PROBLEMATIKA SUNNAH

10 Okt

Perkembangan al hadits tidaklah sama dengan pekembangan Al Qur’an dalam penulisan dan pembukuannya. Al hadits pernah mengalami masa pelarangan penulisan pada awalnya. Sehingga ketika para perawi hadits pada thabaqah (tingkat/lapisan) pertama -yaitu para sahabat yang langsung menerima hadits Nabi saw.- dan tingkat berikutnya sudah banyak yang meninggal, maka generasi berikutnya mulai mengalami krisis dalam penjagaan atau pemeliharaan terhadap keaslian periwayatan al hadits. Hal ini dikarenakan al hadits pada generasi belakangan tersebut sudah mengalami kerancuan dengan fatwa-fatwa ulama bahkan penyusupan oleh hadits-hadits palsu. Sementara itu keadaan al hadits sebagian besar tidak diriwayatkan secara mutawatir sebagaimana Al Qur’an, dan dimungkinkan juga periwayatan hanya dengan maknanya saja.

Ada juga problematika yang terletak pada perawi yang sudah lanjut usia, kurang sempurna hafalannya, dan sebagainya. Maka pada perkembangannya al hadits menemui problematika yang harus dikenali dan diselidiki sehingga pada akhirnya dapat dimengerti keadaan serta kedudukannya.

Adapun problematika hadits yang ditemui oleh para ulama adalah sebagai berikut:

  • Munculnya hadits-hadits palsu (maudhu’)
  • Rawi yang tertuduh dusta
  • Hadits yang tersusupi (mudraj), yaitu hadits yang matannya tersusupi perkataan rawi, sehingga disangka sabda Nabi saw. disebut mudrajul matan. Sedangkan jika dalam sanadnya terselip seorang rawi padahal ia tidak ikut meriwayatkannya, maka disebut mudrajul isnad.
  • Perawi yang salah sangka, yaitu seorang rawi yang menyangka suatu hadits sanadnya bersambung, padahal setelah diselidiki ternyata terputus. Atau ia menyisipkan suatu hadits pada hadits lain, atau semacam itu.
  • Hadits yang terbalik susunan redaksinya
  • Hadits bertema sama tapi berbeda makna
  • Hadits yang mengalami perubahan syakal atau tanda baca
  • Perawi yang tak dikenal identitasnya
  • Hadits yang bertentangan (hadits mukhtalif) baik pada matan (redaksi) maupun sanad
  • Hadits yang perawinya lanjut usia
  • Faktor keguguran, yaitu (rawi) yang hilang jalurnya atau tidak dicantumkan dalam mata rantai pembawa berita
  • Problematika matan atau ada masalah dalam redaksionalnya
  • Hadits maqbul yang mutasyabih, yaitu hadits yang diterima kedudukannya namun mengandung konten yang sukar dipahami maksudnya lantaran tak diketahui ta’wil/tafsirnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: