KATEGORI SUNNAH DALAM PANDANGAN PARA ULAMA (3)

5 Nov

Pendapat Syekh Qardhawi

Syekh Qardhawi memberikan komentar terhadap apa yang disampaikan syekh Mahmud Saltut. Kata beliau bahwa sunnah yang berkaitan dengan makan, minum, tidur, duduk, berjalan, bertetangga, dan semacamnya, memang termasuk dalam kategori perilaku sehari-hari manusia. Namun harus ada pembedaan antara sunnah yang diriwayatkan dilakukan oleh beliau dengan sunnah yang disabdakan.

Apa yang dilakukan beliau, seperti makan dengan tangan (tidak menggunakan sendok/garpu), dan sebagainya, tidak serta merta menunjukkan akan kewajiban atau sunnah, selama perbuatan itu tidak ditujukan untuk beribadah. Namun orang yang melakukannya sebagai ungkapan kecintaan terhadap Nabinya, maka ia telah meakukan kebaikan dan berpahala. Hal ini sebagaimana apa-apa yang telah dilakukan oleh Ibnu Umar ra.

Sedangkan sabda beliau juga mengandung syari’at jika terdapat petunjuk yang menyertainya. Seperti adanya redaksional yang berisi penguat dalam perintah, atau adanya ancaman ketika melarang. Hal ini bisa dilihat dalam hadits tentang makan dengan tangan kiri, memakai kain sutra bagi laki-laki, makan dan minum dengan tempat dari emas dan perak serta lainnya, yang redaksionalnya menunjukkan keharamannya. Di sisi lain sabda beliau itu juga bersifat irsyad (tuntunan/keutamaan)

Pendapat Thahir bin Asyur

Menurutnya, Rasulullah saw mempunyai perilaku dan sifat yang dapat menjadi pendorong sabda dan tindakan yang beliau lakukan. Di sini harus cermat dalam membedakan antara sabdanya yang beliau ucapkan dalam kapasitas beliau sebagai tasyri’ (pemberi tuntunan hukum), dan sabda-sabda yang beliau ucapkan bukan dalam kapasitas tersebut. Para sahabat jika mengalami kesulitan dalam hal ini, mereka segera bertanya kepada Rasulullah saw.

Sunnah yang tidak mengandung tuntunan, yaitu sunnah yang tidak berkaitan dengan penentuan hukum, tuntunan beragama, membersihkan jiwa, dan mengatur masyarakat, tetapi semata-mata perbuatan yang didorong oleh spontanitas dan gerak sebagai makhluq hidup. Ini karena Rasulullah saw banyak melakukan perbuatan dalam kehidupan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dengan perbuatan yang tidak ditujukan sebagai hukum, serta manusia tidak dituntut untuk melakukan itu dan diberi keleluasaan sesuai situasi dan kondisinya. Hal ini seperti tentang apa yang ia makan, masalah pakaian, tempat tidur, berkendaraan, dan semacamnya. Termasuk juga hal ini yang berkaitan dengan peribadatan seperti berkendaraan unta tatkala berhaji atau dalam shalat beliau ketika menurunkan tangan dahulu saat hendak sujud, (menurut orang yang melihat bahwa Nabi saw menurunkan dua tangannya terlebih dahulu sebelum kedua kaki/lututnya) di saat usia beliau mulai tua dan bertambah gemuk. Ini pendapat Abu Hanifah.

Penting untuk diketahui dari kapasitas Rasulullah saw sebagai pembawa risalah dan sebagai pemberi tuntunan syari’at. Karena kedua fungsi inilah sebagai tujuan utama diutusnya beliau, sebagaimana firman-Nya, “Muhammad hanyalah seorang rasul..” (Ali Imran: 144)

Sehingga segala perbuatan dan sabdanya yang berkaitan dengan ummat Islam, adalah bagian dari syari’at, kecuali jika ada petunjuk bahwa hal itu bukan bagian dari penentuan syari’at.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: