SEBAB PERBEDAAN FIQH DI KALANGAN ULAMA

13 Okt

Perbedaan (ikhtilaf) dalam masalah furu’ (cabang agama) adalah suatu kemestian bahkan sesungguhnya bisa menjadi rahmat dan keluasan. Hal ini tak lepas dari beberapa tabi’at: Tabi’at agama (Islam), misalnya ada ayat muhkamat dan mutsyabihat; Tabi’at bahasa yang melahirkan tafsiran beragam; Tabi’at manusia, yaitu antara sikap yang cenderung ketat dengan longgar; Tabi’at alam dan kehidupan yang beragam, senantiasa berubah sesuai dengan faktor-faktor pengaruh yang variatif dan dinamis seperti tempat dan zaman.

Berikut beberapa faktor yang menjadi sebab ikhtilaf fiqh di kalangan ulama.

Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:

  1. Barangkali karena haditsnya belum sampai kepadanya.
  2. Hadits telah sampai tetapi tidak tsabat (kuat) baginya. Mungkin menyangkut orang yang menyampaikannya atau orang yang menyampaikan sebelumnya atau tokoh-tokoh sanadnya yang mungkin tidak ia kenal, tertuduh atau jelek hafalannya. Atau tidak sampai kepadanya dengan sanad yang bersambung atau ia tidak yakin dengan matan (redaksi) hadits meskipun ia telah diriwayatkan oleh banyak perowi lain yang terpercaya bahkan dengan sanad yang bersambung. Ini banyak terjadi di kalangan tabi’in dan tabi’ihim sampai ulama-ulama terkenal setelahnya.
  3. Ia meyakini haditsnya dha’if dan ini berbeda dengan keyakinan yang lain lantaran penalaran yang dilakukan berbeda dengan yang lain. Hal ini bisa terjadi karena beberapa sebab, antara lain: Yang memberi hadits berbeda pendapat, yang satu mengatakan dha’if yang lain mengatakan shahih. Padahal pengetahuan tentang rijalul hadits sangat luas. Atau yang memberi hadits tidak yakin betul bahwa dirinya mendengarkan dari penyampai sebelumnya sementara pemberi hadits yang lain yakin betul bahwa dirinya mendengarkannya. Dan sebagainya.
  4. Ia mensyaratkan dalam khabar wahid (riwayat dari satu orang) itu harus adil dan penghafal kuat, sementara yang lain tidak mensyaratkan. Misalnya yang lain mensyaratkan ditimbangnya hadits dengan tolok ukur Kitab dan Sunnah, sementara yang lain lagi mensyaratkan bahwa penyampai hadits harus faqih bila isinya berbeda dengan qiyas[1]nya ushul. Dan yang lain lagi mensyaratkan dimana haditsnya harus sudah dikenal dan tersebar..dsb.
  5. Barangkali haditsnya sudah sampai kepadanya dan ia mengakui kekuatannya, akan tetapi ia lupa.
  6. Tidak tahu akan dalalah haditsnya. Mungkin kata-katanya asing baginya, atau ma’na yang diketahui sesuai dengan bahasa masyarakatnya berbeda dengan yang dikehendaki oleh Nabi SAW. Atau terkadang kata-katanya memiliki makna ganda, makna global atau ia ragu menentukan apakah pengertiannya hakiki atau majazi (kias). Atau bisa jadi dalalah nash-nya tersembunyi. Padahal pengertian sebuah kalimat itu sangat beragam dan masing-masing orang bisa berbeda satu sama lain.
  7. Ia berkeyakinan bahwa tak ada dalalah dalam hadits itu. Perbedaan dengan sebelumnya adalah bahwa yang pertama tidak mengetahui arah dalalah[2] nya. Sementara yang kedua mengetahuinya namun menyanggahnya. Ia beranggapan bahwa ada kaidah ushul yang menolak dalalah tersebut, baik masalah itu benar atau salah. Misal, keyakinan bahwa ‘aam yang dikhususkan bukanlah hujjah, atau sesuatu yang umum (‘aam) tetapi memiliki sebab khusus maka ia hanya terbatas pada sebabnya saja atau bila semata-mata perintah ia tidak mengandung sesuatu yang wajib atau sebaliknya…. Perbedaan masalah fiqh banyak disebabkan oleh kaidah ushul seperti ini.
  8. Ia meyakini bahwa dalalah yang ada pada hadits telah dimentahkan oleh keterangan yang lain. Misal, dimentahkannya ‘aam oleh khash, muthlaq (tak bersyarat) oleh muqayyad (bersyarat), perintah muthlaq oleh penafian wajib, hakikat (arti sebenarnya) oleh majaz (arti kias) dan lain-lain.
  9. Keyakinan bahwa hadits itu telah di-dha’if-kan (dianggap lemah), di-nasakh (dihapus) atau di-ta’wil (diartikan lain, interpretasi, tafsir) bila mungkin, oleh keterangan yang setingkat sesuai kesepakatan ulama. Seperti oleh ayat, oleh hadits yang lain atau ijma’[3] ulama.
  10. Ia meyakini bahwa hadist itu telah di-dha’if-kan, di-ta’wil[4] atau di-nasakh[5], sementara yang lain tidak meyakini demikian.

Menurut Asy-Syahid Hasan Al Banna:

  1. Karena perbedaan kemampuan berpikir dalam meng-istinbath (menyimpulkan hukum) dan dalam memahami dalalah hadits.
  2. Perbedaan kemampuan menyelami makna dan hubungan antara hakikat satu dengan lainnya.
  3. Karena perbedaan wawasan keilmuan. Seseorang memiliki wawasan berfikir yang tidak dimiliki oleh orang lain. Para sahabat Rasulullah SAW itu berpencar-pencar tempat tinggalnya, masing-masing memiliki ahli ilmu. Oleh  karena itu bila dipaksakan untuk meyakini pendapat yang satu akan muncul fitnah.
  4. Karena perbedaan lingkungan.
  5. Karena masalah perbedaan kepuasan terhadap suatu riwayat hadits ketika diterima.
  6. Karena perbedaan menakar kadar dalalah. Misal, yang satu mengatakan bahwa perbuatan orang didahulukan atas khabar ahad[6] sementara yang lain tidak mengatakan demikian.
Demikian jika terjadi ikhtilaf di kalangan ulama. Lain halnya ikhtilaf (perbedaan) yang terjadi di kalangan orang awam yang biasanya meruncing dikarenakan oleh beberapa hal seperti:
– Kagum dan bangga dengan pendapatnya sendiri
– Buruk sangka terhadap yang lain dan menuduh tanpa tanpa bukti
– Egoisme dan ittiba’ul hawa (menuruti hawa nafsu)
– Bersikukuh dalam rangka ambisi kepemimpinan/kedudukan
– Fanatisme madzhab/golongan
– Fanatisme negeri/suku kedaerahan

Wallahu a’lam.


[1] Menyamakan suatu kejadian yang tak ada nash dengan kejadian lain yang nash-nya kepada nash hukum yang telah menetapkan, lantaran adanya kesamaan di antara dua kejadian tersebut dalam illat (sebab terjadinya) hukumnya.

Contoh:

Masalah minuman khamer, merupakan suatu perbuatan yang telah ditetapkan dalam nash, yaitu haram berdasarkan Al Qur’an:.

“..sesungguhnya (meminum) khamer, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu”. ( Al Maidah: 90)

Dalam ayat tersebut ada illat memabukkan. Maka setiap minuman yang terdapat illat memabukkan, hukumnya sama dengan khamer, dan haram hukumnya.

[2] Dalalah nash, yaitu makna yang dipahami dari jiwa dan logika nash.

Contoh:

Tentang sikap terhadap kedua orang tua, dalam firman Allah:

 “..maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”. “(Al Israa:23)

Dalalah-nya:

Ungkapan nash tersebut menunjukkan atas larangan terhadap anak mengucapkan kata-kata keji (“uf” atau “ah”) kepada kedua orang tua. Illat (alasan) larangan ini ialah sesuatu yang dikandung di dalam ucapan kepada kedua orang tua, yaitu menyakiti keduanya dan hal-hal lain yang lebih menyakiti daripada ucapan keji “uf” atau “ah” itu. Maka larangan itu juga mencakup hal-hal tersebut dan ia haram lantaran nash mengharamkan ucapan keji tersebut. Hal ini dapat dipahami menurut bahasa dari larangan mengucapkan kata “ah” itu ialah larangan berbuat yang lebih menyakitkan kedua orang tua, atau lebih daripada ucapan kata-kata “ah”. Inilah pemahaman yang sesuai lagi tersembunyi serta lebih utama menjadi hukum daripada pernyataan (bunyi) nash itu sendiri.

[3] Kesepakatan para imam mujtahid di antara umat Islam pada suatu masa setelah Rasulullah saw. wafat, terhadap hukum syara’ tentang suatu masalah atau kejadian.

 [4] Memahami dalil sesuai dengan makna khusus di belakang makna zahirnya (interpretasi)

 [5] Melahirkan dalil yang datang kemudian yang secara implisit menghapus pelaksanaan dalil yang lebih dulu.

 [6] Hadits yang tidak mencapai derajat mutawatir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: