AS SUNNAH DI MASA TABI’IN DAN SETELAHNYA

18 Okt

Interaksi para tabi’in terhadap sunnah Rasulullah saw secara prinsip tidaklah berbeda dengan apa yang pernah dilakukan oleh para sahabat. Pengetahuan mereka terhadap sunnah juga bertingkat-tingkat, namun tidaklah terdapat perbedaan terhadap sunnah mengenai apa yang mereka ijtihadkan dan yang mereka istinbath-kan. Tabi’in mengutip apa yang pernah dilakukan oleh para sahabat sebelum mereka. Setiap tabi’in hafal apa yang mudah bagi mereka, mengetahui jalan-jalan dan pendapat para sahabat, kemudian mempertemukan pendapat-pendapat yang berlainan menurut cara yang mudah bagi mereka serta mengunggulkan sebagian pendapat atas sebagian yang lain.

Beberapa hal yang mengalami dinamika mengenai interaksi dengan as sunnah pada pada masa tabi’in ini adalah bahwa para tabi’in memiliki tokoh-tokohnya yang ‘alim (pandai) yang akan menjadi rujukan bagi setiap tabi’in dan umat pada umumnya.  Permasalahan lahirnya para tokoh ini tidaklah sederhana, karena keberadaannya berkaitan erat dengan dinamika politik yang berkembang pada saat itu. Yaitu antara permasalahan yang berkaitan dengan penguasaan wilayah Islam yang  semakin meluas berikut problematika yang berkaitan dengannya, seperti kultur baru dan sebagainya, juga terkait dengan dinamika politik pemerintahan Islam yang berkembang.

Keberadaan para tokoh yang berilmu melahirkan jalan pemahaman Islam yang tersendiri di setiap negeri. Pada setiap wilayah Islam, baik yang lama maupun yang baru, memiliki imam (panutan) sendiri-sendiri. Orang-orang meminta fatwa kepada imam-imam mereka, masalah baru pun muncul dan beredar bersama mereka. Kasus-kasus hukum yang belum pernah terjadi pada waktu sebelumnya memaksa para imam melahirkan pendapat baru di kalangan mereka. Setiap wilayah memiliki kultur yang berbeda yang menjadikan terjadinya perbedaan pendapat di antara para imam di satu wilayah dengan wilayah lain.

Para imam memiliki pengikut yang berjumlah banyak, pendapatnya diikuti serta disebarluaskan. Keadaan ini memiliki implikasi yang besar di antara umat Islam yang semakin heterogen tersebut, yaitu kesan adanya aneka ragam pemahaman atau jalan yang ditempuh. Inilah yang kemudian disebut sebagai madzhab.

Berkaitan dengan penulisan sunnah, sebenarnya pada masa tabi’in, utamanya pada generasi awal (tabi’in besar), tidak menyukai atau belum memprioritaskan penulisan as sunnah. Karena pada masa awal tabi’in masih mempertahankan kebijakan pada masa khulafaur-rasyidin. Sehingga penulisan hadits pada masa awal tabi’in menjadi aktivitas yang “terlarang”.  Alasan lain di samping karena zaman itu masih memfokuskan pada penyebaran Al Qur’an, juga karena ada kekhawatiran bahwa pencatatan hadits akan tersisipi oleh ucapan rawi. Hal ini yang pernah terjadi pada Jabir bin Zaid (93 H) ia adalah seorang tabi’in besar yang mendapat laporan bahwa banyak orang yang mencatat ucapan-ucapannya. Inilah yang membuat ia marah, “Mereka menuliskan sesuatu yang besok mungkin aku ralat”, katanya.

Namun dalam perjalanan waktu, akhirnya mereka mulai melonggarkan penulisan hadits bahkan menganjurkannya karena alasan penulisan ilmu. Jadi para tabi’in tidaklah berbeda pendapat dalam hal penulisan ilmu, hanya saja karena kekhawatiran pencampuradukan antara hadits dan pendapat seseorang itulah yang melahirkan larangan penulisan hadits. Maka tak heran jika kita mendapatkan ungkapan dari Ibnu Abbas bahwa, “Sesungguhnya yang menyesatkan orang-orang sebelum kalian adalah adalah kitab-kitab”.  Namun pada kali yang lain ia juga mengatakan, “Sesuatu yang paling baik untuk mengikat ilmu adalah kitab (tulisan)”.

Banyak di antara tabi’in dari generasi pertengahan (awal abad 2 H) tidak menentang pencatatan ilmu dan membiarkan murid-muridnya mencatat. As Sya’bi (104 H) menyandarkan ungkapan yang sudah populer di kalangan sahabat dan tabi’in kepada Rasulullah saw. Ungkapan tersebut adalah, “Kitab (tulisan) adalah tali ilmu”. As Sya’bi juga berkata, “Apabila kalian mendengar sesuatu dariku tulislah, walau pun di dinding”.

Qatadah bin Di’amah as-Sadusi (118 H) berkata kepada seseorang yang meminta fatwanya tentang penulisan, “Apa yang menghalangimu menulis? Padahal Allah Yang Mahabijaksana telah memberitahukan kepadamu bahwa Dia menulis: ‘Pengetahuan  tentang itu ada pada sisi Tuhanku di dalam sebuah kitab. Tuhan kami tidak akan salah dan tidak pula lupa”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: