Puasa Tasu’a dan ‘Asyura

20 Nov

Berikut adalah bahasan mengenai berpuasa tanggal 9 dan 10 Muharam, yang diistilahkan dengan Tasu’a dan ‘Asyura. Hari ‘Asyura adalah hari kesepuluh dari bulan Muharam, sedangkan hari Tasu’a adalah hari kesembilannya. Dari sejumlah hadits tampak bahwa sebenarnya puasa hari ‘Asyura telah dikenal sejak masa jahiliyah di tengah kaum Quraisy, sebagaimana dikenal oleh umat Yahudi.

Aisyah berkata, “Hari ‘Asyura adalah hari puasa yang dipraktikkan oleh orang Quraisy di masa jahiliyah dan Rasulullah saw juga melakukannya. Ketika datang di Madinah beliau menjalankannya dan memerintahkan orang untuk menjalankannya. Ketika kewajiban puasa Ramadhan datang, beliau bersabda, “Barangsiapa mau (berpuasa “Asyura) maka berpuasalah, dan barangsiapa tidak mau maka tinggalkanlah”. (HR Muttafaq ’alaih)

Ibnu Abbas ra berkata bahwa ketika Nabi saw datang di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa di hari ‘Asyura, maka beliau bertannya, “Apa ini?” Mereka menjawab, “Ini hari keselamatan. Allah swt menyelamatkan Musa dan Bani Israil dari musuh mereka, maka Musa berpuasa”. Rasulullah saw bersabda, “Saya lebih berhak atas Musa daripada kalian. Maka beliau pun berpuasa dan memerintahkan orang-orang untuk berpuasa”. (Muttafaq ‘alaih)

Semula Nabi saw telah mewajibkan puasa ‘Asyura hari itu, hingga mengutus penyeru yang memberitahu orang-orang untuk berpuasa di siang harinya, meskipun mereka sudah terlanjur makan.

Ketika Ramadhan diwajibkan, maka dihapuslah kewajiban ini (berpuasa ‘Asyura) dan hukumnya kembali menjadi sunnah (dianjurkan).

Dari Abu Qatadah, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Puasa di hari Arafah dapat menghapus (dosa dua tahun), yang lalu dan yang akan datang, dan puasa sehari di hari ‘Asyura menghapus (dosa) setahun”. (HR Jama’ah selain Bukhari dan Tirmidzi, Nail Al-Authar IV/323)

Karena Nabi saw demikian perhatian kepada pembentukan karakter Islam dan agar kaum muslimin memiliki kemandirian dari yang lain, maka beliau menganjurkan untuk berpuasa di hari ke sembilan membersamai hari kesepuluh, sehingga berbeda dengan puasa ahlul kitab.

Dari ibnu Abbas ra, ia berkata bahwa tatkala Nabi saw berpuasa hari ‘Asyura dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa, mereka berkata, “Wahai Rasulullah, itu adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani”. Beliau menjawab, “Jika datang tahun depan, insya Allah kita berpuasa hari kesembilan”. Selanjutnya Ibnu Abbas berkata, “Tahun berikutnya tidaklah datang kecuali setelah Rasulullah saw wafat”. HR Muslim dan Abu Daud.

Dikarenakan Rasulullah saw belum sempat mangamalkan inilah yang kemudian para ulama hadits mendudukkan hadits tersebut ke dalam sunnah hammiyah. Himmah berarti hasrat atau keinginan. Mengenai hukumnya memang terdapat perbedaan. Imam Syafi’i berpendapat bahwa menjalankan himmah itu disunatkan, karena ia termasuk salah satu bagian sunnah yaitu sunnah hammiyah.

Asy Syaukani berpendapat, bahwa hal tersebut tidaklah termasuk sunnah, sebab himmah itu hanyalah keinginan hati yang belum direalisasikan dan tidak termasuk sesuatu yang diperintahkan oleh Rasulullah saw untuk dikerjakan atau ditinggalkan.

Mengenai hal ini Sayyid Sabiq dalam Fiqh Sunnah mengatakan bahwa para ulama seperti Al Imam Asy-Syaukani dan Al Hafidz Ibnu Hajar, membagi puasa ‘Asyura ke dalam tiga tingkat. Tingkat pertama berpuasa selama tiga hari, yaitu hari kesembilan, kesepuluh dan kesebelas. Tingkat kedua berpuasa pada hari kesembilan dan hari kesepuluh. Tingkat ketiga berpuasa hanya pada hari kesepuluh saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: