JAUHILAH SIKAP “LIKE AND DISLIKE” DALAM BERJAMA’AH

7 Okt

Ini tidak dalam konteks jejaring sosial “facebook” dan semacamnya. Bahasan ini hanyalah refleksi agar kualitas komunitas umat Islam dalam berjama’ah menjadi lebih bernilai tinggi tanpa terkontaminasi oleh tiupan hawa nafsu yang dapat mengganggu harmonisasi.

Like and dislike” (suka dan tidak suka) dalam organisasi/jama’ah adalah aktivitas menilai dan mensikapi orang lain menurut hawa nafsu atau kondisi kejiwaan dirinya sendiri serta mengabaikan kebaikan dan kemampuan serta posisi tawar orang lain. Sebagaimana diibaratkan orang membelah bambu, yaitu dengan menginjak salah satu dan pada saat yang sama mengangkat dengan kuat yang lainnya. Perbuatan menginjak saudara muslim dan mengangkat yang lain ini merupakan bagian dari bentuk-bentuk ketidakadilan. Sikap seperti ini tidak terpuji dan sangat tidak obyektif karena berangkat dari hawa nafsu yang ingin diperturutkan. Dampaknya adalah penerimaan perasaan terzalimi pada diri orang lain tersebut sebab dirinya disikapi tanpa berdasar kepada nilai-nilai kebenaran dan keadilan. Sungguh syari’at Islam memperingatkan bahaya sikap tersebut serta harus membuangnya jauh-jauh.

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al Maidah: 8)

Tiap-tiap umat mempunyai rasul; maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikitpun) tidak dianiaya.” (Yunus:47)

Dan Syu`aib berkata: “Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.” (Huud: 85)

“Dan barangsiapa mengerjakan amal-amal yang saleh dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya.” (Thaaha:112)

Dari An Nu’man bin Al Basyir ra. Bahwa ayah An Nu’man pernah membawanya menghadap Rasulullah saw., lalu berkata: ”Saya telah memberikan kepada anakku ini seorang budak yang dulu kepunyaanku.” Rasulullah saw bertanya, “Apakah masing-masing anakmu kamu beri seperti anakmu ini?” Ayah Nu’man menjawab, “Tidak”. Maka Rasulullah saw. Bersabda, “Kalau begitu tariklah kembali pemberianmu (kepada Nu’man) itu”.

Dalam riwayat dikatakan: Rasulullah saw bertanya, “Apakah kamu juga berbuat semacam ini terhadap semua anakmu?” Ayahku (ayah An Nu’man) menjawab: “Tidak”. Rasulullah saw. Bersabda: “Takutlah kepada Allah dan berbuat adillah terhadap anak-anak kalian.” Ayahku pun kembali, lalu mengembalikan sedekah itu.”

Dalam sebuah riwayat dikatakan: “Hai Basyir, apakah kamu mempunyai anak lagi selain ini?” Ayah menjawab: “Ya”. Rasulullah saw, bertanya; “Apakah semua anakmu kamu beri hadiah seperti ini?” Ayah menjawab: “Tidak”. Rasulullah saw bersabda: “Kalau begitu janganlah kamu jadikan aku sebagai saksi, sebab aku tidak menjadi saksi perbuatan aniaya.”

Dalam riwayat lain dikatakan: “Jangan jadikan aku sebagai saksi atas perbuatan aniaya.”

Dalam riwayat lain: “Mintalah persaksian atas hal ini kepada orang lain selain aku.”

Kemudian Rasulullah saw meneruskan: “Apakah menggembirakanmu, jika ketaatan anak-anakmu kepadamu sama?” Ayah menjawab: “Begitulah”. Rasulullah bersabda: “Maka jangan (melebihkan yang satu dan mengabaikan lainnya) kalau begitu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadirnya semangat para aktivis dakwah yang lahir dari perasaan dan keinginan semata akan merusak keindahan berjama’ah. Sebuah semangat beramal yang lahir dari perasaan menggelora dan keinginan pribadi yang ingin diperturutkan akan menempatkan orang lain dalam keadaan tersalah. Sebab jika ia menjadi pemimpin akan banyak menuntut dan dan memojokkan anggota-anggotanya. Demikian juga sebaliknya ketika menjadi anggota akan lebih dominan mengkritisi pemimpinnya dan menghimpun orang lain untuk mewujudkan curahan hatinya. Aktivitasnya membicarakan kelemahan atau kelalaian orang lain, membuat kasak- kusuk, menuntut banyak orang agar segera berbuat begini dan begitu, gemar menekan-nekankan nasihat baik di depan umum maupun secara sembunyi padahal yang sebenarnya terjadi adalah jiwanya yang gelisah. Sifat seperti ini adalah sebuah penyakit yang berbahaya karena banyak pihak yang akan terzalimi perasaan serta peran-perannya.

Tidak selayaknya kaum muslimin dalam aktivitasnya yang terwadahi dengan sebuah organisasi/jama’ah mendapatkan perlakuan yang tidak adil, tersiksa batinnya, terpangkas potensinya dikarenakan adanya “like and dislike”. Pengurus struktur dan para kadernya masing-masing harus berusaha memangkas habis sikap ini. Semakin berlarut-larut kondisi demikian ini akan bisa mencukur habis asset organisasi/jama’ah. Apalagi jika yang menggejala adalah penyakit hasad yang tingkat penyakitnya lebih tinggi dari “like and dislike” akan menjadikan agama tercukur.

Dari Zubair bin Awwam ra. bahwa Rasulullah saw bersabda: “Telah menjalar pada kalian penyakit umat-umat sebelum kalian, yaitu hasad dan benci. Ia adalah pencukur yang mencukur agama, bukan mencukur rambut.” (HR Tirmidzi)

Dari Abu Hurairah ra. bersabda Rasulullah saw: “Jauhilah hasad, karena hasad memakan kebaikan sebagaimana api membakar kayu bakar” (HR Abu Daud)

Sia-sia semua amal shalih berikut pengorbanannya yang dilakukan oleh para kader dakwah, jika masih terlingkupi oleh kebencian-kebencian sesama kader dakwah. Tak akan banyak artinya penetapan kepengurusan serta program kerja organisasi/jama’ah dengan target dan sasarannya, manakala pemilihannya atas dasar suka dan tidak suka. Mengambil yang disukai dan menyingkirkan yang dibenci tak sejalan dengan syari’at Islam dan ruh berjama’ah. Suka dan tidak suka hanya berlaku manakala terkait perkara yang ma’ruf dengan yang munkar. Kebencian dalam berjama’ah akan membakar ikatan persaudaraan serta mencukur kebaikan-kebaikan dalam beragama, sekaligus akan memberikan gambaran bahwa berjama’ah itu sangat sulit dan berat ataupun eksklusif sehingga tak semua orang dapat melakukannya. Ini adalah gambaran yang sangat menyesatkan.

Sebenarnya menyukai salah satu pihak dan mengabaikan pihak yang lain akan menimbulkan fitnah terhadap orang yang diistimewakan tersebut. Hal ini tersirat dalam kisah Nabi Yusuf as. tatkala Ya’qub, ayahnya, begitu mengistimewakan Yusuf as.

(Yaitu) ketika mereka berkata: “Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata.” (Yusuf:8)

Maka terjadilah makar saudara-saudaranya untuk melenyapkan Yusuf as, namun atas perlindungan dan skenario Allah SWT peristiwa tersebut tak membuat Yusuf as. meninggal.

Demikian satu di antara bentuk-bentuk ketimpangan sikap dan perilaku yang hendaknya dijauhi dalam kehidupan berjama’ah/organisasi karena keberadaanya ibarat virus pelemah kekuatan hingga tubuh tidak lagi immun terhadap berbagai serangan keburukan.

2 Tanggapan to “JAUHILAH SIKAP “LIKE AND DISLIKE” DALAM BERJAMA’AH”

  1. nadia 09/10/2012 pada 11:32 #

    ijin copas ustadz 007.. nnt mau saya pake kultum… trims.

    • nurahmad007 09/10/2012 pada 13:04 #

      silahkan, ambil sendiri. jazakillah sudah mampir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s