Nasihat Hasan Al Banna Tentang Etika Mengikut Pendapat Seseorang

9 Okt

Seorang Muslim tidaklah masalah untuk mengikut atau menjadikan panutan kepada seseorang dalam hal ibadah dan penerapan syari’at, jika memang perkara tersebut sudah menjadi kesepakatan para ulama atau nash nya qath’i (jelas). Sedangkan untuk perkara tertentu atau yang tak ada nashnya atau yang mengandung keragaman pandangan, makna/penafsiran, maka sebaiknya tidak gegabah dengan serta merta meyakininya, karena perkara tersebut masih memerlukan petunjuk dalil lain yang lebih jelas.

Menghadapi perkara yang masih mengandung keragaman tersebut kaidah yang harus diperhatikan adalah bahwa: “Pendapat imam atau wakilnya tentang sesuatu yang tidak ada nash hukumnya, tentang sesuatu yang mengandung ragam interpretasi dan tentang sesuatu yang membawa kemaslahatan umum bisa diamalkan sepanjang tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah umum syari’at. Namun ia mungkin bisa berubah seiring dengan perubahan situasi dan kondisi. Yang jelas bahwa ibadah itu dalam pengamalannya dilakukan dengan kepasrahan total tanpa mempertimbangkan makna, sedangkan selain hal itu perlu mempertimbangkan maksud dan tujuannya”.

Kemudian tentang sikap dalam mengambil pendapat, hendaknya diketahui dahulu bahwa setiap orang boleh diambil atau ditolak pendapatnya, kecuali Nabi saw. Pendapat orang-orang terdahulu (salaf) dan sesuai dengan Kitabullah dan as sunnah, kita terima. Jika tak sesuai, maka Kitabullah dan as sunnah lebih utama kita ikuti, namun dalam mengambil pendapat tidak boleh melahirkan celaan terhadap hal-hal yang diperselisihkan.

Untuk seorang muslim yang belum mencapai kemampuan menelaah terhadap dalil-dalil hukum furu’ (cabang), hendaklah mengikuti saja pemimpin agama. Walaupun demikian alangkah baiknya jika diiringi dengan usaha untuk mempelajarinya, serta tetap menerima masukan dari orang-orang yang terpercaya agar lebih sempurna hingga suatu saat ia mencapai derajat penelaah.

Demikian itulah sikap yang paling moderat, yaitu jalan tengah yang tidak mewajibkan taqlid atas semua orang, dan tidak mengharamkan taqlid atas semua orang. Namun meletakkan persoalan secara proporsional, dengan membedakan antara ahli ilmu dengan orang awam.

Kepada orang yang belum mencapai tingkatan ijtihad dan tarjih, diperbolehkan untuk mengikuti salah seorang imam. Dalam hal ini istilah yang lebih tepat adalah ittiba’, bukan taqlid. Namun sekalipun demikian tetap lebih baik mengetahui dalil-dalil yang dipergunakan oleh imamnya, utamanya untuk menghadapi perkara yang samar dan rumit. Dalam saat yang sama juga tetap bersedia menerima kebenaran yang dikemukakan oleh orang lain sekalipun berbeda pendapat dengan madzhabnya.

Perbedaan dalam masalah fiqih furu’ (cabang) hendaknya tidak menjadi faktor pemecah belah agama dan permusuhan ataupun kebencian. Setiap mujtahid mendapatkan pahalanya. Setiap yang menginginkan kebenaran hendaknya melakukan studi ilmiah yang jujur terhadap persoalan khilafiyah (perbedaan) dalam agama, dan lebih mulia lagi saling membantu karena Allah dan dalam naungan kasih sayang. Dengan demikian tak akan lahir sikap egois dan fanatisme.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: