VERIFIKASI DAN KRITIK TERHADAP HADITS

5 Sep

Kira-kira pada pertengahan abad pertama Hijriyah, dalam kehidupan para sahabat, sudah ada langkah-langkah kritis terhadap penerimaan hadits tersebut. Para ulama yang menerima hadits akan membandingkannya dengan hadits-hadits yang telah dihafalnya, baik yang dihafal oleh dirinya atau dengan yang telah dihafal para sahabat lainnya. Mereka sangat teliti dan saling menjaga sunnah Nabi saw tersebut dalam suasana kehidupan berjama’ah yang tegak di atasnya tawashau bil haq (saling berwasiat dalam kebenaran). Dan sunnah adalah sesuatu yang haq yang mesti mereka jaga. Jika datang suatu hadits yang ternyata selaras dengan hafalan mereka, maka diterima, namun jika hadits yang datang itu nyleneh atau bertentangan maka pasti ditolaknya.

Kritik hadits pasti akan mengarah kepada penyelidikan atas pembawa berita (rawi) baik mengenai biografinya dan kepribadiannya. Menyelidiki kepribadiannya berarti harus mengetahui integritas atau kejujuran dan kekuatan hafalannya, ketelitian atau kehati-hatiannya serta paham yang dianutnya. Jika ia seorang dari ahlu sunnah maka haditsnya diterima, jika ia ahli bid’ah akan ditolak. Dalam ilmu mushthalah hadits, kritik terhadap kepribadian rawi ini disebut Naqd Isnad.

Sikap kritis berikutnya mengarah ke sanad, yang dalam hal ini para ulama akan mempertanyakan tentang siapa saja yang terlibat dalam rentetan para rawi atau kepada siapa saja berita tersebut disandarkan, hingga sampai kepada Nabi saw. Di sini nantinya akan terdeteksi apakah terputus ataukah bersambung haditsnya. Sekaligus akan terungkap integritas para rawi yang terlibat periwayatan tersebut. Dan berikutnya hadits tersebut akan dicocokkan atau dibandingkan dengan hadits dihafal (mahfudz).

Dengan demikian sikap kritis tersebut akan menghasilkan proses kritik terhadap matan serta kritik terhadap sanadnya. Dalam ilmu musthalah hadits kritik terhadap isi hadits (matan) disebut dengan Naqd Matan. Namun tentu saja pada masa tersebut verikasi terhadap hadits itu hanya meliputi matan dan sanad saja. Sebab waktu tersebut baru merupakan periode perlawatan hadits, sehingga yang dominan terbatas pada penelitian terhadap sanad (tahap/periode periwayatan). Karena zaman tersebut pengumpulan dan penyusunan hadits sedang menjadi kebutuhan atau prioritas. Walaupun tetap saja ada penelitian terhadap kandungan hadits (matan) untuk menangkal kemunculan hadits-hadits palsu sesegera mungkin. Adapun penelitian tentang sanad, sudah barang tentu selain meneliti mata rantainya, juga akan membahas juga perilaku para rawi yang terlibat di dalamnya. Karena memang itulah unsur sebuah berita (hadits) yaitu rawi, matan dan sanad. Dan yang menjadi obyek bahasan juga seputar tiga hal tersebut.

Kemudian setelah itu, tahap berikutnya, yang termasuk diteliti dan disaring adalah persoalan sikap dari para rawi (tahap/periode verifikasi). Karena ada juga muncul sikap-sikap yang menggampangkan penerimaan riwayat. Sikap kritis tersebut diserukan oleh Abu Bakar Ahmad[1]. Saya kutipkan saja dalam mukadimah kitabnya Al Kifayah fi Ilmi Riwayah: “Ada segolongan orang zaman kita yang mengerahkan segenap kemampuannya untuk menulis hadits, namun tidak dengan cara-cara yang lazim dilakukan orang-orang terdahulu dan tidak mempertimbangkan keadaan perawi dan yang diriwayatkan dengan cara pada orang-orang terdahulu. Mereka tidak membedakan cara yang buruk dan cara yang baik, tidak bersandar kepada hukum-hukum yang terdapat dalam hadits. Mereka hanya puas mendapatkan hadits saja dan sekedar menuliskan ke dalam lembaran-lembaran catatan hadits. Mereka itu orang-orang bodoh yang suka pamer dengan kitab-kitab. Padahal mereka telah menanggung berbagai kesulitan dan pengorbanan dalam perlawatannya. Hingga penampilan mereka menjadi menyedihkan, rambut kusut, muka pucat dan kelaparan. Dan sayang sekali mereka menerima hadits dari orang yang diragukan kejujurannya dan dari hadits yang tidak bisa dipertanggungjawabkan keshahihannya. Mereka bertemu dengan orang yang tak bisa membaca catatannya sendiri dan tak memenuhi syarat riwayat sedikitpun, tak bisa membedakan hadits musnad, mursal, maqthu’ dan muttashil. Mereka juga tak hafal nama gurunya yang telah menceritakan hadits tertentu kepadanya. mereka juga mencatat riwayat dari orang-orang yang melakukan perbuatan fasik dan bid’ah agama. Mereka hanya menganggap bahwa tindakannya mencatat riwayat sudah benar dan mengamalkannya adalah wajib.”[2]

Begitulah bahwa kadangkala keshalihan dan kezuhudan seseorang tidak menjamin kebenaran periwayatan yang dikeluarkannya lantaran ia kurang teliti dalam penerimaan riwayat sebelumnya. Mu’alla bin Hilal adalah orang yang zuhud dan shalih, ahli ibadah yang shalatnya tak kurang dari seratus raka’at per harinya. Namun ditolak riwayatnya lantaran banyak meriwayatkan hadits gharib (ganjil, diriwayatkan sendirian).[3]


[1] Beliau lebih dikenal dengan Al Khatib al-Baghdadi (1463 H)

[2] Al Kifayah, 3, 4

[3] Al Jami’ li Akhlaq ar-Rawi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: