SIKAP ULAMA TERHADAP HADITS GHARIB

10 Sep

Hadits gharib adalah hadits yang di dalam mata rantai sanadnya terdapat seorang rawi yang menyendiri dalam periwayatannya, namun juga kadangkala ada gharib (asing/menyendiri) dalam matannya. Keadaan demikian tentu saja mengundang berbagai pertanyaan oleh para peneliti hadits dan menjadikan hadits tersebut rentan terhadap kritik, sehingga perlu argumen yang kuat untuk mempertahankannya. Tak jarang hasilnya pun akan berbuah pro dan kontra akan keabsahannya untuk dijadikan hujah. Para ulama yang kritis lebih menyukai riwayat hadits masyhur.
Jika para ulama hadits sedang berkumpul, mereka tidak menyukai seseorang yang mengeluarkan hadits yang “menarik perhatian”, yaitu hadits yang dalam artian kontroversial, yang tak lain adalah hadits gharib. Menurut mereka hadits gharib yang tidak terkenal atau tidak “menarik perhatian” itu dianggap lebih baik daripada hadits masyhur yang terkenal. Karena menurut pandangan kaum awam yang biasanya menganggap hebat sesuatu yang belum mereka ketahui. Sehingga kadangkala hadits terbaik yang dipamerkan itu sebenarnya hadits gharib yang kontroversial, yang mengundang perhatian orang.
Syu’bah bin Hajjaj pernah ditanya tentang mengapa ia tidak meriwayatkan hadits dari seseorang yang haditsnya bagus. Maka ia menjawab, “Justru karena bagus itulah, aku menghindarinya”. Jadi menghindari penyampaian hadits gharib, itulah ungkapan yang pas berkenaan dengan sikap para ulama karena khawatir akan pemalsuan yang dilakukan para perawi hadits gharib dan munkar , baik disengaja ataupun tidak. Karena rawi yang seperti itulah yang banyak kemungkinan melakukan pemalsuan dibandingkan dengan ahli hadits yang lain. Mereka menempuh bermacam kesulitan dalam pencarian hadits, namun mereka mementingkan keghariban hadits dan mengesampingkan keshahihannya. Mereka bangga dengan kelangkaan isi berita daripada kesinambungan sanad. Seolah dengan itu ia menjadi bermartabat tinggi di depan khalayak populer di mata kaum awam.
Hal-hal seperti itulah yang dihindari oleh para imam dan ulama-ulama hadits, dan mengkritik keadilan mereka dan menempatkannya dalam ke tuduhan dusta. Imam Abu Hanifah sempat melontarkan, “Barangsiapa mencari hadits gharib, ia akan didustai”.
Memang sifat para pemalsu hadits itu suka membanggakan diri dan pamer, gemar mencari perhatian orang. Untuk hal itu mereka mengaku pernah bertemu dengan seorang perawi hadits dan mendengarkan riwayatnya. Ada juga yang menyebut hadits yang diriwayatkanya berderajat hasan, padahal tidaklah demikian.
Jika demikian bagaimanakah proses verifikasi hadits tersebut, apakah pernah bertemu langsung dengan pihak-pihak yang tertuduh pendusta itu, dan berdialog langsung?
Pernah ada kisah begini, Ufair bin Ma’dan al-Kala’i bercerita: “Pada suatu hari Umar bin Musa datang menemui kami yang sedang berkumpul di masjid. Lalu ia berbicara, “Guru kalian yang shalih menceritakan kepadaku … ”
Ketika ia sedang berbicara panjang lebar, aku bertanya, “Siapa yang Anda maksud dengan guru kami yang shalih itu? Tolong sebutkan agar kami tahu!”
Ia menjawab, “Khalid bin Ma’dan”.
Aku bertanya, “Tahun berapa Anda bertemu dengannya?”
Ia menjawab, “Aku bertemu dengannya pada tahun 108 H”.
Aku bertanya, “Di mana?”
Ia menjawab, “Aku bertemu dengannya dalam suatu pertempuran di Armenia”.
Mendengar jawaban itu, aku berkata lagi kepadanya, “Takutlah kepada Allah, jangan berdusta! Khalid bin Ma’dan meninggal pada tahun 104, sedangkan Anda menngaku bertemu dengannya empat tahun sesudah kematiannya. Lagi pula, ia tidak ikut dalam pertempuran di Armenia! Ia ikut berperang melawan pasukan Romawi”.
Jika demikian halnya, maka pantaslah kalau para kritikus hadits mensyaratkan pengenalan terhadap tokoh-tokoh yang mencakup latar belakang dan sejarah kehidupannya. Sehingga memang menarik dan cukup ilmiah dari apa yang telah dilakukan oleh para ulama penjaga sunnah itu. Sekalipun tak ada sebuah lembaga verifikasi secara formal, namun proses itu sudah cukup logis, selektif dan efektif.
Demikian juga apa yang telah dilakukan oleh Sufyan ats-Tsauri (61 H), ia memakai metode sejarah untuk menangkal kedustaan mereka. Kadang para kritikus hadits menggunakan batas geografis untuk menyingkap aib para pendusta. Ketika mereka menyebutkan sanad yang memuat tokoh-tokoh yang banyak melakukan perlawatan dan penjelajahan ke berbagai tempat, mereka membatasi pada nama-nama mereka berdasarkan nama negeri tempat mereka menceritakan hadits.
Tak hanya itu, faktor akhlaq juga akan menentukan diterima atau ditolaknya suatu hadits. Orang-orang yang suka berbicara kotor, suka mengumpat akan dihindari oleh para ahli hadits dan riwayat darinya akan ditinggalkan. Syu’bah telah menahan empat ratus hadits di dalam dadanya, dan tak akan menceritakannya kepada siapapun, lantaran sang pembawa berita hadits-hadits tersebut pernah mengumpat, menjelek-jelekan pribadi seorang muslim. Sikap menjelek-jelekkan seorang muslim karena jengkel merupakan kebodohan dan akan merusak sifat keadilannya.
Karena itu sikap seorang rawi harus berakhlaq mulia serta mengerti tata krama dan sopan santun. Selain itu diperlukan metode pendidikan dan pengajaran tertentu yang membedakannya dari para ulama lain, baik dari generasi terdahulu maupun yang belakangan, di timur atau barat.
Memang harus diakui pernah terdapat komersialisasi hadits dan mencari popularitas oleh para pengembara riwayat. Namun jauh lebih banyak yang dilakukan karena mencari ridha Allah swt, sedangkan pengetahuannya tentang sunnah sangatlah luas. Di setiap waktu dan tempat mereka lebih banyak mencari hadits dengan diam-diam serta rendah hati. Mereka inilah yang justru amat besar pengaruhnya, sehingga mustahil untuk disia-siakan atau dilupakan sejarah.

Satu Tanggapan to “SIKAP ULAMA TERHADAP HADITS GHARIB”

Trackbacks/Pingbacks

  1. Memikirkan Ulang “One Day One Juz” dan Evaluasinya | I love life, life loves me. - 18/08/2014

    […] sebuah penjelasan (https://nurahmad007.wordpress.com), menurut Tirmidzi, hadits hasan gharib adalah hasan (bagus) secara sanad dan tidak dikenal/asing […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s