AGAR HIDUP INI TIDAK SIA-SIA

7 Des

waktu

Waktu terus berjalan dan hari pun berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti dengan tahun berikutnya. Usia manusia semakin menjauh dari waktu kelahirannya dan semakin mendekat kepada kematiannya. Jika ada manusia senantiasa berorientasi kepada kehidupan setelah kematiannya, semua aktivitasnya terus ditimbang-timbang apakah bermanfaat untuk masa depannya ataukah tidak, kalau ada ia lakukan, jika tidak ia tinggalkan, maka sungguh ia adalah golongan orang cerdik.  Ia menjadi manusia yang berhati-hati dan mengendalikan diri.

“Orang yang pandai adalah orang yang mampu mengendalikan jiwanya serta beramal untuk hari setelah kematian” (HR Tirmidzi)

Kebaikan masa depan manusia tergantung oleh apa yang telah dilakukannya di masa lampau. Oleh karenanya kita hendaknya selalu muhasabah (mawas diri) terhadap apa yang telah dilakukannya untuk bekal di hari esok, sehingga ada progress (kemajuan) yang dikehendaki Allah swt, yaitu taqwa!

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Al Hasyr: 18)

Selanjutnya agar jalan hidup kita tidak sia-sia, Islam telah memetakan jalur-jalur kehidupan untuk dijadikan pedoman beramal, yaitu:

Pertama, hendaknya manusia melakukan aktivitas untuk menjaga agamanya.

Menjaga agama yaitu dengan memanfaatkan waktu hidup ini untuk melakukan amal yang diwajibkan Allah swt  (fardhu), seperti menjaga shalat lima waktu, zakat, puasa, haji dan sebagainya. Lebih baik lagi jika ditambah dengan amalan nafilah atau sunnah, seperti shalat malam dan shalat sunnah lainnya, puasa sunah, tilawatul-qur’an, shadaqah, dzikir, menghadiri pengajian pekanan ataupun bulanan, dan sebagainya.

Melalaikan aktivitas tersebut maka rusaklah agamanya.

Dalam situasi dan kondisi tertentu, menjaga agama ada kalanya dilakukan dengan amar ma’ruf nahi munkar, atau dengan jihad fi sabilillah. Jika ada sekian banyak manusia melakukan aksi demonstrasi untuk menjaga Islam akan kehormatan dan peranannya di kehidupan ini dari hegemoni penguasa, atau kekuatan kezaliman lainnya, maka aktivitas ini merupakan bagian dari menjaga agama.

Kedua, melakukan aktivitas untuk kemanfaatan diri dan keluarga

Aktivitas ini seperti mencari rizqi halal untuk kebutuhan hidup keluarga. Jika hal ini kita lakukan dengan ikhlas, karena mencari ridha-Nya, maka berbahagialah orang yang lelah bekerja, karena aktivitasnya bernilai ibadah dan dicintai Allah swt

“Barangsiapa memasuki sore hari dalam keadaan lelah karena bekerja dengan tangannya sendiri, maka sore itu ia mendapatkan ampunan”. (HR Ath Thabrani)

 Ketiga, melakukan aktivitas untuk kemanfaatan orang lain (nafi’un lighairihi) , baik dengan materi maupun yang lain. Ini merupakan pendekatan diri (qurbah) yang sangat mulia.

Barangsiapa keluar rumah untuk memenuhi hajat saudaranya, ia seperti orang yang melakukan i’tikaf satu bulan di masjidku ini”, (HR Ath Thabrani)

Maka sungguh rugi orang yang tidak bersedia atau bakhil terhadap saudaranya. Sesungguhnya, kedudukan saudara atau keluarga merupakan ladang pahala yang akan membahagiakan kita di masa depan (akhirat), oleh karenanya janganlah disia-siakan.

 Keempat, melakukan aktivitas untuk mengganti sesuatu yang hilang dari diri kita.

Jika seseorang kehilangan waktu istirahat, maka melakukan istirahat bernilai ibadah karena akan menyegarkan kembali hidupnya dan memperbarui kegiatan serta semangatnya. Sesungguhnya dalam badan ini mempunyai hak yang harus ditunaikan.

Termasuk dalam hal ini adalah rihlah (mengadakan perjalanan) atau wisata ke tempat-tempat menakjubkan, agar bertambah keimanan kepada Allah dengan ayat-ayatNya. Berkunjung ke panti-panti asuhan, rumah sakit, agar kepekaan perasaan atau sosial yang selama ini hilang menjadi tumbuh kembali, dan sebagainya.

Itulah jalur-jalur yang mesti kita lalui agar tidak terjatuh ke dalam golongan manusia yang merugi. Hendaknya semua kegiatan kita mempunyai nilai manfaat bagi dunia dan akhirat. Sedemikian pentingnya nilai putaran waktu hingga Allah swt bersumpah dengan waktu.

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. (Al ‘Ashr: 1-3)

“Barangsiapa membuka awal harinya dengan kebaikan dan menutupnya dengan kebaikan pula, maka Allah berfirman kepada malaikat-Nya, “Jangan kalian tulis dosa yang dilakukan dalam rentang waktu antara pagi dan petang pada hari itu”. (HR Ath Thabrani)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: