapa dirham dari kami. Bila dirham yang kami serahkan rusak, ia minta untuk ditukar”.[2]

Kita boleh prihatin sebab pada saat itu sudah mulai ada komersialisasi terhadap periwayatan hadits. Namun tetap saja ada yang mengoreksi para pelaku “disorientasi” dalam periwayatan tersebut, hingga kemudian ada nasihat seperti Syu’bah bin al-Hajjaj agar tidak menulis sesuatupun riwayat dari orang miskin.[3] Dan juga nasihat dari para ulama lain yang mewanti-wanti, “Hai anak cucu Adam! Ajarkanlah ilmu dengan cuma-cuma, sebagaimana Anda juga mendapatkannya dengan gratis pula”.[4] Imam Ahmad ketika ditanyai pendapatnya tentang komersialisasi hadits ia menjawab, “Aku tidak setuju! Orang semacam itu sungguh tidak memiliki kemuliaan”. [5]

Mungkinkah faktor kemiskinan menjadi alasan bagi para periwayat itu melakukan komersialisasi hadits? Mungkin saja, meskipun secara lahiriyah tampak serakah, namun mereka itu bukanlah para pendusta atau pemalsu hadits. Mereka mungkin saja sebagai orang-orang yang terpercaya dalam periwayatan, namun harta telah menguasainya. Namun seseorang juga harus adil dalam menanggapi hal ini, sebab kita bisa lihat latar belakang mereka mengapa mau melakukan hal itu. Lihatlah bagaimana mereka telah bersusah payah menempuh perjalanan yang jauh, berhari-hari hingga hitungan tahun, dengan berbagai rintangan yang tak sedikit. Mereka pun kadang harus meninggalkan sanak keluarga yang dicintai. Namun kesulitan dan mara bahaya tidak mengendurkan semangat mereka. Berapa banyak harta dan tenaga yang telah mereka tumpahkan untuk perlawatan tersebut. Panasnya gurun dan terpaan gelombang lautan sebagai wujud jihad mencari ilmu dan menjaga sunnah Nabi saw hingga di ujung kematian, telah merasuki jiwa mereka dan telah disiapkannya. Oleh karenanya menanggapi hal ini serahkan saja urusannya kepada Allah, dengan begitu lebih nyaman untuk dirasakan serta tidak salah menvonis mereka yang telah berjuang menjaga sunnah.

Selain komersialisasi juga ada motivasi kemasyhuran yang ingin diraih seseorang. Ketika tahun berganti tahun, generasi beralih ke generasi, maka lain pula perilaku para pencari riwayat (hadits). Pada awalnya perjalanan mencari hadits adalah murni perjalanan ilmiah, kemudian menjadi perjalanan biasa untuk mencari popularitas. Ada saja orang yang mengadakan perlawatan hadits namun bukan untuk mengamalkan isinya, melainkan agar namanya tercantum ke dalam deretan mata rantai sanad. Namun hal ini hanya mungkin terjadi pada hadits-hadits yang kurang terkenal. Peristiwa ini terjadi pada abad ketiga hingga abad kelima Hijriyah. Dan inilah yang membuat para ulama resah, hingga mereka melakukan berbagai upaya untuk mengatasinya.


[1] Dalam sunan an-Nasa’i dengan syarah asy-Suyuthi I/49 dan al-Kifayah, 156

[2] Al Kifayah, 156

[3] Al Kifayah, 156

[4] Al Kifayah, 153,154

[5] Al Kifayah, 54

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: