Kehujahan As Sunnah (2)

4 Des

Setelah kita ketahui tentang makna sunnah yang merupakan ucapan, perbuatan dan taqrir dari Nabi saw, yang mana semua itu terdapat dalam seluruh peri kehidupan (sunnah) beliau, maka dapatlah dirinci kedudukan as sunnah terhadap Al Qur’an yaitu:

Pertama, berfungsi sebagai penguat Al Qur’an. Maka kita akan mendapati suatu hukum yang memiliki dua sumber sekaligus, yaitu dalil yang terdapat dalam Al Qur’an dan dalil penguat yang terdapat dalam hadits Nabi saw. Misalnya terdapat perintah melakukan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, ibadah hajji ke Baitullah. Dalam larangan terdapat larangan menyekutukan Allah, persaksian palsu, menyakiti kedua orang tua, membunuh seseorang dengan tidak haq, dan aturan-aturan lain yang ditunjukkan oleh Al Qur’an dan kemudian didapati pula dalam As Sunnah sebagai penguat, sehingga berdiri tegak di atas dua dalil.

Kedua, as sunnah memberikan perincian atau penafsiran terhadap ayat-ayat Al Qur’an yang bersifat mujmal (umum), atau memberikan taqyid (syarat) terhadap hal-hal yang muthlaq dalam Al Qur’an, atau memberikan takhshish (pengkhususan) terhadap ayat Al Qur’an yang ‘aam (umum). Dengan demikian tafsir, taqyid dan takhshish yang datang dari As Sunnah itu memberikan penjelasan (bayan) kepada makna yang dimaksud ayat-ayat yang ada di dalam al Qur’an. Secara tegas Allah swt memberi kewenangan kepada Rasulullah saw untuk memberi penjelasan terhadap nash-nash Al Qur’an.

“Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”. (An Nahl: 44)

Maka akan didapati penjelasan tentang tata cara shalat, membayar zakat, ibadah haji, dan sebagainya dalam sunnah Nabi saw. Penjelasan atau bayan itu ada lantaran nash di dalam Al Qur’an yang memerintahkan shalat, membayar zakat dan melakukan ibadah haji ke Baitullah tersebut tidak memberi keterangan tentang bilangan raka’at dalam shalat, nishab untuk zakat serta tata cara ibadah (manasik) haji. Sehingga sunnah qauliyah dan sunnah fi’liyah inilah yang menjelaskan terhadap nash Al Qur’an yang bersifat umum.

Dalam hal jual beli pun memiliki keadaan demikian, karena secara umum Al Qur’an menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Kemudian datang As Sunnah yang memberi penjelasan tentang jual beli yang sah dan yang tidak sah serta penjelasan tentang macam-macam riba yang diharamkan. Begitu juga dalam hal haramnya bangkai, maka As Sunnah datang menjelaskan selain bangkai binatang laut/air.

Demikian itulah As Sunnah memiliki kedudukan sebagai penjelas, yaitu menafsirkan atau memerinci terhadap perkara-perkara yang dalam Al Qur’an bersifat mujmal, memberi syarat (taqyid) terhadap mutlaqnya, memberi takhshish terhadap ‘am-nya. Maka kedudukannya menjadi penyempurna, pelengkap yang setara dengan Al Qur’an.

Ketiga, menetapkan dan membentuk hukum yang tidak didapati dalam Al Qur’an. Seperti dalam hal pernikahan terdapat hukum tentang haramnya menyatukan wanita dengan bibi untuk dijadikan istri secara bersama, juga haramnya binatang buas yang mempunyai taring dan burung yang memiliki kuku tajam, haramnya mengenakan kain sutera dan cincin emas bagi kaum lelaki.

Selain itu hukum yang datang dari hadits seperti, “Sesuatu yang haram lantaran nasab, juga haram bagi satu susuan”, dan lain-lain yang disyari’atkan oleh syari’at yang bersumber pada ilham yang diberikan Allah kepada RasulNya atau merupakan hasil ijtihad Rasulullah saw. Imam Syafi’i menyatakan dalam Ar Risalah, “Aku tak pernah menjumpai para ahli ilmu berselisih pendapat tentang sunnah-sunnah  Rasulullah yang terbagi ke dalam:

  • Sunnah yang diturunkan Allah di dalam ketentuan Al Qur’an, maka Nabi membentuk sunnah  sebagaimana terdapat dalam ketentuan Al Qur’an.
  • Sunnah yang diturunkan Allah di dalam Al Qur’an secara mujmal, maka kemudian Rasulullah memberikan penjelasan berdasarkan ilham dari Allah swt tentang makna yang dimaksud di dalam nash.
  • As Sunnah atau sunnah Nabi saw yang tidak terdapat di dalam nash Al Qur’an.

Dengan demikian pembentukan syari’at dan dasar-dasarnya yang datang dari Nabi saw senantiasa menyandarkannya kepada Al Qur’an. Dalam contoh terdapat kasus bahwa para sahabat senantiasa sangat membutuhkan bimbingan dari Nabi saw. Tatkala mereka memerlukan penjelasan dari satu ayat Al Qur’an yang sekiranya masih samar bagi mereka, maka segera meminta petunjuk beliau. Para sahabat memandang bahwasanya Al Qur’an dan As Sunnah itu merupakan dua sumber hukum yang tak mungkin dipisahkan. Jika ada ayat dari Al Qur’an yang dirasa sulit dimengerti, atau menimbulkan kegalauan, maka akan diterangkan dalam as sunnah. Misalnya ketika turun ayat, “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman.[1] Banyak yang resah, lalu mereka menanyakan kepada Nabi saw. Dan dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan kezaliman tersebut adalah kemusyrikan.[2]

Begitu juga hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya, yang bersumber dari ‘Uqbah bin Amr, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah saw berkata di atas mimbar: Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka, kekuatan yang kamu sanggupi[3]. Ingatlah bahwa kekuatan di sini adalah memanah”.

Lihat pula kisah Adi bin Hatim ketika mendengar firman Allah, “Makan dan minumlah kamu hingga nyata bagimu benang putih dengan benang hitam, yaitu fajar“.[4] Adi bin Hatim pernah mengira benar-benar dua utas benang, yaitu benang putih dan benang hitam.

Al Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya dari Adi bin Hatim, dia berkata: “Saya bertanya, Wahai Rasulullah, apa maksudnya benang putih dari benang hitam, apakah keduanya merupakan dua jenis benang?” Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya kamu hanya menerka-nerka saja bila kamu melihat dua benang”. Beliau melanjutkan, “Bukanlah demikian, namun yang dimaksud ialah gelapnya malam dan terangnya siang”.

Maka setelah itu jelaslah maksud dari ayat tersebut yang menerangkan tentang kebolehan atau rukhshah untuk makan sahur hingga terbitnya fajar.

Ayat-ayat yang ditafsirkan tanpa penjelasan dari Nabi saw (as sunnah) akan banyak menimbulkan kesalahfahaman, atau bahkan tak akan bisa diamalkan, sebagaimana perintah shalat, haji zakat dan sebagainya, yang tata caranya hanya diatur dalam hadits-hadits Nabi saw.

Jadi kadangkala ada ayat-ayat yang penjelasannya didapatkan melalui hadits. Demikian pula jika kita mendapati hadits-hadits yang maqbul namun pengertiannya sulit atau samar, sementara pengertiannya tidak didapati dalam hadits-hadits, maka hendaklah mencari penjelasannya di dalam Al Qur’an.


[1] QS Al An’am:82

[2] Bukhari dan Muslim serta yang lain meriwayatkan, dari Ibnu Mas’ud, dengan mengatakan: “Ketika ayat ini diturunkan, ‘Orang-orang beriman yang tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman’ (Al An’am:82), banyak orang merasa resah. Lalu mereka bertanya kepada Rasulullah saw: ‘Ya Rasulullah, siapakah di antara kita yang tidak berbuat kezaliman terhadap dirinya?’ nabi saw menjawab, ‘Kezaliman di sini bukanlah sebagaimana yang kalian fahami. Tidakkah kalian pernah mendengar apa yang telah dikatakan oeh seorang hamba Allah yang shalih, ‘Sesungguhnya kemusrikan adalah benar-benar kezaliman yang besar’ (QS Luqman: 13). Jadi yang dimaksud kezaliman di sini adalah kemusyrikan”.

[3] QS Al Anfal 60

[4] QS Al Baqarah: 187

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: