BENAR-BENAR HARI RAYA

25 Okt

10 Dzulhijjah, di pagi yang cerah maupun yang mendung, jutaan ummat Islam serentak mengumandangkan takbir, tahmid, tahlil. Gemuruh takbir itu membahana seakan mengguncang dunia, dikumandangkan oleh semua usia, tua muda, besar kecil, pria wanita. Mereka memuji Allah, karena Dia-lah yang paling pantas dipuji. Mereka membesarkan Allah, karena Dia-lah yang paling pantas di-Mahabesar-kan dan disanjung-sanjung. Jagat raya ini menyaksikan kebesaran, keagungan atau pun kemuliaan Allah. Langit, bumi, bintang-bintang, hewan, malaikat, jin semuanya bertasbih memuji dan mengagungkan-Nya. Hanya manusia nista yang enggan memuji dan mengagungkan-Nya.

Bagi sebagian ummat Islam ada yang dipilih Allah untuk menunaikan ibadah haji. Mereka wuquf seharian di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijah, semalam mereka bermalam di Muzdalifah, dan subuh meluncur ke Mina untuk melempar jumrah. Mereka tak henti-hentinya melantunkan talbiyah: “Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syarika laKa labbaik. Innal-hamda wan-ni’mata laKa wal-mulk laa syarika laK”. Hal itu merupakan manifesto seorang hamba Allah serta menegaskan kesiapannya untuk memenuhi seruan dan panggilan Allah swt, juga deklarasi anti kemusyrikan. Merekapun membasahi jiwa dengan dzikir dan do’a dengan lidah-lidah mereka, mengakui ketidakberdayaan di atas kekuasaan Al-Khaliq.

Sungguh, ibadah haji sangatlah dalam maknanya, ia merupakan simbol penghambaan diri secara penuh kepada Al Khaliq. Manusia, apapun jabatan dan kedudukannya di hadapan manusia, kekuasaan yang dipegangnya, kekayaan yang dimilikinya, kepopuleran yang disandangnya, semua patuh  dan tunduk pada aturan yang ditetapkan Allah di dalam haji. Tak seorangpun protes mengapa dirinya harus berputar tujuh kali keliling mengitari ka’bah di tengah lautan manusia, berlari-lari kecil di antara Shafa dan Marwa. Tak seorangpun yang keberatan berpanas-panas di padang Arafah, kemudian di malamnya yang melelahkan, mereka harus singgah di Muzdalifah sambil memungut batu-batu kecil untuk melempar jumrah pada waktu subuhnya. Mereka semua begitu pasrah, patuh dan tunduk sepenuhnya pada aturan Allah.

Demikian itulah pelajaran penting bahwa seluruh aturan Allah hendaknya diamalkan dengan landasan ibadah kepadaNya dengan ikhlas. Khususnya ibadah mahdhoh, ibadah yang aturannya sudah ditetapkan Allah, harus kita amalkan sekalipun kita belum menemukan hikmahnya. Seperti tentang mengapa harus shalat lima waktu dan menghadap ka’bah, haramnya bangkai, darah, daging babi, tentang masa iddah wanita, dan sebagainya, semua dijalankan tanpa beorientasi pada hikmah. Itu semua adalah identitas, mengamalkannya dengan penuh ketundukan berarti menegakkan identitas Islam. Seandainya belakangan terdapat ilmu atau hikmah yang luar biasa akan hal tersebut, itu merupakan nikmat dari Allah swt yang patut disyukuri. Oleh karenanya mencari hikmah dalam ibadah tersebut sangat baik diupayakan agar semakin terasa nikmat iman dan Islam. Adapun ibadah yang berorientasi hikmah dan manfaat hanya pada ibadah yang sifatnya umum.

Di dalam ibadah haji mengandung kesetaraan dan persatuan Islam, di sana tak ada perbedaan status manusia,tak ada fasilitas khusus bagi raja atau presiden dengan tukang sapu. Mereka sama-sama mengenakan pakaian ihram putih, bersama-sama berdesak-desakan terkena terik matahari, tak ada diskriminasi kulit hitam dengan kulit putih dan yang cokelat. Mereka datang dari berbagai suku dan negara untuk berkumpul dan berbaur di tempat yang sama, serta bersaudara  tanpa menonjolkan satu dengan lainnya. Mereka semua hamba Allah, kemuliaan mereka hanya pada kadar taqwa mereka kepada Allah. Seolah Allah hendak “mempresentasikan” kepada seluruh manusia akan hakekat penciptaan manusia di bumi ini, yaitu keanekaragaman dalam kesatuan visi kehidupan untuk hanya beribadah kepadaNya.

Bagi yang langsung menyaksikan peristiwa Arafah, lautan manusia di padang pasir dengan busana serba putih, tentu akan mengingatkan kita dengan hari berbangkit dari alam kubur nanti, di padang mahsyar, pada hari perhitungan. Semua akan dibangkitkan Allah dari kuburnya, berkumpul di satu tempat, sejak manusia pertama Adam as. hingga manusia terakhir. Semuanya akan bertanggung jawab atas amal perbuatan mereka di dunia di hadapan Allah swt, Al-Qadhi Rabbul-Jalil. Saat itu tak ada dosa yang tersembunyi, tak ada kesalahan yang luput dari perhitungan Allah swt, tak ada yang bisa lari dari pengadilan-Nya, pengadilan yang tak pernah curang. Dosa besar dan kecil, semua terdaftar dalam catatan amal setiap manusia.

Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun”. (Al Kahfi: 49)

Tak ketinggalan, 10 Dzulhijjah, seluruh manusia ditarbiyah oleh Allah dengan ber-qurban. Seluruh umat Islam di muka bumi menyambut seruan qurban dengan gema takbir, tahlil dan tahmid. Syari’at qurban mengandung pesan kepada manusia agar bersedia berkorban dengan segala kesayangan dan kecintaanya sebagai bukti sikap pasrah dan tunduk kepada Allah, serta wujud nyata keimanan kepada-Nya.  Sehingga kita saksikan ghirah umat Islam begitu menggelora dangan ibadah ini, dan bahkan disambut oleh orang-orang Islam yang minim keimanannya sekalipun, mereka tumbuh semangat untuk terlibat dalam ibadah qurban.

Belajar  dari Ibrahim as, yang dengan ber-qurban, beliau mampu mengubah dunia dengan peradaban yang mulia, do’a-do’anya diijabahi Allah, sebagaimana beliau mendo’akan padang tandus Hijaz menjadi Mekah al Mukarromah yang bisa kita saksikan sekarang ini. Insya Allah untuk waktu-waktu berikutnya umat Islam akan maju bersama Allah, untuk membangun dunia yang damai.

Demikian itulah qurban yang berarti mendekat, yaitu mendekat kepada Allah swt, dan hari-hari berikutnya, daging-daging pun bercahaya memenuhi matahari, itulah hari tasyriq, hari yang bercahaya karena umat Islam mengimplementasikan ketaqwaannya.

Maka saksikanlah wahai manusia yang masih mendengki orang-orang mukmin, hari ini amal kalian terputus..

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illa Allah wallahu akbar, Allahu akbar wa lillahil-hamd.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: