JALAN MENUJU HIJRAH

19 Sep

Dzulhijjah, bulan di penghujung tahun Hijriyah merupakan bulan Muharram (bulan yang dimuliakan) dalam syari’at Islam. Banyak hikmah yang harus dicatat oleh kaum muslimin untuk kemudian dapat dijadikan referensi beramal menuju perubahan pada tahun depannya. Di bulan Dzulhijjah ini Allah swt menjadikannya sebagai hari-hari yang dicintai-Nya.

 “Tidak ada hari-hari baik yang di dalamnya lebih dicinta Allah daripada hari-hari (sepuluh hari bulan Dzulhijjah) ini”. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bukan jihad di jalan Allah?” Jawab beliau, “Bukan jihad di jalan Allah kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya, kemudian ia tidak kembali dengan mendapatkan semua itu sedikitpun” (HR. Bukhari)

Puasa di hari-hari yang mulia ini disunahkan, dan Allah melipatgandakan pahala amal ibadah di hari-hari tersebut. Di antara momentum penting di bulan Dzulhijjah adalah ibadah haji. Ia adalah ibadah yang merupakan ketentuan Allah swt yang tak boleh terlewatkan. Ia juga merupakah salah satu rukun atau pilar dalam syari’at Islam yang wajib ditegakkan oleh setiap muslim yang mampu. Meniadakan azam untuk menjalankan ibadah ini termasuk dari amrodlul qolbi (penyakit hati).

Adapun catatan penting dalam Dzulhijjah adalah:

HIKMAH TAZKIYAH (PENYUCIAN JIWA)

 Hal ini telah diimplementasikan dalam manasik haji. Mereka yang berhaji telah menghiasi diri dengan akhlaq yang mulia, berangkat berbekal taqwa dan kebaikan. Mereka telah siap meninggalkan dunia bahkan meninggal dunia. Selama manasik mereka tidak melakukan rafats (omong kotor), fusuq (durhaka), dan jidal (pertengkaran). Selama menjalani ibadah itu mereka membekali diri dengan ikhlas dan sabar. (Al Baqarah: 197)

 Tak seorangpun memprotes mengapa ia harus berputar tujuh kali mengitari ka’bah, berlari-lari kecil di antara Shafa dan Marwa. Tak keberatan berpanas-panas di padang Arafah, kemudian pada malamnya yang lelah mereka harus singgah di Muzdalifah sambil memungut batu-batu kecil untuk melempar jumrah pada waktu shubuhnya. Itu semua aturan yang ditetapkan Allah swt, dan mereka begitu pasrah dan patuh. Demikian itu terjadi dari kesucian jiwa yang melahirkan sikap sabar dalam ibadah.

Dalam peristiwa wuquf di Arafah, lautan manusia di tengah padang pasir dengan busana serba putih, sungguh mengingatkan kita semua akan hari berbangkit dari alam qubur di padang mahsyar kelak, yaitu di hari perhitungan. Semua manusia dibangkitkan sejak Adam as hingga manusia terakhir. Semua akan mempertanggungjawabkan amalnya dihadapan Allah Yang Maha Mengadili. Tak ada yang bisa disembunyikan, tak ada yang luput dari perhitunganNya.

“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan  terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun”. (Al Kahfi: 49)

Itulah hikmah tazkiyah yang telah digapai oleh sebagian kaum muslimin yang telah menunaikan ibadah haji dan juga hikmah bagi seluruh kaum muslimin

HIKMAH UBUDIYAH

Di bulan Dzulhijjah telah bergema takbir, tahlil dan tahmid, dikumandangkan berulang-ulang oleh kaum muslimin. Mereka membesarkan nama Allah karena memang Dia-lah yang paling pantas diAgungkan dan diMahabesarkan. Tahlil merupakan ikrar penghambaan hanya kepada Allah semata, laa ilaaha illalLah, bahwa tiada dzat yang pantas disembah kecuali hanya Allah swt. Ikrar tersebut menegaskan kembali akan pengakuan (syahadah) manusia dengan Allah swt tatkala di alam ruh.

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,” (Al A’raf: 172)

 Kaum muslimin pun bertahmid walillahil hamd yang merupakan pujian kepada Allah, karena memang Dia-lah tempat kembali segala pujian. Semua kalimat yang telah mereka kumandangkan tersebut telah dicatat olehNya sebagai pahala bagi mereka. Lantunan talbiyah oleh jama’ah haji labbaik Allahumma labbaik, labbaika laa syarika laka labbaik. Innal hamda wanni’mata laka wal mulk laa syarikalak”. Labbaik, merupakan kesiapsiagaan memenuni panggilan Allah, dan laa syariikalak, merupakan ikrar totalitas penghambaan, murni bertauhid kepada Nya saja secara penuh.

 Semua bentuk pengahambaan dan ubudiyah tersebut terjadi di bulan Dzulhijjah.

HIKMAH WIHDATUL UMMAH

Bisa kita katakan, Dzulhijjah adalah bulan persatuan umat Islam sedunia. Dalam manasik haji hal ini telah divisualisasaikan secara jelas. Dalam ibadah penyembelihan binatang kurban yang dirayakan oleh kaum muslimin di seantero dunia telah menunjukkan kesatuan umat. Hari itu kesetaraan dan hubungan sosial menjadi rekat dan nyata dalam kesatuan rasa dan kesatuan makna.

Demikian itu karena Islam adalah agama kesatuan: kesatuan aqidah, kesatuan perasaan dan kesatuan risalah bahkan kesatuan wilayah.

