ISTIQOMAH

30 Nov

Istiqomah ialah meniti jalan agama yang lurus (Islam) tanpa menyimpang darinya; ke kanan atau kiri. Istiqomah merupakan komitmen seorang hamba untuk tidak menyekutukan Allah sedikitpun serta bersikap konsisten mentaati syari’atNya dan tidak bolak-balik seperti musang. Istiqomah mencakup semua ketaatan, yang tampak dan yang tersembunyi, juga mencakup hal meninggalkan semua laranganNya. Kekuatan istiqomah menghantarkan kesempurnaan suatu perkara dalam berbagai kebaikan. Lenyapnya istiqomah lenyap pula amal kebaikan.

Hadirnya fenomena bid’ah merupakan indikasi lunturnya istiqomah, yang berimplikasi kepada  berkurangnya kapasitas akal dan meredupnya cahaya akhlaq manusia sebagian   hingga menyeluruh.  Bid’ah itu perilaku melawan syari’at yang akan membahayakan iman, oleh karenanya harus dieleminir dikarenakan beberapa alasan:

Pertama, pembuat dan pelaku bid’ah itu mengangkat dirinya sebagai pembuat syari’at baru dan sekutu bagi Allah swt. Seakan syari’at yang sudah ada tidak mencukupi kebutuhan, sehingga perlu diubah atau ditambah dengan sesuatu yang baru. Perbuatan itu seperti rahib-rahib yang mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram, kemudian juga menentukan bentuk-bentuk praktek peribadatan.

Kedua, pembuat bid’ah memandang agama tidak lengkap dan kemudian ingin melengkapinya. Mereka telah lupa kepada Allah swt yang telah menyempurnakan agama ini sebagai kenikmatan besar yang kita terima.

Ketiga, praktek bid’ah itu justru mempersulit agama dan menghilangkan sifat kemudahannya. Kemudahan beragama itu sudah dijamin oleh Allah swt. Kehadiran ahli bid’ah itu telah membuat beban dalam beragama, dengan menambah-nambah hafalan do’a atau wirid-wirid yang menyusahkan atau praktek-praktek lainnya yang dibuat-buat.

Keempat, bid’ah itu mematikan sunnah. Hal ini tak diragukan lagi karena bid’ah itu lawan dari sunnah. Pelaku bid’ah telah menghabiskan dana, tenaga dan pikiran serta dilakukannya dengan suka cita, meriah, penuh penghayatan juga pengorbanan untuk mengadakan suatu acara-acara ritual yang tak pernah dituntunkan agama dan tak pernah digagas oleh para sahabat serta generasi orang-orang shalih terdahulu. Mereka berpesta menyembelih kambing puluhan hingga ratusan ekor untuk hari kelahiran syekh ini dan itu. Sementara untuk Hari Raya Idhul Adha amat sedikit yang bersedia berqurban.

Kelima, bid’ah dalam agama memandulkan kreatifitas dalam urusan keduniaan. Hal ini karena energinya telah terkuras dan larut dalam praktek-praktek bid’ah, sehingga tak ada kekuatan lagi untuk berkreasi dalam kehidupan dunianya yang lebih baik. Generasi terdahulu seperti al Khawarizm, atas dorongan agama, telah mampu menciptakan ilmu al jabar, sehingga bermanfaat untuk menyelesaikan masalah seperti warisan yang sungguh memerlukan ilmu hitung-hitungan seperti matematika. Juga Ibnu Rusyd, yang menjadikan agamanya sebagai pendorong untuk menyelesaikan problematika manusia di bidang kedokteran serta lainnya.

Mereka adalah dari generasi yang tidak larut ke dalam bid’ah, sehingga kemajuan peradaban Islam mengalami akselerasi yang cepat dan signifikan. Sementara bid’ah hanya melahirkan generasi yang statis, beku, jumud tertipu oleh pikirannya sendiri, dan mudah terkalahkan oleh tipu daya musuh sehingga mengalami keterbelakangan dalam segala bidang kehidupan dunia.

Keenam, bid’ah akan memecah belah dan menghancurkan umat serta menceraikan kaum muslimin dari satu shaf. Sehingga tatanan kehidupan berjama’ah yang merupakan sunnah, menjadi rusak berantakan. Perkara furu’ (cabang) dianggap ushul (pokok) dan sebaliknya, perbedaan menjadi permusuhan, saling mengkafirkan dan sebagainya.

Adapun istiqomah memiliki kedudukan sangat tinggi di dalam Islam, dan Nabi saw meresponnya dengan amat serius. Ayat-ayat Al Qur’an yang berkaitan dengan hal ini telah membuat rambut beliau beruban. Kata beliau: ”Syayyabatni hud wa akhwatuha (Surat Hud dan semisalnya telah membuat rambutku beruban)”. Bagaimana beliau tidak beruban, sedangkan beliau seorang nabi dan rasul Allah yang mulia dan Allah memerintahkan dengan tegas sekali, sementara umatnya akan menghadapi berbagai tribulasi dan dinamika yang dahsyat. Ayat-ayat Allah tersebut mengisyaratkan bahwa ummatnya akan menghadapi ujian dan godaan yang amat berat, namun tak perlu dikhawatirkan selama berada di jalan yang lurus. Perhatikan firmanNya sebagai berikut:

Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu(Hud: 112)

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.(Fushilat: 30)

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqomah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. (Al Ahqaf: 13)

“Maka karena itu, serulah (mereka kepada agama itu) dan tetaplah (istiqomah) sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka”. (Asy-Syura: 15).

Istiqomah adalah intisari akhlaq, yaitu intisari hubungan hamba dengan Penciptanya serta dengan sesamanya, ia merupakan jalan yang wajib disusuri dengan sepenuh kemampuan, dan meninggalkannya berarti menghilangkan tujuan beragama.

Saddad dan muqarabah

Tentu saja manusia dengan berbagai godaan dan ujian berat yang menimpanya akan bersusah payah dalam menggapai kesempurnaan amal, namun nilai bobotnya terletak pada usahanya. Untuk itu Nabi saw bersabda, “Saddiduu wa qaribuu (Berusahalah utk senantiasa benar dan mendekatinya)” (HR Bukhari dan Muslim).

Saddad ialah hakikat istiqomah. Saddad ialah benar (tepat) dalam semua perkataan, perbuatan, dan keinginan, seperti orang yang melempar ke sasaran tertentu kemudian tepat mengenainya. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan Ali bin Abu Thalib meminta saddad dan petunjuk kepada Allah Azza wa jalla . Beliau bersabda kepadanya,

“Ingatlah saddad seperti ketepatanmu  memanah dan ingatlah petunjuk seperti petunjukmu di jalan.”

Sedangkan muqarabah ialahseseorang dekat dengan sasaran jika ia tidak tepat pada sasaran tersebut, namun dengan syarat ia berkeinginan kuat kepada saddad dan tepat sasaran agar muqarabah-nya terjadi secara tidak sengaja (disadari).

Istiqomah hati dan lisan

Istiqomah itu menuntut penerimaan hati dan lisan seorang muslim. Hati adalah tempat bersemayamnya iman dan istiqomah, sedangkan hati adalah raja, anggota badan adalah prajuritnya. Jika hati sudah istiqomah (bertauhid kepadaNya, takut, cinta dsb) maka seluruh anggota badan akan taat dan berlaku benar.

“Iman seorang hamba tidak istiqomah (lurus) hingga hatinya istiqomah dan hatinya tidak istiqomah hingga lidahnya istiqomah”.(HR Ahmad, dari Anas bin Malik)

“Jika anak keturunan Adam berada di pagi hari, seluruh organ tubuh tunduk kepada lidah dengan berkata, bertakwalah kepada Allah pada kami, karena kami bersamamu. Jika engkau istiqomah, kami juga istiqomah. Jika engkau menyimpang, kami juga menyimpang”. (HR Tirmidzi).

Demikianlah bahwasanya ketundukan hamba terhadap Al Khaliq yang terbaik hanya dengan jalan istiqomah dan terus menyempurnakannya. Dengannya kita akan mendapatkan kebersamaan Allah dan dukunganNya, sebagaimana pernah diserukan para malaikat, “Jangan merasa hina dan sedih, kalian akan mendapatkan surgaNya.

Sedemikian dahsyat perkara istiqomah, maka tak mengherankan jika hamba Allah yang istiqomah akan memancar darinya tiga pilar kekuatan jiwa: syaja’ah (berani), ithmi’nan (ketenangan jiwa) dan tafaul (optimisme). Tidak akan tumbuh dari hal itu kecuali satu hal yaitu kebaikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: