Jangan sebar aib saudaramu..

6 Okt

Menyebar aib saudara adalah perbuatan yang hina alias tidak bermartabat dalam pandangan agama kita. Apalagi penyebaran itu dilandasi unsur kebencian, atau ingin menjatuhkannya. Termasuk perkara aib dalam hal ini adalah tatkala saudara kita bermaksiyat atau melakukan perbuatan dosa namun dilakukannya secara tersembunyi, maka hal ini pun harus tetap kita rahasiakan. Mengapa demikian? Karena bisa jadi setelah itu tidak mengulanginya lagi, bahkan mungkin lebih dari itu ia bertaubat dan mengganti kesalahannya dengan perbuatan baik dan mulia. Sehingga jika seseorang sudah terburu-buru menyebarkan aibnya maka berarti telah menimpakan musibah terhadapnya.

“Jauhilah prasangka karena prasangka itu adalah berita paling dusta. Janganlah kalian mencari-cari berita orang lain, janganlah mencari-cari kesalahan orang lain, janganlah saling membenci, dan janganlah saling membelakangi. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara”. (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam hal ini dibutuhkan kekuatan jiwa untuk menahan hawa nafsu yang ingin diperturutkan, seperti keinginan yang tak tertahankan untuk menyebarkan aib saudaranya. Kebiasaan menyebar aib, menggunjing itu dirasakan asyik dan nikmat, jiwa terasa lega, namun sesungguhnya berbahaya karena menjadi penyebab kerusakan hati dan rusaknya persaudaraan.

Marilah kita mencontoh Umar bin Khathab ra, sang Khalifah, yang memiliki sikap tegas, arif dan adil sehingga tak muncul fitnah-fitnah. Ia sering melakukan patroli  semata-mata karena tak ingin ada kemungkaran dan mencegah kedzaliman di tengah-tengah rakyatnya sementara ia menjadi pemimpinnya.

Dikisahkan bahwa Umar bin Khathab ra keluar pada suatu malam hari bersama Ibnu Mas’ud ra. Malam itu ia melihat cahaya lampu di sebuah rumah, maka ditelusurilah cahaya mencurigakan tersebut hingga sampai di depan sebuah rumah lalu ia memasukinya sendirian. Sesampai di dalam rumah dipergokinya seorang lelaki tua dengan minuman keras dan seorang perempuan yang bernyanyi untuknya. Lelaki tua itu tidak menyangka sama sekali akan ada seseorang datang ke dalam rumahnya.

Secara tiba-tiba khalifah Umar ra datang dan berkata, “Aku tidak pernah melihat pemandangan di malam hari yang lebih buruk dibandingkan dengan seorang tua yang sedang menanti ajalnya”,

Dengan amat sangat terkejut lelaki tua itu mengangkat kepalanya dan memandang Umar ra dan berkata, “Tentu, wahai Amirul Mu’minin, tetapi tindakan yang engkau lakukan lebih buruk lagi. Mengapa engkau tajassus (memata-matai), sedangkan tajassus itu perbuatan terlarang[1], dan engkau masuk rumah tanpa izin[2]”.

Umar ra berkata, “Engkau benar, wahai orangtua”.

Umar ra kemudian keluar dari rumah itu sambil menangis dengan menggigit bajunya dan berkata memarahi dirinya sendiri, “Celaka benar engkau wahai Umar, jika Tuhanmu tidak memberikan ampunan kepadamu. Kamu dapati orang yang telah bersembunyi dari keluarganya ia berkata, ‘Sekarang Umar melihatku”.

Umar ra sering mengingat peristiwa malam itu dan menyesalinya.

Pada suatu hari, lelaki tua itu menghadiri majelis pengajian Umar bin Khathab ra. Umar ra berada agak jauh darinya. Ketika Umar ra telah duduk, lelaki tua itu seperti duduk bersembunyi di barisan terakhir.

Namun ternyata Umar ra melihatnya, lalu memanggilnya, “Kemarilah wahai orangtua yang berada di belakang itu!

Orang-orang di sekitarnya menengok dan menyuruhnya agar memenuhi panggilan Amirul Mu’minin. Maka orangtua itu bangun, ia berpikir bahwa dirinya akan dipermalukan di depan orang banyak oleh Umar ra akibat dari perilakunya pada peristiwa malam tersebut.

Umar ra berkata, “Mendekatlah kemari, ke dekatku!

Umar ra menyuruhnya mendekat hingga duduk tepat berada di sisinya, lalu berkata, “Dekatkanlah telingamu kemari!

Orang itu mendekatkan telinganya, kemudian Umar ra membisikkan, “Demi Allah yang telah mengutus Muhammad sebagai RasulNya, aku tidak memberitahukan kepada siapa pun tentang apa yang telah aku lihat pada malam itu, termasuk Ibnu Mas’ud, meskipun malam itu ia bersamaku”.

Lelaki tua itu amat takjub dan heran, ia tak menyangka sama sekali akan apa yang dilakukan Umar ra yang ternyata jauh meleset dari apa yang sedang dipikirkannya. Maka ia pun berkata pula, “Wahai Amirul Mu’minin, dekatkan telingamu kepadaku”.

Lalu lelaki tua itu membisikkan sesuatu ke telinga Umar ra, “Demi Allah yang mengutus Muhammad sebagai RasulNya, aku tidak pernah mengulanginya lagi sampai sekarang ini”.

Mendengar bisikan itu Umar ra bertakbir dengan suara keras, dan tentu saja membuat heran orang-orang di majelis tersebut dan mereka juga tidak tahu mengapa Amirul Mu’minin bertakbir.


[1] “janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain” (Al Hujurat: 12)

[2] “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya”. (An Nuur: 27)

Dishare dari: REST BLOG

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s