 “Sesungguhnya agama tauhid ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” (Al Anbiya’: 92)

 HIKMAH TADLHIYYAH (PENGORBANAN)

Di bulan Dzulhijjah kaum muslimin menapak tilas kisah pengorbanan Nabi Ibrahim as. Pada mulanya beliau menempatkan istrinya Hajar dan putranya Ismail di sebuah lembah Hijaz yang merupakan padang nan tandus. Kemudian karena perintah Allah, beliau harus ke Palestina untuk menebarkan risalah Islam dan membangun tempat ibadah (ma’bad) yang sekarang menjadi Masjid Al Aqsha. Karena perintah ini, maka ia harus meninggalkan istri dan anaknya di padang tandus tersebut.  Istrinya pun merelakan kepergian suaminya karena Allah. Namun Allah memberkahi ibu dan anak ini dengan dikeluarkannya mata air zam-zam. Dalam beberapa kurun waktu kepergian sang ayah, Hajar dan anaknya, Ismail, berjuang mencukupi kebutuhan mereka sendiri. Hingga suatu saat tempat bersejarah itu dido’akan oleh Nabi Ibrahim as:

“Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian.” (Al Baqarah :126)

Doa beliaupun dikabulkan dan sekarang padang Hijaz tersebut kita kenal dengan Makah Al Mukaromah. Seluruh kaum muslimin pun menapaktilas perjuangan keluarga ini.

Ujian pengorbanan Nabi Ibrahim pun belum selesai. Allah memerintahkan untuk menyembelih putranya di saat ia pada usia sanggup berusaha. Sebagaimana firmanNya:

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!

Ia menjawab:

 “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar…” (Ash Shaffat: 102 -107)

Perintah untuk menyembelih putranya hanyalah ujian. Sekali pun diamalkan dengan berat hati, namun dilakukannya karena Allah. Ikhlas itu tidaklah semata-mata dilihat dari berat atau ringan dalam beramal, namun dilihat apakah karena Allah atau tidak. Walaupun berat namun jika dilakukan karena Allah, maka itulah ikhlas. Keikhlasan seperti ini membutuhkan kesabaran. Ikhlas dan sabar itulah pengorbanan.

Dalam mengamalkan perintah Allah ini pun Nabi Ibrahim dihadang oleh setan yang dengan berbagai cara dan bujuk rayu agar Ibrahim membatalkan niatnya. Namun keluarga Ibrahim justru melempari setan tersebut karena mereka bukanlah tipe keluarga yang suka mengundang setan di saat dilanda berbagai kesulitan. Mereka adalah keluarga yang menjauhkan setan dari setiap aktivitas kehidupannya, kemudian Allah menggantinya dengan kemuliaan dan keberkahan. Nabi Ibrahim pun telah melahirkan para Nabi, beliau adalah bapaknya para Nabi, bapak peradaban.

Bahwasanya perintah Allah itu kadangkala dalam pandangan manusia memberatkan, seolah membawa kesengsaraan dan kesulitan. Namun setelah ditaati dan dijalankan ternyata mendapatkan berkah dunia dan akhirat. Sebaliknya segala bentuk kemusyrikan atau ajakan setan, hanya akan menjadikan kita semakin terpuruk dalam berbagai musibah. Sesungguhnya syirik itu tidaklah semata urusan spiritual, namun syirik adalah aktivitas memubadzirkan bahkan melecehkan akal. Maka kita lihat banyak sekali di negeri kita ini akal sehat berjatuhan dan berceceran di makam-makam, di tempat-tempat angker atau terbakar melengket bersama dupa dan kemenyan. Jika setiap penemuan, setiap problematika dihadapi dengan syirik, maka tidak mengherankan jika dalam teknologi kita tertinggal 100 tahun dengan Jepang dan tertinggal 50 tahun dengan Pakistan.

Kaum muslimin memiliki peradaban yang lebih mulia dari peradaban mana pun, dan Nabi Ibrahim telah mengajarkan serta mewariskan sikap berjihad dan berkorban dari generasi ke generasi. Berjihad dan berkorban adalah dua rangkaian yang tak terpisahkan untuk memajukan suatu bangsa dan peradaban.

Demikianlah bahwa, bulan Dzulhijjah telah dipersiapkan untuk kaum muslimin dengan berbagai hikmah dan barokah sebagai catatan dan jalan ma’rifah menuju tahun baru hijrah. Jalan-jalan ma’rifah tersebut menunjuk kepada al haq yang akan menyingkirkan kebatilan dan keterpurukan menuju kejayaan. Tanpa ma’rifah ini dipastikan kita hanya mendapati kebuntuan, salah jalan atau ketertipuan. Sehingga perubahan tahun demi tahun hanyalah tanpa makna bahkan hanya hura-hura.

Bagi kita kaum muslimin, tahun baru bukanlah pesta-pesta.

Namun tahun baru adalah tahun bertambahnya hijrah seseorang.

Baik hijrah dalam sisi ruhaniyah maupun amaliyah.

Hijrah dari segala kekotoran hati dan perilaku menuju kesucian jiwa.

Hijrah dari ketidakpedulian menuju kepekaan dan kepedulian

Hijrah dari perpecahan dan ‘ashobiyah (fanatisme kesukuan) menuju kesatuan umat.

Hijrah dari segala bentuk kemusyrikan menuju tauhid.

Hijrah dari kemalasan menuju tadlhiyyah sebagai akselerator dan dinamisator peradaban.

Satu Tanggapan to “JALAN MENUJU HIJRAH”

  1. hidayat nomor wahid 19/09/2012 pada 21:06 #

    masak sih kita ketinggal 100 tahun dng jepang… itu artnya kita butuh 100 th untuk mengejar teknologi jepang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: