KATEGORI SUNNAH DALAM PANDANGAN PARA ULAMA (2)

3 Nov

Menurut Syekh Mahmud Syaltut

Setelah ia menyerap pendapat-pendapat Ad Dahlawi, Rasyid Ridla, Al Qarafi dan ulama lain, ia berpendapat bahwa sabda, perbuatan dan persetujuan yang diriwayatkan dari Rasulullah saw dan ditulis dalam kitab-kitab hadits terbagi menjadi beberapa bagian:

Pertama,  sunnah yang berkaitan dengan kebutuhan manusia seperti makan, minum, duduk, tidur, berjalan, bertetangga, menyelesaikan perselisihan di antara dua orang dengan cara yang biasa dipergunakan manusia, memberi pertolongan dan melakukan transaksi dalam jual beli.

Kedua, sunnah yang berkaitan dengan pengalaman dan kebiasaan individu atau masyarakat, seperti bercocok tanam, pengobatan, dan panjang pendeknya pakaian.

Ketiga, sisi kehidupan beliau yang berkaitan dengan strategi manusiawi yang pada suatu situasi dan kondisi tertentu, seperti pembagian tentara dalam medan peperangan, mengatur barisan dalam satu tempat, bersembunyi, berlari, mundur, memilih tempat singgah, dan hal-hal lainnya yang ditentukan oleh situasi dan kondisi tertentu.

Seluruh sunnah yang berkaitan dengan tiga macam ini tidak termasuk syari’at yang harus dikerjakan atau ditinggalkan. Karena hal itu hanyalah sebuah perbuatan manusia yang tidak harus disyari’atkan serta dijadikan landasan syari’at.

Keempat, sunnah yang mengandung syari’at. Untuk hal ini terbagi menjadi beberapa bagian:

  • Sunnah yang disampaikan oleh Nabi saw, dalam kapasitas beliau sebagai penyampai risalah, seperti menjelaskan yang masih general dalam Al Qur’an, mengkhususkan yang umum, mengikat yang mutlak, menjelaskan satu segi ibadah atau tentang halal dan haram, tentang aqidah, akhlaq, atau suatu hal yang berkaitan dengan hal-hal tersebut.

Maka sunnah seperti ini adalah syari’at yang berlaku secara umum hingga hari kiamat dan jika ada sesuatu yang dilarang, maka semua orang agar menjauhinya, semenjak ia mengetahui hukumnya dan mendapatkannya.

  • Sunnah yang disampaikan oleh Nabi saw dalam kapasitas beliau sebagai pemimpin umum bagi masyarakat Islam, seperti mengirim tentara untuk berperang, membelanjakan harta baitul mal (kas negara) sesuai fungsinya dan mengumpulkannya dari berbagai sumber-sumbernya, melakukan pengadilan, membagi rampasan perang, mengikat perjanjian dan hal-hal lain yang menjadi urusan pemimpin, dan strategi pencapaian kemaslahatan masyarakat.

Maka sunnah semacam ini bukanlah syari’at yang berlaku secara umum. Ia tidak boleh dilakukan kecuali dengan izin pemimpin. Juga seseorang tidak boleh melakukan sesuatu dari perbuatan itu dengan spontanitas dari dirinya saja dengan dalih karena Nabi saw telah melakukannya atau memerintahkannya.

  • Sunnah yang dilakukan oleh Nabi saw dalam kapasitas beliau sebagai hakim/qadli. Karena di samping sebagai rasul penyampai risalah dari Rabb-nya, serta pemimpin tertinggi umat Islam yang mengatur kehidupan dan strategi politik mereka, beliau juga berperan sebagai seorang hakim yang memberikan kata putus dalam perkara-perkara dengan mengajukan bukti, sumpah, atau pengingkaran

Hukum sunnah seperti itu bukanlah aturan syari’ah yang bersifat untuk umum. Maka siapapun tidak boleh melakukan tindakan tersebut dengan inisiatif pribadi kemudian berperan sebagai hakim.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: