KATEGORI SUNNAH DALAM PANDANGAN PARA ULAMA (4)

6 Nov

Menurut  Muhammad bin Shalih al-Utsaimin

Dalam hal ini beliau memberikan tausiyahnya sebagaimana berikut:

Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada manusia terbaik sepanjang zaman dan penutup para nabi dan rasul, Muhammad saw, yang telah membawa manusia dari alam jahiliyah kepada masa yang terang benderang yang penuh dengan iman dan ilmu pengetahuan, juga kepada para keluarga, sahabat, dan orang-orang yang tetap istiqamah menegakkan risalah yang dibawanya hingga akhir zaman.

Salah satu karunia Allah subhanahu wata’ala yang diberikannya kepada umat Islam adalah tidak adanya perbedaan bahwa sumber utama dalam hukum dan sikap hidup kita adalah Al Qur`an dan as-Sunnah. Ketika Rasulullah saw wafat, Allah swt telah menyempurnakan ajaran agama ini, seperti disebutkan dalam firman-Nya:

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu”. (Al-Maidah:3)

Demikian pula dengan Sunnah, tidak ada satu sisi pun, baik yang berhubungan dengan syari’at atau pun dalam kehidupan sehari-hari, kecuali telah disampaikan dan dicontohkan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti yang tercatat dalam kitab-kitab Sunnah.

Umat Islam di masa Rasulullah (baca: sahabat) selalu kembali kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam setiap kali terjadi perbedapat pendapat atau perselisihan di antara mereka. Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan, sirnalah perselisihan dan perbedaan di antara mereka.

Atau terjadi kasus yang cukup rumit, sehingga Rasulullah saw berdiam diri menunggu turunnya al-Qur`an, namun setelah turunnya Al Qur`an yang menjelaskan realita dan hukumnya, sirnalah segala persoalan yang mengganjal mereka. Seperti kasus ‘berita bohong’ shallallahu ‘alaihi wasallam (hadits ifk) yang dialamatkan kepada ‘Aisyah ra dan juga penyebab turunnya ayat tentang li’an dalam surah an-Nuur yang dialami salah seorang sahabat Rasulullah saw, yaitu Hilal bin Umayyah ra, salah satu dari tiga orang yang Allah swt menerima taubatnya ketika ketinggalan dalam perang Tabuk pada tahun ke sembilan Hijriyah.

Al Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa di masa pemerintahan Amirul Mukminin Umar bin Khaththab ra, setelah Palestina di kuasai kaum muslimin, Khalifah Umar ra melakukan perjalanan menuju Palestina bersama satu rombongan dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Ketika di tengah perjalanan, terdengarlah kabar bahwa di negeri Syam tengah dilanda wabah yang sangat berbahaya serta telah banyak menelan korban jiwa.

Dalam sejarah Islam disebut dengan wabah ‘Tha’un Amwas’. Wabah ini telah menelan korban sekitar 25.000 jiwa, termasuk di antaranya adalah panglima besar Abu Ubaidah Amir bin Al Jarrah dan Mu’adz bin Jabal.

Mendengar berita itu, Umar ra menahan perjalanan dan bermusyawarah dengan para pembesar dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Terjadilah perbedaan pendapat di antara mereka dalam masalah, apakah mereka meneruskan perjalanan atau kembali ke Madinah.

Yang berpendapat untuk kembali ke Madinah memberikan argumentasi bahwa masuknya mereka ke kota itu akan membawa mereka kepada kematian, karena wabah itu sangat berbahaya. Sedangkan pendapat kedua memberikan hujjah bahwa semua yang terjadi tidak pernah terlepas dari qadha dan qadar Allah swt. Semua itu telah tercatat di Lauhul Mahfuzh. Pada saat itulah Abdurrahman bin Auf ra datang dan berkata, ‘Sesungguhnya saya mempunyai pengetahuan tentang hal ini, saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Apabila kalian mendengar berita tentangnya (penyakit tha’un) di suatu negeri, maka janganlah kamu memasukinya. Dan ketika wabah penyakit itu tengah terjadi, sedang kamu berada di sana, maka janganlah keluar (pergi meninggalkan negeri itu) karena lari dari penyakit tersebut.” (HR. Al Bukhari no. 5729 dan Muslim no. 2219).

Setelah mendengar hadits tersebut, semuanya tunduk dan patuh terhadap Sunnah Rasulullah saw dan kembali ke kota Madinah.

Demikian pula yang sering terjadi di masa sekarang, sering kita dengar perbedaan pendapat di kalangan para ulama, dan salah satu penyebab yang dominan adalah tidak sampainya nash atau dalil kepada orang yang keliru dalam mengambil suatu keputusan hukum, di samping adanya sebab-sebab yang lain tentunya. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: