AKTIVIS DAKWAH YANG ANGKUH

3 Okt

Sikap angkuh baik dilakukan dengan sadar ataupun tidak, baik sudah merupakan sikap bawaan ataupun temporal, akan menjadi sebuah penampilan yang tak sedap dipandang maupun dirasakan oleh siapapun. Keangkuhan bagi aktivis dakwah bisa jadi dikarenakan porsi beban/amanah yang over load, sehingga ia tak mampu mengatasi dengan kelapangan dan kecerahan jiwanya. Atau mungkin jiwanya tak mampu menyesuaikan dengan kondisi beban/amanah yang ia emban. Mungkin karena bukan kafa-ah (potensi)nya, mungkin juga situasi dan kondisi yang belum saatnya, belum siap ia menerima amanah tersebut. Atau mungkin dirinya lupa bahwa tidak seharusnya ia menyajikan sikap angkuh.

Jika keramahtamahan adalah merupakan daya tarik seorang da’i atau pemimpin, maka keangkuhan merupakan daya tolak orang lain terhadap dirinya. Bahkan bisa jadi seseorang menolak misi dakwahnya lantaran sikap tak perdulinya tersebut. Rasulullah saw pada awal dakwahnya ditolak misi dakwahnya oleh orang-orang musyrik Quraisy. Namun mereka tak pernah menafikan kepribadian Muhammad saw yang agung dalam akhlaqnya. Orang-orang Quraisy sangat mengakui bagusnya akhlaq beliau dalam segala hal, seperti keramahannya, kejujuran, keadilannya, amanahnya juga kepeduliannya serta perhatiannya terhadap orang lain yang sangat tinggi. Orang-orang Quraisy menolak misi dakwahnya lantaran gengsi martabat mereka.

Hal ini bisa menjadi renungan bagi para aktivis dakwah, bahwa betapa mulia dan agungnya Rasulullah saw dalam akhlaqnya namun ada saja yang menolak ajakannya. Lantas bagaimana jadinya dengan para aktifis dakwah yang tak menjunjung tinggi nilai-nilai kepedulian terhadap pihak lain? Keberhasilan macam apakah yang hendak diharapkan jika pribadinya saja tak menarik serta kemudian menyajikan misi dakwah yang tidak semua orang suka menerimanya? Angkuh adalah ketidakpedulian terhadap yang lain, menolak intervensi, masukan pihak lain karena dianggapnya mengganggu atau menambah beban pikiran. Inilah ketimpangan yang harus dibuang dan menggantikannya dengan keagungan akhlaq Islam, yang di sana banyak sekali opsi yang bisa dipilih untuk dijadikan sikap dan perilaku yang indah.

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma`afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Ali Imran:159)

Keangkuhan bisa dilunturkan dengan memberikan tutur kata yang baik, dan pemberian sesuatu yang baik kepada saudaranya merupakan shodaqoh.

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Nabi saw., bersabda, “Bertutur kata yang baik adalah shodaqoh”. (HR Bukhari dan Muslim).

Tidak sempurna iman salah seorang (kamu), kecuali mencintai saudaranya sesama muslim sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR Bukahri dan Muslim)

Orang yang paling jauh dari Allah swt ialah orang-orang yang keras hatinya”. (HR Tirmidzi)

Bentuk keangkuhan dalam dialog adalah mengabaikan atau menolak sama sekali pendapat orang lain terutama yang dipandangnya sebagai yuniornya. Ia lupa bahwa syari’at Islam menyambut hadirnya segala sesuatu yang melahirkan maslahat dan manfaat dari manapun datangnya, yang mana hal ini disebut dengan hikmah. Karena hikmah adalah barang hilang milik orang yang beriman. Barangsiapa mendapatkannya, ia adalah orang yang paling berhak atasnya. Bagi para aktivis dakwah sifat angkuh harus diganti dengan rifq (lemah lembut), dengan itulah para da’i memerintah dan mencegah, sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Tidaklah ada kelemahlembutan dalam sesuatu kecuali menghiasinya, dan tidaklah ada kekerasan dalam sesuatu kecuali membuatnya jelek.” (HR Muslim)

Sesungguhnya Allah itu Maha Lemah Lembut, Ia mencintai kelemahlembutan dalam segala hal. Ia memberi kepada kelembutan sesuatu yang tidak diberikan kepada kekerasan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Bentuk keangkuhan dan kekerasan dalam kepemimpinan adalah keluarnya perintah-perintah dan larangan yang tak berpijak pada aturan (manhaj) yang telah digariskan organisasi/jama’ah. Perintah dan larangan tersebut hanya berpijak pada keinginan hawa nafsu semata, mungkin karena geram, terburu-buru, khawatir berlebihan dan sebagainya dan kemudian mengeluarkan kebijakan yang tidak populer namun malah mengikat. Sikap seperti ini sungguh melecehkan organisasi/jama’ah. Mengapa? Karena segala daya upaya dan pengorbanan para kader jama’ah baik berupa harta, tenaga, pikiran sampai ada yang mengorbankan masa depannya bahkan nyawa, yang telah dicurahkan kepada jama’ah sebagai bentuk loyalitas kepada organisasi/jama’ah dalam menyelenggarakan musyawarah dari level bawah sampai nasional untuk membuat dan menetapkan aturan (manhaj) jama’ah/organisasi, namun tiba-tiba saja manhaj yang berharga sangat mahal itu dilupakan begitu saja hanya karena menuruti hawa nafsu.

Kepemimpinan semacam ini hanya mencitrakan muatan jama’ah seolah-olah sekedar kepada tiga hal yaitu: perintah, larangan serta hukuman. Muatan seperti ini sungguh rapuh dan rentan konflik. Karena telah meninggalkan tali ikatan yang sangat kuat, yaitu ikatan ukhuwwah Islamiyah, sebuah ikatan yang berangkat dari rasa mahabbah (cinta) dan persudaraan sesama muslim. Sebab ketaatan, kepercayaan dan pengorbanan seseorang adalah lahir dari sebuah kecintaan kepada yang dicintainya. Sebaik-baik jama’ah/organisasi adalah adanya sosok pemimpin yang mencintai anggota dan anggota yang mencintai pemimpinnya.

dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (Asy Syu’ara: 215)

Dari Auf bin Malik ra. Ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw. Bersabda: “Pemimpin yang bijaksana adalah yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian, kalian selalu mendo’akan atasnya dan ia selalu mendo’akan kalian. Pemimpin yang terjahat adalah yang kalian benci dan mereka membenci kalian, sedang kalian mengutuknya dan ia mengutuk kalian.” Kami bertanya, “Wahai Rasulullah saw, sebaiknya kita pecat saja mereka itu. “Beliau menjawab: “Jangan, selama ia masih mengerjakan shalat berjama’ah dengan kalian.” (HR Muslim)

Dari Iyadh bin Himar ra. Ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Penghuni surga itu terdiri dari tiga kelompok, yaitu: (1) Penguasa yang adil lagi disenangi, (2) orang yang mengasihi lagi lembut hati kepada sanak keluarga dan setiap muslim, (3) serta orang miskin yang menjaga kehormatan dirinya sedang ia mempunyai keluarga.” (HR Muslim)

Dari Abu Dzar ra., ia berkata: Rasulullah saw bersabda kepada saya, “Janganlah sekali-kali meremehkan perbuatan baik, walaupun menyambut saudaramu dengan muka ceria.” (HR Muslim).

Dengan demikian tak ada tempat bagi keangkuhan, atau sifat ingin selalu mendapatkan kemenangan dan kehormatan atas dirinya sendiri serta kekerasan dalam tubuh organisasi/jama’ah.

2 Tanggapan to “AKTIVIS DAKWAH YANG ANGKUH”

  1. good boy 10/10/2012 pada 22:03 #

    syukron.. ijin copy ya…

    • nurahmad007 12/10/2012 pada 10:59 #

      monggo, syukran sudah mampir, jangan kapok ya..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: