FANATISME VS DINAMIKA PEMIKIRAN

8 Okt

Pada suatu masa dan kondisi tertentu, para ulama memiliki pendapat, cara pandang dan pemahaman tersendiri terhadap suatu nash atau dalil agama. Keberadaan para ulama/tokoh agama pada generasi terdahulu memang bertebaran ke berbagai penjuru di wilayah kekuasaan Islam. Mereka mendirikan madrasah-madrasah dan memiliki banyak murid serta menjadi panutan umat pada masanya. Kehadirannya memberikan solusi bagi problematiak umat. Namun dalam hal ini kadangkala terdapat perbedaan pandangan di antara para imam atau ulama tersebut.

Jika tidak terdapat ijma’ (baca: kesepakatan bersama para imam atau mujtahid tentang suatu masalah agama) pada suatu perkara tertentu, bukanlah semata-mata karena hambatan komunikasi pada masa tersebut. Perbedaan pendapat dan perubahan pemikiran bisa terjadi karena faktor kultur dan kebudayaan lokal yang berbeda-beda. Pembahasan dalam permasalahan semacam ini cukup luas, dan sudah terjadi sejak zaman sahabat. Pada akhirnya muara perbedaan cara pandang dan pemahaman tersebut kita kenal dengan mazhab-mazhab.

Jadi sebenarnya sudah lumrah jika para ulama berbeda pandangan mengenai makna dan hukum suatu perkara tertentu dalam agama.

Bagi kita mencari pendapat haruslah yang terkuat dalil dan alasannya, namun tak perlu apriori terhadap suatu perbedaan pilihan,  dan tak boleh ada sikap bahwa pendapat lain harus dilarang dan dihapus. Sikap seperti ini bisa mengarah kepada fanatisme terhadap pendapat tertentu atau kepada syekh tertentu yang diasumsikan sebagai orang yang paling ahli dalam bidang tertentu.

Fanatisme pendapat dan tokohnya semestinya dijauhi. Namun mencintainya hanya sebatas idola tentu saja tidak terlarang, sebab manusia selalu butuh sosok yang dianggap memiliki keahlian tertentu untuk dijadikan teladan. Adalah tabu mengedepankan fanatisme, sebab hal itu hanya akan melahirkan pengkultusan terhadap seseorang yang sesungguhnya sikap tersebut dicela dalam Islam.

Kultus dan fanatisme dalam pemahaman selalu bernilai negatif, seperti lahirnya arogansi dan egoisme pendapat. Jika suatu saat sosok yang dikultuskan tersebut berubah pandangan, akan melahirkan kekagetan, kecewa bahkan hinaan oleh orang-orang yang dahulunya memujanya. Seseorang yang dianggap alim atau siapa pun adalah manusia biasa yang tak luput dari kelemahan dan keterbatasan, dia bisa benar dan juga bisa salah, bahkan sikap dan pendapat seseorang bisa berubah karena alasan yang dianggapnya lebih baik.

Perubahan pendapat bisa kita lihat bagaimana Imam Syafi’i rahimahullah ketika berada di Iraq beliau membuat mazhab fiqh, dan ketika pergi ke Mesir beliau juga membuat mazhab yang lain. Pada tahun 195 H beliau pergi ke Baghdad untuk mengambil ilmu dan pendapat-pendapat dari murid-murid Imam Abu Hanifah, ber-munadzarah (berdebat) dengan mereka. Waktu yang diperlukan berada di Baghdad hanya dua tahun, kemudian kembali ke Mekah. Tahun 198 H pergi lagi ke Baghdad, hanya sebulan lamanya dan akhirnya tahun 199 H pergi ke Mesir untuk tempat tinggal terakhir mengajarkan as-Sunnah dan Al Kitab.  Kumpulan fatwa beliau terdahulu ketika di Bagdad (Iraq) disebut dengan qaulul-qadim dan kumpulan fatwa beliau kemudian selama di Mesir disebut qaulul-jadid. Sehingga terdapat pendapat dalam suatu permasalahan dalam mazhab qadim (lama) dan mazhab jadid (baru).

Karenanya imam itu bisa tetap, namun fatwanya bisa beragam lantaran perbedaan masa, tempat dan orangnya.

Bagaimana dengan fanatisme mazhab? Fanatik terhadap madzhab itu tidak baik, sebab bisa menyeret muqallid (pengikut)nya kepada tingkat me-ma’shum-kan imam mereka, atau kepada sikap-sikap yang hampir seperti itu. Sikap seperti ini jelas tercela, sebab tak ada yang ma’shum kecuali hanya Nabi saw.

Seseorang bisa terjebak fanatisme mazhab jika ia berpendapat bahwa taqlid kepada imam itu adalah wajib. Padahal telah diketahui bahwa tidak ada kewajiban kecuali apa yang diwajibkan oleh Allah swt dan Rasul-Nya. Sedangkan Allah dan Rasul-Nya tidak mewajibkan kita untuk mengikuti orang-orang tertentu, sekalipun memiliki ilmu yang luas.

Termasuk kategori fanatisme mazhab adalah jika seseorang mengharamkan mazhab lain dan  melarang orang yang se-mazhab dengannya keluar darinya, jika keluar dikatakannya sebagai orang yang tidak istiqomah. Hal ini berarti telah mengambil sikap wajib taqlid kepada imam suatu mazhab. Sikap tersebut akan menempatkan imam mazhab sebagai pembuat syari’at serta menganggap pendapat imam mereka sebagai dalil yang tak boleh dibantah. Taqlid seperti ini tak pernah dipraktekkan oleh generasi orang-orang shalih terdahulu yang merupakan sebaik-baik generasi (khoirul qurn), yaitu generasi yang paling dekat dengan petunjuk Nabi saw.

Taqlid dan disertai fanatisme itu menyerupai perbuatan para Ahli Kitab yang telah menjadikan Rahib-rahib dan pendeta mereka sebagai tuhan selain Allah swt. Atau seperti golongan Rafidhah yang fanatik terhadap Ali ra dan menolak tiga Khalifah lainnya bahkan sebagian besar para sahabat. Atau seperti orang Khawarij yang mengecam Utsman ra. Sikap seperti itu adalah cara-cara ahli bid’ah dan pengumbar hawa nafsu yang oleh Al Qur’an, juga oleh as sunnah serta ijma’ ulama[1] telah dikecam dan dinyatakan telah keluar dari syari’at serta manhaj Rasulullah saw.

Seseorang yang fanatik kepada salah satu imam mazhab sesungguhnya ia tidak tahu kadar ilmu agamanya dan juga tak tahu kadar orang lain. Ia akan menjadi jahil dan zhalim serta jauh dari keadilan. Maka kehadirannya dapat merusak keutuhan umat Islam hingga memunculkan perpecahan serta kerusakan.

Seseorang mungkin tidak sadar bahwa dirinya terperangkap dalam sikap fanatik. Sebenarnya gejala atau fenomena tersebut bisa dikenali di antaranya adalah:

  • Senantiasa membela kelompok atau jama’ahnya tanpa memperdulikan kebenaran atau kebatilan. Hal ini seperti ungkapan orang-orang jahiliyah, “Tolonglah saudaramu yang zalim atau dizalimi[2]
  • Senantiasa mengklaim bahwa kelompok atau jama’ahnya yang paling lurus dan benar, yang mencakup sejarah, aktivitas atau kiprahnya serta keputusan-keputusan yang dihasilkannya berikut tokoh-tokohnya. Membuang jauh sikap kritis dan tabayun. Sikapnya hanya kagum dan memuji, tak mau melihat kekurangannya apalagi  untuk pembenahan diri.
  • Tak pernah menyebut jama’ahnya kecuali kebaikan dan keutamaan, serta tak menyebut jama’ah lain kecuali kejelekan. Mengagungkan tokohnya meskipun memiliki kekurangan, dan tak menyebut tokoh lain kecuali melecehkan sekalipun berilmu luas dan beramal besar untuk umat Islam.
  • Bergembira atas kesalahan kelompok lain lantas mengecamnya hingga menabuh genderang perang atasnya. Namun pada waktu yang sama ia menutup mata dari kesalahan jama’ahnya. Kalaupun diakuinya ia berusaha memperkecil kesalahan itu dan mencari dalih serta membelanya.
  • Berduka dan merasa terancam bahaya tatkala kelompok lain mampu meraih dukungan umat. Kemudian berusaha membuat provokasi dengan berbagai cara.
  • Berlebihan dalam mempertahankan bentuk tandzim (aturan dasar) suatu jama’ah, seolah merupakan perkara ta’abudiyah. Akibatnya mengabaikan kemaslahatan da’wah dan umat Islam demi mempertahankan bentuk tandzim tersebut. Sikap ini telah menjadikan tandzim yang asalnya sebagai sarana dan alat, menjadi “berhala yang disembah” atau menjadi orientasi kehidupan.

 Agar terhindar dari fanatisme semestinya seseorang itu melihat kepada perkataan, bukan kepada orang yang mengatakannya. Juga harus memiliki keberanian untuk melakukan kritik terhadap diri sendiri, mengakui kesalahan, ber-husnudzan, menerima dengan lapang dada kritik, masukan dan nasihat dari yang lain.

Untuk pembenahan diri hendaknya bersedia memanfaatkan ilmu dan hikmah yang dimiliki orang lain, bersedia memuji orang yang tak sependapat dengannya jika memang pendapat orang lain tersebut baik, serta berani membelanya jika di dituduh dengan tuduhan batil atau penghinaan lainnya.


[1] Kesepakatan para imam mujtahid di antara umat Islam pada suatu masa setelah Nabi saw wafat, terhadap hukum syara’ tentang suatu masalah atau kejadian.

[2] Ungkapan tersebut populer di zaman jahiliyah, namun setelah datangnya cahaya Islam maka ungkapan tersebut diluruskan maknanya. Menolong saudara yang zalim adalah dengan mencegahnya dari perbuatan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: