Sejarah Pertumbuhan Hadits: Periode Larangan Menulis Hadits

14 Okt

Sejarah al hadits sejak awal kemunculannya hingga waktu-waktu berikutnya mengalami periodisasi dalam perkembangan dan pertumbuhannya. Periode pertama adalah pelarangan menulis hadits. Periode ini dimulai sejak bi’tsah (kenabian Rasulullah saw) yaitu ketika Al Qur’an masih turun  kepada Nabi Muhammad saw, kemudian beliau wafat, dan berlangsung hingga zaman khulafaur rasyidin. Pada masa Rasulullah saw masih hidup atau selama wahyu masih turun, para sahabat mencurahkan perhatiannya untuk mengabadikan ayat-ayat Al Qur’an pada alat-alat tulis sederhana yang ada pada saat itu. Di zaman tersebut seluruh sahabat tercurah perhatiannya kepada Al Qur’an yang mana ayat-ayat atau surat Al Qur’an masih turun, sehingga jika hadits-hadits dituliskan, sangat dikhawatirkan pada perkembangan berikutnya Al Qur’an akan tercampur penulisannya dengan as sunnah. Hal ini bisa terjadi karena ada kemungkinan anggapan bahwa segala kata-kata Nabi saw adalah wahyu dari Allah SWT. Lebih-lebih bagi generasi yang tidak menyaksikan zaman tanzil (zaman ketika wahyu masih turun) tersebut. Pada saat itu Nabi saw mewanti-wanti agar para sahabat tidak menulis hadits kecuali atas izinnya.

“Jangan kamu tulis sesuatu yang telah kamu terima dariku selain Al Qur’an. Barangsiapa menuliskan yang ia terima dariku selain Al Qur’an hendaklah ia menghapusnya. Ceritakan saja yang kamu terima dariku, tidak mengapa. Barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku maka hendaklah ia menduduki tempat duduknya di neraka. “ (HR Muslim)[1]

Maka hadits-hadits Nabi saw kala itu hanya boleh diriwayatkan dengan lisan saja, untuk menghindari kemungkinan salah tulis antara wahyu Allah swt. dengan Al Hadits ke dalam lembaran-lembaran tulisan Al Qur’an, sehingga tercampur aduk antara keduanya.

Namun pada periode ini ada perkecualian bagi para sahabat yang memiliki kemampuan khusus dalam hal tulis menulis. Di kalangan sahabat tidak banyak yang diizinkan menulis hadits-hadits Nabi saw. Di antara mereka adalah Abdullah bin Amr bin Ash ra, ia adalah salah seorang penulis yang baik, sehingga mendapat izin untuk menulis hadits-hadits yang pernah didengarnya. Walaupun suatu saat ia pernah ditegur oleh orang-orang Quraisy akan aktivitasnya tersebut. Mereka menegurnya dengan alasan bahwa Nabi saw adalah manusia biasa yang suatu saat beliau berbicara dalam keadaan suka atau duka. Maka ia pun segera konfirmasi ke Nabi saw akan hal itu, dan dijawab oleh beliau, “Tulislah! Demi Dzat yang nyawaku ada di tangan-Nya, tidaklah keluar daripada-Nya selain haq”.[2] Naskah hadits tulisan Abdullah bin Amr tersebut kemudian dinamai Ash Shahifah Ash Shadiqah yang konon memuat seribu hadits yang dihafal dan dijaga oleh keluarganya.

Kemudian sahabat Jabir bin Abdullah Al Anshari, yang naskah haditsnya dinamai Shahifah Jabir.

Berikutnya izin memiliki tulisan hadits diberikan kepada Abu Syah dari Yaman karena ia memintanya secara langsung kepada Nabi Muhammad saw. tatkala beliau sedang berpidato di hadapan banyak manusia, serta dirinya kurang kuat hafalannya. Saat itu Abu Syah menyela, “Ya, Rasulullah, tuliskan untukku!” Jawab beliau, “Tulislah oleh kamu sekalian untuknya!”. Maka setelah itu Abu Syah memiliki naskah hadits.

Meriwayatkan hadits di periode larangan penulisan hadits ini ada yang hanya dengan maknanya saja, sedangkan redaksinya disusun sendiri oleh orang yang meriwayatkan haditst tersebut. Hal ini terjadi karena masalah daya ingat mereka yang terbatas, disamping mereka hanya mementingkan isinya saja. Ada juga yang meriwayatkan hadits dengan lafadz asli dari Nabi Muhammad saw.

Dalam perihal pelarangan dan pembolehan menuliskan hadits ini memang pernah menjadi polemik di kalangan para peneliti hadits di zaman setelah generasi salafus shaleh tersebut berlalu. Namun jika diambil kesimpulan, pelarangan penulisan hadits itu diduga ada beberapa kemungkinan:

  1. Karena orang Arab tidak banyak yang pandai membaca dan menulis, mereka terbiasa mengandalkan kekuatan hafalannya terhadap segala hal yang ingin dihafalnya. Sehingga menghafal Al Qur’an yang turun secara berangsur-angsur itu adalah lebih mudah bagi mereka dari pada harus terus menerus mengamati perilaku Nabi saw setiap saat.
  2. Jika sunnah atau hadits ditulis, maka dikhawatirkan akan tercampur dengan Al Qur’an secara tidak sengaja. Inilah tampaknya alasan terkuat dalam larangan penulisan terhadap hadits Nabi saw.
  3. Jika sunnah atau hadits ditulis apalagi menyerupai mushaf Al Qur’an pada zaman tersebut, maka dikhawatirkan akan melalaikan perhatian mereka terhadap Al Qur’an yang merupakan sumber hukum utama. Sedangkan perhatian sahabat untuk menulis dan menyimpan Al Qur’an di dalam hati mereka cukup menyita perhatian dan menyita waktu-waktu mereka.
  4. Menyusun sunnah atau hadits yang didapat dari aktivitas Nabi saw sehari-hari, ke dalam susunan tematik (baca: menurut keadaan dan kebutuhan) merupakan pekerjaan berat dan sukar. Sebab untuk hal tersebut dibutuhkan sahabat yang senantiasa terus-menerus membersamai Nabi saw untuk menulis segala hal perbuatan dan ucapan Nabi saw amatlah sedikit.
  5. Bahwa larangan tersebut terjadi pada awal perkembangan Islam untuk memelihara agar hadits tidak tercampur dengan Al Qur’an. Namun setelah jumlah kaum Muslimin semakin banyak dan telah mengenal Al Qur’an, maka larangan tersebut telah dihapuskan, sehingga diperbolehkan menulis hadits pada masa tersebut.
  6. Larangan tersebut bersifat umum, sedang izin hanya diberikan kepada orang-orang yang memiliki keahlian tulis menulis seperti Abdullah bin Amr bin Ash, sehingga hadits akan terjaga dari kekeliruan penulisan dan tidak khawatir akan salah.
  1. Larangan tersebut ditujukan kepada orang yang lebih kuat menghafalnya daripada menulisnya, maka izin diberikan kepada orang yang tidak kuat hafalannya, seperti Abu Syah. Pada masa-masa akhir hayat beliau ada perubahan kebijakan dengan mengizinkan para sahabatnya menulis hadits-hadits beliau. Bahkan tatkala beliau menghadapi sakit berat meminta dituliskan pesan-pesan beliau untuk menjadi pegangan umat. Namun saat itu karena beratnya sakit yang beliau tanggung, Umar ra mencegah para sahabat untuk menulis pesan-pesan beliau, karena khawatir akan menambah berat derita Nabi saw.

———————————————————————————————

[1] Ini adalah hadits mutawatir yang diriwayatkan oleh lebih dari 70 sahabat, seperti disebutkan Imam Suyuthi, dalam Tahdzir al Khawash min Akadzib al Qushshos.

[2] HR Abu Daud dengan sanad yang shahih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: