Adab Bertamu

9 Nov

Agar kehidupan kita dalam hal kunjung mengunjungi berdampak positif, maka sebaiknya memperhatikan bagaimana Islam memberikan tuntunan akan hal ini. Dalam hal bertamu, sebelum memasuki rumah seseorang, hendaklah yang bertamu terlebih dahulu meminta izin dan mengucapkan salam kepada penghuni rumah.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat”. ( An Nuur: 27)

Dengan demikian apabila tamu melihat salah seorang penghuni rumah, maka hendaknya ia mengucapkan salam terlebih dahulu. Namun jika tidak melihat penghuni rumah, ia meminta izin terlebih dahulu, dengan kata-kata ataupun ketukan ataupun cara-cara yang dikenal oleh masyarakat setempat.

Meminta izin dituntunkan tidak lebih dari tiga kali, sehingga apabila tidak ada jawaban maka tamu seyogyanya meninggalkannya. Jika diperhatikan maka sesungguhnya izin atau ketukan yang pertama itu sebagai pemberitahuan kepada penghuni rumah akan kedatangan tamu. Ketukan kedua memberi kesempatan kepada penghuni rumah/tuan rumah untuk bersiap-siap akan segala sesuatunya, mungkin mengenai penampilan dirinya, meja dan kursinya dan sebagainya. Sedangkan ketukan ketiga diharapkan tuan rumah sudah berjalan menuju pintu. Berilah jarak waktu yang cukup antara izin/ketukan yang satu ke berikutnya.

Oleh karenanya jika ketukan ketiga tetaplah tidak ada reaksi apapun, ada kemungkinan tidak ada orang di dalam rumah atau penghuni rumah tidak siap/tidak bersedia menerima tamu pada saat tersebut. Sering tidak disadari oleh tamu bahwa tidak setiap bertamu itu harus ditemui. Biasanya si tamu malah semakin mengeraskan suara dan  ketukan keras di pintu berkali-kali, mengetuk pintu atau jendela sebelahnya, seolah memaksa penghuni rumah untuk keluar.  Padahal bisa jadi banyak alasan yang membuat penghuni rumah tidak memungkinkan untuk menemuinya, mungkin sedang memulai shalat, mungkin sedang dalam keadaan kejiwaan yang galau, sedang dalam perbincangan keluarga yang serius, dan sebagainya sehingga mempengaruhi raut muka dan penampilannya yang tidak menginginkan dirinya dilihat orang lain dalam keadaan tersebut, hal ini dikhawatirkan akan muncul fitnah.

Jadi tidaklah baik memasuki rumah tanpa izin, sebab bisa membuat penghuni rumah terganggu atau tidak berkenan. Bahkan lebih buruk lagi jika si tamu menceritakan keadaan rumah tangga tersebut kepada banyak orang.  Perilaku memasuki rumah orang lain tanpa izin penghuninya bisa berdampak negatif terhadap tamu itu sendiri, karena dinilai tidak berakhlaq. Itulah hikmah yang wajib diperhatikan.

Jika seseorang di antara kalian telah meminta izin tiga kali, lalu tidak diizinkan, maka hendaklah ia kembali”. (HR Bukhari dan Muslim)

Jika si tamu tidak memaksakan kehendaknya, maka hal itu lebih bersih dan lebih baik bagi tamu untuk menjaga nama baik dan kehormatannya.

Jika kamu tidak menemui seorangpun didalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu: “Kembali (saja)lah, maka hendaklah kamu kembali. Itu bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (An Nuur: 28)

Dalam bertamu sebaiknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  • Jangan bertamu di sembarang waktu, perhatikan waktu-waktu yang diperkirakan tidak mengganggu aktivitas dan privasi orang lain.
  • Bertamu tidak terlalu lama yang memungkinkan tuan rumah kehilangan hak-haknya.
  • Tidak melakukan kegiatan yang sekiranya mengganggu perasaan tuan rumah, seperti menanyakan harga-harga perabot rumah tangganya, memasuki ruangan pribadi tanpa izinnya, menggunakan fasilitas atau perangkat yang ada dalam rumah tanpa izinnya.
  • Menghormati jamuan atau suguhan. Jika kita bertamu dan sedang menjalankan puasa (shaum) sunah, lihatlah situasi dan kondisinya, pilihlah dengan pilihan yang terbaik apakah kita akan meneruskan puasa ataukah menikmati hidangan tuan rumah. Rasulullah saw pernah menganjurkan kepada orang yang berpuasa sunah untuk membuka puasanya di saat bertamu.[1]
  • Berpamitan dengan ma’ruf, yaitu dengan cara yang baik sebagaimana dikenal oleh masyarakat setempat

Pembahasan ini tentu saja  dalam konteks atau keadaan umum alias normal, adapun dalam situasi darurat seperti berkaitan dengan kriminal, kemaksiyatan atau musibah, tentulah berbeda kaidahnya.


[1] Dari Abi Sa’id Al-Khudri RA, ia berkata: “Aku memasakkan makanan untuk Rasulullah SAW , maka beliau datang bersama para sahabatnya. Ketika makanan telah dihidangkan, salah seorang di antara mereka berkata: “Aku sedang shaum” Maka Rasulullah SAW berkata: “Saudaramu telah mengundangmu dan ia telah bersusah payah untukmu, makanlah hari ini, kemudian jika kamu mau, shaumlah di hari lain sebagai penggantinya” (HR. Al-Baihaqi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: