Hadits di Masa Khulafaur-Rasyidin

16 Okt

Pada masa sahabat sepeninggal Nabi saw, mereka men-tabligh-kan hadits kepada siapa saja yang dikehendaki sebagai amanah yang wajib ditunaikan dari beliau. Sebagaimana diriwayatkan Al Bukhari dari Ibnu Amr bin ‘Ash bahwa Nabi saw bersabda, “Sampaikan daripadaku walau seayat”. Dan juga hadits ibnu Abdil Bar dari Abu Bakrah, bahwa Nabi saw bersabda, “Ketahuilah, hendaknya orang yang hadir menyampaikan kepada orang yang tidak hadir”.

Penyampaian hadits pada masa khulafaur-rasyidin ini juga dilakukan oleh para shahabiyah (sahabat wanita), sebab semasa Nabi saw masih hidup mereka mengikuti majelis-majelis Nabi saw di masjid maupun pertemuan umum untuk mendengar ucapan dan sabda Nabi saw. Kadangkala mereka keluar rumah mereka mengunjungi  rumah Nabi saw untuk bertanya dan mendengarkan berita-berita. Bahkan beliau sendiri memberikan waktu khusus bagi para shahabiyah. Di sini yang paling berperan adalah Ummahatul mu’minin.

As sunnah di masa khulafaur-rasyidin ini senantiasa menjadi bahan pembahasan dari waktu ke waktu karena kedudukannya yang agung di sisi Al Qur’an. Para sahabat pun sangat berhati-hati dalam menerima riwayat agar tidak salah dalam pemahaman dan pengamalan. Pernah terkisah Abdullah bin Umar meriwayatkan dari Nabi saw bahwa, “Mayat itu disiksa karena tangisan keluarganya”. Mendengar berita tersebut Ummul Mu’minin ‘Aisyah menyatakan bahwa Ibnu Umar tidak mengambil hadits sebagaimana mestinya dan tidak pas lafadznya. Karena menurut kejadiannya memberitakan bahwa Rasulullah saw lewat pada jenazah seorang wanita Yahudi yang ditangisi oleh keluarganya, kemudian beliau bersabda, “Mereka menangisinya, sedangkan ia disiksa di dalam kuburnya”. Jadi siksa itu bukanlah karena tagisan keluarganya, dan siksa yang diterima setiap orang mati itu bukanlah disebabkan oleh tangisan, sebagaimana kesimpulan yang ditarik dari lafadz-lafadz hadits riwayat Ibnu Umar. Hadits tersebut -menurut riwayat ‘Aisyah- adalah berita suatu kasus yang kemudian disampaikan oleh Nabi saw sebagaimana yang beliau dengar dan lihat. Jadi hal tersebut tidak mengandung hukum tertentu bagi syari’at.

Para sahabat dalam berijtihad untuk suatu hukum tertentu, tanpa disadari, kadang bersesuaian atau bertepatan dengan apa yang pernah dilakukan Nabi saw. Sebagai contoh, pernah diriwayatkan oleh An Nasa’i bahwa Ibnu Mas’ud pernah ditanya pendapatnya tentang seorang perempuan yang ditinggalkan mati oleh suaminya, sedangkan suaminya belum memberinya mas kawin. Ibnu mas’ud berkata, “Aku tidak tahu keputusan Rasulullah saw tentang masalah ini”.

Namun orang-orang terus mendesaknya hingga satu bulan lamanya. Maka Ibnu Mas’ud kemudian berijtihad dengan pendapatnya dan memutuskan masalah tersebut. Yaitu bahwa perempuan tersebut berhak mendapatkan maharnya –tidak kurang dan tidak lebih- ia wajib ‘iddah dan berhak mendapatkan warisan. Pada saat ijtihad itu diputuskan berdirilah Ma’qil bin Yasar memberikan kesaksian bahwa Nabi saw pernah memberikan keputusan seperti itu terhadap seorang wanita di antara mereka. Mendengar hal itu, Ibnu Mas’ud sangat bergembira dan merupakan kegembiraan yang belum pernah ia rasakan sejak ia memeluk Islam.[1]

Demikianlah sekedar contoh dari para sahabat dalam berinteraksi dengan as sunnah sepeninggal Rasulullah saw.

Pada zaman khalifah Abu Bakar dan Umar di samping lebih mengutamakan penyebaran Al Qur’an juga perintah untuk memperbagus bacaannya atau membenarkan tajwidnya. Beliau akan menghukum pada masa itu bagi mereka yang memperbanyak periwayatan. Bahkan Abu Bakar pernah menghimpun sejumlah hadits kemudian membakarnya.

Berkaitan dengan penulisan hadits, terdapat sikap sahabat yang mengalami dinamika. Sebagaimana sikap Umar bin Khattab yang sebenarnya telah terus menerus mempertimbangkan penulisan sunnah, beliau juga pernah berniat mencatatnya. Pernah diriwayatkan oleh Urwah bin Zubair bahwa Umar bin Khattab ingin menulis hadits, ia lalu meminta pendapat kepada para sahabat Nabi saw dan umumnya mereka menyetujui. Namun ia masih ragu, Umar kemudian selama sebulan melakukan istikharah, memohon petunjuk kepada Allah. Suatu pagi sesudah mendapat kepastian dari Allah, Umar berkata, “Aku telah menuturkan kepada kalian tentang penulisan kitab hadits, dan kalian tahu itu. Dan aku teringat bahwa ahli kitab sebelum kalian telah menulis beberapa kitab di samping Kitabullah. Namun ternyata mereka malah lengah dan meninggalkan Kitabullah. Dan aku, demi Allah, tidak akan mengaburkan Kitab Allah dengan sesuatu apa pun  untuk selama-lamanya”. Umar pun meninggalkan niatnya untuk menulis hadits.

Namun dalam pada itu terdapat pula riwayat lain tentang Abu Bakar dan Umar yang agak berbeda dengan riwayat di atas. Yaitu bahwa beliau berdua menulis hadits dan menganjurkannya.[2]

Al Khatib al Baghdadi berkata, “Ketidaksenangan para sahabat menulis hadits pada awal masa Islam karena tak ingin Al Qur’an ditandingi oleh kitab-kitab lain, atau khawatir mereka disibukkan oleh kitab-kitab tersebut sehingga melalaikan Al Qur’an”.

Berbeda dengan periwayatan Al Qur’an yang wajib disampaikan sesuai dengan lafadz aslinya bahkan tak boleh dengan sinonimnya sekalipun, sehingga dengan itu Al Qur’an tetap terjaga keasliannya tidak terdapat perubahan sedikitpun.

Di zaman khulafaur-rasyidin ini, para sahabat pada satu sisi mereka bersegara mengamalkan Al Qur’an dan As Sunnah yang mereka terima dan mengajarkannya kepada segenap lapisan umat, namun di sisi yang lain mereka sangat hati-hati dalam menerima hadits, mereka sangat memperhatikan rawi (pembawa berita) dan marwi (isi berita). Kehati-hatian inilah yang menjadikan sebab mereka tidak gemar memperbanyak penerimaan dan penyebaran periwayatan.

Pada zaman Abu Bakr ra, Umar ra dan juga  Ali ra, mereka tidak menerima periwayatan jika tidak disaksikan oleh sahabat lain, bahkan Ali ra tidak menerimanya jika tidak disumpah. Namun sikap demikian tidaklah mereka lakukan untuk keseluruhan penerimaan riwayat, adakalanya mereka tidak memerlukan saksi atau disumpah. Jadi sikap mereka itu bukan sikap umum, namun melihat kebutuhan saja jika diperlukan.

Khusus di zaman kekhalifahan Utsman ra dan Ali ra, ada mobilisasi dari sahabat-sahabat kecil (yunior) untuk mengumpulkan hadits-hadits dari sahabat-sahabat besar (senior). Maka mulailah para sahabat kecil melakukan perlawatan atau pengembaraan untuk mencari hadits. Tidak sebagaimana Al Qur’an yang terkumpul ke dalam mushaf, keberadaan sunnah pada zaman tersebut bertebaran di dalam sanubari para sahabat dan masyarakat Islam pada umumnya, yaitu terjaga dalam kekuatan hafalan mereka serta pengamalannya.

Pada saat itu pengumpulan as sunnah belum tersusun ke dalam kitab karena masih mengalami prosesnya, yaitu bahwa as sunnah masih terdapat pro dan kontra untuk pembukuannya. Jika saja as sunnah sudah disusun ke dalam buku sebagaimana Al Qur’an yang sudah tersusun ke dalam mushaf dan menjadi kesepakatan bersama, maka tadwin atau penyususan hadits ke dalam kitab referensi kedua juga akan segera menjadi pedoman atau pegangan hukum setelah Al Qur’an. Sementara itu masih banyak hadits yang bertebaran di kalangan sahabat dan umat Islam di dalam hafalan mereka yang sangat mungkin tidak terhimpun ke dalam kitab sunnah. Maka hal ini akan memiliki implikasi yang berat yaitu hadits-hadits yang tidak tercantum atau belum masuk ke dalam susunan kitab tentu akan tertolak, sebab akan di anggap sebagai hadits palsu. Dengan demikian akan tertolaklah banyak sunnah.

Maka jalan yang paling adil adalah membiarkan atau memberi kesempatan bagi umat untuk mengumpulkannya menurut kesanggupannya. Sehingga akan tersusun kitab sunnah sesuai kemampuan dan keadaan umat masing-masing lalu akan terkumpullah segala sunnah. Keadaan inilah yang menjadi sebab terdapatnya riwayat yang beraneka ragam, ada yang selamat dari cacat dan ada pula yang bercacat, ada yang hanya tercatat maknanya saja sedangkan lafadz aslinya telah lupa, ada yang berselisih dalam rawinya tentang kredibilitasnya, dan seterusnya. Maka tugas berikutnya ada di tangan para ahli untuk menyaring mana yang cacat dan mana yang tidak, mana yang maqbul mana yang mardud, yang akhirnya melahirkan ilmu-ilmu tentang hadits atau periwayatan.


[1] Qawa’id at-tahdits, 314

[2] Lihat Jam’ul Jawami oleh As-Suyuthi, hadits 196, tentang surat Abu Bakar kepada Anas mengenai kewajiban zakat yang diwajibkan oleh Rasulullah saw kepada kaum Muslimin. Lihat pula Al Mustadrak al-Hakim I/106; Jami’ Bayan ‘ilmi I/172 dan al Muhadits al-Fashil oleh Ar-Rahmahurmuzi, hadits tentang 400 ucapan Umar bin Khattab, “Ikatlah ilmu dengan tulisan”. Begitu juga Ali bin Abi Thalib menganjurkan mencatat ilmu, ia mengatakan, “Ikatlah ilmu dengan tulisan”. Ucapan ini sering diulang-ulang oleh banyak sahabat. (Lihat Taqyid al-ilmi, 90 dan Ma’adin al-jauhar oleh Al Amin al-amili I/3)

2 Tanggapan to “Hadits di Masa Khulafaur-Rasyidin”

  1. akbar 16/10/2012 pada 08:16 #

    subhanallah.. saya mengapresiasi tulisan ini..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: