KATEGORI SUNNAH DALAM PANDANGAN PARA ULAMA (1)

2 Nov

Dalam pandangan Imam ibnu Qutaibah

Beliau berpendapat bahwa sunnah terbagi tiga, yaitu:

Pertama, sunnah yang dibawa oleh Jibril as. Maka sunnah-sunnah semacam ini bersumber dari wahyu.

Kedua, sunnah yang diperbolehkan oleh Allah swt untuk disunnahkan. Jadi di sini Nabi saw diberi keluasan untuk menerapkankannya sesuai pendapat beliau.

Ketiga, sunnah yang berdimensi pengajaran semata. Jika kita mengamalkan akan mendapat keutamaan, dan jika meninggalkan tidak terbebani dosa.

Dalam pandangan Imam al-Qarafi

Beliau memaparkan tentang kapasitas Nabi saw sebagai pemimpin, sebagai hakim, dan pemberi fatwa atau pemyampai risalah dari Allah swt. Dengan ketiga kedudukan tersebut akan mempengaruhi dalam keumuman hukum dan kekhususannya, serta generalitasnya atau temporernya. Hal-hal semacam itu akan menghasilkan pengaruh yang berbeda dalam penerapan syari’at dalam lapangan kehidupan kita.

Apa yang disabdakan dan diperbuat beliau dalam kapasitasnya sebagai penyampai risalah dari Allah swt, maka akan menjadi hukum yang bersifat universal dan berlaku hingga hari kiamat.

Kemudian apa yang dilakukan beliau dalam kapasitas sebagai pemimpin, maka tidak ada orang yang boleh melakukannya kecuali dengan seizin imam (pemimpin), sesuai dengan perbuatan Nabi saw. Hal ini karena perbuatan dan perilaku beliau sebagai pemimpin menuntut melakukannya, bukan dengan maksud mengajarkan atau menyampaikan perintah dari Allah swt.

Adapun kapasitas beliau sebagai hakim, maka tak seorang pun boleh melakukannya kecuali atas perintah dari hakim, sesuai dengan perbuatan Nabi saw. Ini karena kapasitas beliau sebagai hakim menuntut beliau untuk melakukannya.

Imam Ibnul Qayyim juga sejalan dengan apa yang telah dipaparkan oleh al-Qarafi tersebut.

Pandangan Waliyullah ad-Dahlawi

Ia berpandangan tentang sunnah yang berdimensi hukum yaitu, sunnah yang disabdakan sebagai risalah. Sebagaimana penjelasan-Nya, “…apa saja yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah…” (QS Al Hasyr: 7)

Mengenai hal itu ada yang berlandaskan wahyu dan sebagiannya berlandaskan ijtihad. Dan ijtihad Nabi saw sama dengan wahyu, karena beliau telah terjaga dari kesalahan dalam berijtihad. Ijtihad beliau berdasarkan ilmu Allah swt yang telah diajarkar kepada beliau tentang tujuan syari’at, metodologi penetapan hukum, dan mencari penentuan hukum yang mempermudah, kemudian beliau menterjemahkan apa yang diterimanya melalui wahyu dengan perantaraan itu. Hal ini seperti hukum-hukum tentang kemaslahatan.

Kemudian sunnah yang disabdakan bukan dalam kapasitas Nabi saw sebagai penyampai risalah. Yaitu dalam hadits-hadits Nabi saw yang bertemakan nasihat-nasihat kesehatan, karena ia bersumber dari percobaan dan pengalaman. Juga dalam hal kebiasaan yang bukan karena tujuan ibadah, untuk mengambil suatu kemaslahatan temporer saat itu, dan hal-hal yang terjadi karena kebetulan, bukan karena kesengajaan.

Pendapat Rasyid Ridha

Sayyid Muhammad Rasyid Ridla berpendapat tentang masalah dalam mencontoh perilaku Rasulullah saw, yaitu tatkala menafsirkan ayat, “wat tabi’uuhu la’allakum tahtadun” (…dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk)[1]. Ia berkata, firman ini (wat tabi’uuhu…”ikutilah dia”) lebih umum daripada firman-Nya pada ayat sebelumnya: “Wat-taba’u-nnuur-alladzii unzila ma’ahu[2], karena perintah dalam ayat ini hanya untuk mengikuti Al Qur’an saja. Sedangkan parintah pada kata “wat tabi’uuhu” mencakup segala hal mengikuti Nabi saw dan menjalankan hukum-hukum yang beliau putuskan sendiri. Hal ini karena Allah swt memberikan hak dan izin kepada beliau untuk melakukan itu, dan memerintahkan kepada umat untuk mengikuti beliau dalam ijtihad dan keputusan yang beliau ambil, jika memang itu ditujukan untuk menjadi hukum.

Tidak masuk dalam kewajiban mengikuti beliau dalam hal adat kebiasaan seperti kebiasaan dalam pengobatan, serta kebiasaan yang tidak mengandung ibadah dan tidak berkaitan dengan hak dan kewajiban yang menuntut aturan hukum.


[1] Al A’raaf: 158

[2] “..dan mereka mengikuti cahaya yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an)”. (al-A’raaf: 157)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: