Ruhani yang ringkih

7 Nov

Adakalanya seseorang mengalami kekeringan jiwa atau kegalauan yang   berkepanjangan menggelayuti hati  seolah telah kehilangan diri entah kemana, maka ia menjalani hidupnya tanpa kekuatan jiwa atau ruhaninya. Keringkihan ruhani, begitulah diistilahkan, yang jika dibiarkan akan menjadikan sakit hingga berujung kepada kematian ruh, oleh karenanya harus segara dicermati dan diatasi.

Adapun fenomena keringkihan ruhan tersebut adalahi:

  • Merasakan betapa keras dan kasarnya hati, bagaikan batu, tak ada yang dapat menembus dan merembes kepadanya serta yang mampu mempengaruhinya.

Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi” (al baqarah: 74)

  • Perangai yang tersumbat, dada yang sempit, kelelahan lelah jiwa, tampak sifat gelisah dan sering mengeluh, enggan peduli terhadap derita orang lain, tidak menyukai seseorang tanpa alasan yang benar.
  • Tidak terpengaruh oleh ayat-ayat al Qur’an, bahkan merasa sesak dengan bacaannya. Tidak menyediakan waktu untuk berinteraksi dengan al Qur’an, dengan mendengarkan dari orang lain, mentadaburi, dan ia tidak melakukannya dengan khusyu’ dan tenang.
  • Tidak mendapat pelajaran dari peristiwa kematian.
  • Kecintaan terhadap kesenangan duniawi semakin bertambah, syahwat semakin berkobar dalam pikiran dan hatinya hingga terobsesi untuk merealisasikannya. Ia tersiksa dengan kenikmatan dunia yang diraih oleh orang lain terlebih saudara atau sahabatnya, ia menganggap dirinya gagal hingga timbul hasad akan lenyapnya kenikmatan itu dari saudaranya.
  • Kegelapan batin yang meliputi wajahnya dan dapat terbaca oleh mu’min yang memiliki ketajaman firasat dan memandang dengan nur Allah. Setiap mu’min memiliki nur dengan kadar keimanannya dan dapat melihat sesuatu yang tak mampu terbaca oleh orang lain. Keringkihan ruhani yang kronis dapat terbaca oleh mereka yang memiliki firasat imaniyah yang lemah sekalipun. Namun kegelapan ruhani yang remang-remang hanya dapat terbaca oleh firasat imaniyah yang kuat.
  • Bermalas-malasan dalam beribadah dan kebaikan yang hal itu terlihat pada kurangnya perhatian dan semangat. Shalatnya hanya sebatas gerakan dan bacaan semata, ibadahnya bagaikan penjara baginya dan ingin segera berlepas darinya.
  • Lupa yang amat sangat kepada Allah, terlihat dengan sedikitnya dzikrullah, padahal selalu berhadapan dengan ayat Allah di sekitarnya serta enggan berdo’a kepadaNya.

Solusinya adalah dengan bersungguh-sungguh (mujahadah), baik dengan sisa-sisa kekuatan dirinya maupun dengan bantuan orang lain untuk :

  • Menghadirkan fenomena kebesaran Allah swt, keagungan-Nya serta keluasan rahmat-Nya.

Ziarah atau berkunjung ke sanak saudara yang sedang dirundung musibah, yatim piatu dan sebagainya,  rihlah (mengadakan perjalanan) ke tempat-tempat yang menakjubkan, dan sebagainya, adalah sarana yang bisa dipilih untuk menghadirkan Allah swt di hati manusia.

  • Selalu dzikrullah, yaitu dengan keseluruhan unsur manusia yang meliputi persetujuan hati, akal dan jasadnya. Hal ini bisa dilakukan dengan membaca, memperhatikan al qur’an, membaca wirid harian, memperbanyak do’a, dan sebagainya untuk mengalahkan dorongan kekuatan setan dan hawa nafsu.
  • Menghadirkan potret akhirat.

Sarana terdekat untuk dzikrul akhirat adalah qubur. Tersebut seorang salafush shalih yang menggali qubur di rumahnya, di kala ia merasakan kekeringan ruhani ia memasuki qubur tersebut seraya membaca ayat Allah: “(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan” (Al Mu’minun: 99-100). Setelah itu ia keluar dari “qubur” dan berkata, “Wahai jiwa, kini engkau telah kembali ke dunia, maka beramal shalih-lah”.

  • Mengingat kematian lebih dekat kepadanya dari tali sendalnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: