TANDA HAJI MABRUR

29 Sep

Segala amal ibadah seorang muslim akan diterima Allah s.w.t selama dijalani dengan niat yang lurus dan sesuai tuntunan. Demikian juga kemabruran haji dapat diupayakan oleh setiap muslim yang berhaji ke tanah suci. Haji yang mabrur adalah haji yang diterima oleh Allah s.w.t lantaran dilaksanakan dengan sempurna yang memenuhi semua syarat dan rukunnya, sebagaimana tersebut dalam surah al Baqarah : 197:
“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, fusuq (berbuat fasik) dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.”
Rafats adalah bersebadan atau hal-hal yang mengarah kepada hubungan seksual, baik berupa ucapan maupun perbuatan kepada istrinya. Adapun fusuq adalah perbuatan maksiyat, melanggar perintah Allah, mencela orang lain, mempersembahkan sesuatu kepada berhala, atau segala bentuk kedurhakaan kepada Allah s.w.t. Sedangkan jidal adalah pertengkaran, berbantah-bantahan, debat kusir, dan sebagainya, yang semua mengarah kepada permusuhan.
Haji yang mabrur mendapat ampunan atas dosa-dosanya.
“Barangsiapa yang melakukan ibadah haji karena Allah, kemudian tidak berkata kotor dan tidak melakukan perbuatan fasiq/durhaka, ia akan pulang tanpa dosa sebagaimana ketika ia dilahirkan ibunya”. (HR Muttafaq ‘alaih).
Adapun tanda kemabruran haji seseorang dapat dilihat pada ciri-cirinya sebagaimana berikut:
1. Ibadah haji dilakukan dengan niat ikhlas karena Allah, bukan karena gengsi, untuk status sosial atau niat keliru lainnya.
2. Biaya haji berasal dari harta yang halal dan tidak bercampur dengan harta haram, karena akan merusak pahala hajinya sehingga menjadi mardud (tertolak Allah).
3. Menafkahkan hartanya dengan ikhlas, lapang dada dan sesuai dengan kemampuannya, tidak berlebihan dan tidak kikir.
4. Berlaku sabar serta tabah selama ibadah haji. Setiap jama’ah seharusnya berlaku demikian dalam menghadapi berbagai macam kesusahan dan ujian selama haji dengan berharapp pahala besar atas semua cobaan yang dialaminya.
5. Bersikap tawadlu’ (rendah hati) dan khusyu’, tidak merasa sombong atau takabur.
6. Berperilaku baik selama haji. Seorang yang sedang melakukan manasik harus selalu sopan santun, lembut dan kasih sayang sesama jamaah lainnya.
7. Bersyukur kepada Allah s.w.t. atas semua nikmat dan karuniaNya. Mengharapkan untuk dirinya sendiri dan jamaah lain agar bisa kembali ke tanah suci. Semua perbincangan dengan kawan dan sanak saudara hendaknya berkisar kepada hal-hal yang mendorong untuk pergi ke tanah suci. Adapun jamaah haji yang suka berkeluh kesah selama menjalani ibadah haji dikhawatirkan tidak mabrur hajinya bahkan bisa menghalangi orang lain untuk berniat ke tanah suci.
8. Meyakini bahwa ibadah hajinya akan diterima Allah s.w.t. Seseorang yang melaksanakan manasik haji selayaknya memiliki keyakinan bahwa ibadahnya akan diterima oleh Allah s.w.t dan semua keinginannya akan diistijabahi atau dikabulkan.
9. Memelihara semua kebaikan yang telah ia usahakan selama haji. Ia memulai hidup baru setelah haji dengan berbagai amal kebaikan yang menambah keyakinan dan keimanannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: