Adab Menerima Tamu

11 Nov

Menerima dan memuliakan tamu tanpa membeda-bedakan status sosial mereka adalah salah satu sifat terpuji yang sangat dianjurkan dalam Islam. Bahkan hal tersebut berkaitan erat dengan keimanan kepada Allah swt dan Hari Akhir.

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaklah ia memuliakan tamunya”. (HR Bukhari dan Muslim)

Memuliakan tamu dilakukan dengan  menyambut kedatangannya dengan muka dan tutur kata yang baik, mempersilakannya di tempat yang baik. Mesti diperhatikan jika tamu adalah lawan jenis bukan mahram, hendaklah menghindari khalwat (berduaan saja).

Jika tamu datang dari tempat yang jauh serta ingin menginap dan tuan rumah menerimanya maka hendaklah menjamunya maksimal tiga hari tiga malam.

Menggembirakan tamu dengan jamuan yang baik adalah sangat dianjurkan, seperti  mengajak mereka berbincang-bincang dengan pembicaraan yang menyenangkan, mendekatkan makanan kepada tamu tatkala menghidangkan makanan tersebut kepadanya sebagaimana Allah ceritakan tentang Ibrahim AS

“Kemudian Ibrahim mendekatkan hidangan tersebut pada mereka.” (Qs. Adz-Dzariyat: 27)

Ada pun jika tamu menginap lebih dari tiga hari maka terserah kepada tuan rumah apakah tetap akan menjamunya atau tidak, seandainya tetap menjamu hal itu bernilai shadaqah.

“Menjamu tamu itu hanya tiga hari. Jaizahnya sehari semalam. Apa yang dibelanjakan untuk tamu di atas tiga hari adalah sedekah. Dan tidak boleh bagi tamu untuk tetap menginap (lebih dari tiga hari) karena hal itu akan memberatkan tuan  rumah”. (HR Tirmidzi)

Menurut Imam Malik, yang dimaksud jaizah sehari semalam adalah memuliakan dan menjamu tamu pada hari pertama dengan hidangan yang istimewa dari hidangan yang biasa dimakan tuan rumah sehari-hari. Sedangkan hari kedua  dan ketiga dijamu dengan hidangan biasa sehari-hari.

Sedangkan menurut Ibn al-Atsir, yang dimaksud dengan jaizah sehari semalam adalah memberi bekal kepada tamu untuk perjalanan sehari semalam. Dalam konteks perjalanan di padang pasir, diperlukan bekal minimal untuk sehari semalam sampai bertemu dengan tempat persinggahan berikutnya.

Kedua pendapat di atas dikompromikan dengan melakukan kedua-duanya apabila memang tamunya membutuhkan bekal untuk melanjutkan perjalanan. Namun dalam membelanjakan untuk tamu yang terbaik adalah dengan tidak berlebih-lebihan di luar kemampuannya, sebab yang terpenting adalah sikap penerimaan kita yang menunjukkan penghormatan terhadap tamu. Semua itu substansinya sama yaitu anjuran untuk memuliakan tamu sedemikian rupa.

Demikian di antara adab menerima tamu, sekalipun secara teknis masih banyak yang bisa disampaikan, namun secara substansi adab bertamu dan menerima tamu itu adalah didasari niat mencari ridha Allah, mencari barakah Allah melalui aktivitas muamalah ini serta menghindar dari segala kesalahan dan dosa. Dengan itulah bertamu dan menerima tamu adalah merupakan ibadah yang mulia dan dimuliakan Islam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: