AKTIVIS DAKWAH YANG TEMPERAMENTAL

4 Okt

Temperamental yang dimaksud yaitu perasaan yang mudah sekali tergugah sebagai reaksi atas suatu masalah yang menimpanya. Fenomena ini kadangkala terlihat pada para pemuda atau remaja penggiat dakwah Islamiyah. Sifat temperamental tergambar dalam raut muka, tutur kata dan perilakunya serta biasanya sifat ini akan membawa pelakunya kepada overacting (aksi yang berlebihan). Sifat mudah marah, jengkel, terekspresikan dalam raut muka yang tidak menyenangkan, menakutkan sehingga pihak lain muncul perasaan khawatir atau terancam. Kadangkala muncul kesedihan yang mendalam, loyo (lemah kemauan) hingga memucatkan raut muka, lantas hal ini membuat pihak lain memutuskan untuk tidak melanjutkan persoalan yang terjadi serta membiarkannya menurut keadaan. Ataupun sikap gembira yang berlebihan yang semuanya terekspresikan ke dalam raut muka, kata-kata dan tingkah lakunya.
Akibat semua itu pihak lain yang bersangkutan merasa perlu untuk menjaga jarak karena tak menginginkan terjadi sesuatu yang membawa mudharat. Sifat ini adalah lawan dari waqur/sakinah (tenang) yang semestinya menjadi karakter dasar seorang aktivis dakwah. Temperamental (infi’aliyah) muncul dari kondisi kejiwaan yang tak terkendali yang kemudian menolak nasihat berharga baginya. Dirinya terdominasi oleh perasaan yang menyelimuti sebagai reaksi atas perkara yang sedang dihadapinya. Seolah-olah ia bertingkah di bawah alam sadarnya. Bisa saja temperamental adalah sifat bawaan atau akibat salah pendidikan dan salah perlakuan sejak masa kecilnya.
Jika saja seseorang yang bersikap temperamental masih dalam kesadaran dan pengendaliannya maka tidaklah mengapa, sebab di sana masih memungkinkan menerima nasihat atau dalam kontrol pihak lain. Hal ini merupakan sebuah kewajaran sebagai manusia yang lemah dan tempatnya kesalahan. Dari sinilah fungsi serta letak pentingnya “tawashou bil haq tawashou bish shobr” (Saling memberi nasihat dalam kebenaran dan nasihat untuk menetapi kesabaran), sehingga tidak terjadi gelap mata.
Islam memandang bahwa orang yang pandai (baca: kepandaian emosional dan spiritual) adalah mereka yang tidak larut dalam perasaan kejiwaannya, apapun yang terjadi, serta berwawasan ke masa depan yang sebenarnya (alam kubur dan akhirat)

Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan jiwanya serta beramal untuk hari setelah kematian” (HR Tirmidzi).
Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi`ar-syi`ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (Al Hajj: 32)

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw. Bersabda, “Apabila shalat sudah dimulai, janganlah kalian menghadirinya terburu-buru, tetapi datangilah dengan tenang. Apapun yang masih bisa kamu kejar dalam berjama’ah ikutilah, dan apa yang kurang, sempurnakanlah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata : Pada hari Arafah, ia turun bersama Nabi saw. Kemudian dari arah belakang beliau mendengar ada orang-orang yang memukuli untanya sambil membentak, sambil memberi isyarat dengan cambuknya, beliau bersabda, “Wahai sekalian manusia, ‘alaikum bis sakinah (seharusnya kalian senantiasa tenang (sakinah)! Sesungguhnya kebaikan itu bukan dengan menyia-nyiakan yang lain.” (HR Bukhari).

Dari Aisyah ra., ia berkata: “Saya tidak pernah melihat Rasulullah saw tertawa dengan bebas, sampai terlihat langit-langit mulutnya. Biasanya beliau hanya tersenyum.” ( HR. Bukhari dan Muslim)

Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (Al Furqan: 63)

Lantas bagaimana dengan sikap para sahabat Nabi saw. tatkala harus menerima klausul perjanjian Hudaibiyah yang para sahabat menganggapnya tidak adil? Para sahabat “ngembeg” bahkan Umar bin Khaththab menyodor-nyodorkan pedangnya kepada Abu Jandal agar mau membunuh Suhail. Hampir-hampir para sahabat tak mau menjalankan perintah Rasulullah saw. agar menyembelih binatang qurban.
Bagaimana pula dengan sikap Umar ra. ketika Rasulullah saw meninggal? Umar ra mengancam akan membunuh orang yang menyebarkan berita tersebut dan menuduhnya sebagai munafiq, padahal berita tersebut benar adanya. Bagaimana dengan kisah Musa as. ketika pulang dari bukit Tursina dan melihat kaumnya telah menyembah berhala buatan Samiri? Musa as. mendatangi Harun as. dengan marah besar serta memegang janggut dan kepalanya? “Wahai putra ibuku, janganlah kau pegang janggutku, jangan pula kepalaku.” (Thaha: 93). Dan masih banyak kisah tentang sikap-sikap para tauladan Islam terkait dengan pembahasan ini.
Sikap para sahabat dan Nabi Musa as tesebut bukanlah sikap gelap mata dan berlebihan. Mereka masih dalam kendali akal sehat, tidak larut dalam emosinya. Justru sikap-sikap seperti inilah merupakan ketinggian loyalitas seseorang kepada agamanya. Ini adalah ghirah, semangat yang berkobar yang tak ridha bahwa agama Allah swt direndahkan. Bahkan merupakan sikap tercela jika seseorang bersikap santai tatkala syari’at Allah dilecehkan di depan matanya. Yang penting adalah tetap adanya sistem kontrol, saling menasihati dalam kebenaran dan menetapi kesabaran, agar dakwah tidak menjadi kontra produktif hanya karena salah dalam pensikapan. Namun secara umum bahwa dakwah Islamiyah ini hendaknya didukung dengan sikap-sikap yang tenang, matang dan terencana oleh para kader-kadernya dan menjauhi sikap temperamental yang menjadikan obyek dakwah menjaga jarak dengan dakwah atau dengan jama’ah umat Islam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: