AS SUNNAH PASCA KHULAFAUR-RASYIDIN

17 Okt

Sesudah masa khalifah Utsman ra dan Ali ra, para sahabat menyebarkan hadits ke wilayah yang lebih luas seiring dengan penaklukan di berbagai wilayah. Pada tahun 17 H tentara Islam mengalahkan Syiria dan Iraq, tahun 20 H mengalahkan Mesir, tahun 21 H mengalahkan Persia, tahun 56 H mengalahkan Samarkand, tahun 93 H menaklukkan Spanyol. Dengan terbukanya wilayah baru maka para sahabat yang masih hidup berpindah ke tempat-tempat tersebut untuk menyebarkan Al Qur’an dan As Sunnah. Maka kota-kota di berbagai wilayah penaklukan menjadi pusat pengajaran Al Qur’an dan As Sunnah, hingga suatu saat melahirkan sarjana-sarjana di kalangan para tabi’in.

Para sahabat kecil (yunior) sangat antusias melawat ke berbagai kota mencari para sahabat besar (senior) yang masih tersisa untuk mendapatkan hadits-hadits Nabi saw atau menanyakan (cross check) terhadap riwayat-riwayat yang pernah mereka terima.  Pada masa ini muncul julukan bagi sahabat-sahabat yang mendapat atau menerima periwayatan lebih dari seribu hadits dengan “bendaharawan hadits”. Jadi aktivitas para sahabat kecil yang “memburu” hadits tersebut sekaligus sebagai aktivitas pendataan “statistik” para sahabat besar. Mereka akan mendapati sahabat-sahabat besar yang dengan kemampuannya dapat menerima hingga ribuan hadits tersebut karena beberapa sebab:

  1. Karena termasuk dalam generasi awal masuk Islam (as-sabiqunal-awwalun), seperti Khulafaur-rasyidin dan Abdulah Ibnu Mas’ud.
  2. Karena terus menerus mendampingi Nabi saw dan kuat hafalannya, seperti Abu Hurairah.
  3. Ada pula sahabat yang sebenarnya ia masuk Islam setelah Nabi saw menetap di Madinah, namun setelah keIslamannya itu ia kemudian berinteraksi secara intensif dengan Nabi saw dan banyak sahabat hingga banyak pula hadits-hadits Nabi saw yang ia terima. Seperti itulah keadaan seorang sahabat Anas bin Malik.
  4. Bendaharawan hadits juga diberikan kepada isteri-isteri Nabi saw ‘Aisyah dan Ummu Salamah, karena merekalah orang yang paling dekat dan paling mengetahui keadaan Nabi saw.

Para sahabat  secara umum  memiliki kekuatan hafalan dan banyak meriwayatkan hadits, seperti Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Jabir bin Abdullah, Abu Sa’id al-Khudri, dan sahabat yang berupaya mencatatkannya seperti Abdullah bin Amr bin ‘Ash.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: