Belajar Nasionalisme dari Mesir

12 Des

nationalismRisalah dari Prof. DR. Muhammad Badi’

Bahwa cinta kepada kampung halaman adalah naluri dan fitrah yang dianugerahkan kepada Manusia, bahkan dianugerahkan kepada seluruh makhluk.. Tidakkah Anda melihat burung-burung bermigrasi  melakukan perjalanan ribuan mil, dan kemudian kembali ke habitat aslinya setelah melewati suasana yang keras berupa cuaca yang keras atau iklim yang parah? ..

Begitu pula manusia yang dilahirkan di suatu tempat lain dan memiliki kerinduan pada negeri induknya, meskipun jaraknya jauh atau berat, namun karena kerinduan kepada negeri yang memotivasi seseorang untuk kembali, meskipun berada di akhir hidupnya dan akhir umurnya ..

Inilah fitrah manusia tidak bisa dipungkiri Islam, bahkan senantiasa dipelihara dan dimotivasi,  kecuali jika bertentangan dengan tugas jihad dalam membela kebenaran dan upaya untuk mereformasi negeri serta melakukan perlawanan terhadap ketidakadilan dan membela yang tertindas .. Pada kondisi seperti itu, Mengatasi kerinduan yang fitri merupakan bagian dari jihad dan tadhiyah (pengorbanan) yang akan diberikan penghargaan (pahala) seuai dengan kesulitan yang dihadapi…

Nabi saw memberikan contoh yang menakjubkan terkait cinta dengan negeri sendiri, loyal kepadanya dan rindu terhadapnya, pada saat hijrah dari Mekkah setelah terasa sempit jalan-jalan dakwah,kemudian beliau bersabda:

والله إنك لأحبّ أرض الله إلى الله وأحب أرض الله إليَّ، ولولا أن أهلك أخرجوني منك ما خرجت

“Demi Allah, Engkau adalah tempat (bumi) yang paling aku cintai sekiranya  pendudukmu tidak mengusirku, maka aku tidak akan keluar darimu “..

Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ

“Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al Quran, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali”. (Al-Qashash:85)

Untuk meringankan beban dan mengobati perasaan rindu yang tinggi kepada kota Mekkah.

Begitupula sahabat Rasulullah saw “Bilal” yang senantiasa mendapatkan siksaan di kota Mekkah tidak seperti yang lainnya.. mensenandungkan puisi karena kerinduannya kepada kota Mekkah

Dan ketika Rasulullah SAW mendengar gambaran dan kondisi kota Mekkah dari salah seorang sahabat Ashil, meneteslah air mata yang mulia lalu bersabda: “wahai Ashil, biarkanlah hati-hati ini merindukannya”

Begitulah kecintaan Rasulullah saw yang mulia dan kecintaan para sahabat yang suci terhadap negerinya yang pertama (Mekkah), meskipun apa yang mereka temui berupa kehangatan dan sambutan yang baik di tempat hijrah mereka yang baru di Madinah Al-Munawarah..

Tidaklah seorang manusia dianggap sempurna kecuali memiliki rasa cinta terhadap negerinya, rindu kepadanya, berambisi atasnya dan berjuang dengan jiwa dan hartanya untuk membelanya, bahkan berusaha mengerahkan seluruh potensi untuk menjaga kemuliaannya, kekuatannya, kemenangannya dan kekayaannya.

Dan ketika kecintaan kepada negeri dilandasi dengan ikatan iman .. akan membuat perasaan menjadi mulia, dan ketika memahami (warga negara) bahwa membela tanah air adalah bagian dari mendekatkan diri kepada Allah, maka hal tersebut tidak akan sia-sia dan tidak akan melemahkan perlawanan terhadap musuh-musuh tanah air; karena ia faham bahwa

مَنْ مَاتَ دُوْنَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ، وَمَنْ مَاتَ دُوْنَ عِرْضِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ

“Barangsiapa mati dalam rangka mempertahankan hartanya adalah syahid, dan barangsiapa yang mati dalam rangka mempertahankan jiwanya adalah syahid”

dan

مَنْ قَاتَلَ لِتَكُوْنَ كَلِمَةَ اللِه هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيْلِ اللِه

 ”Baransiapa yang berperang untuk menjadikan kalimat Allah yang tertinggi maka ia di jalan Allah. “

Dan ketika nasionalisme dilandasi karena Allah .. Lingkupnya akan menjadi lebih luas mencakup semua tanah kaum muslimin, sehingga membela mereka menjadi kewajiban dan menolong mereka adalah keharusan.

فَحَيْثُمَا ذُكِرَ اسْمُ اللِه فِي بَلَدٍ    ***   عدَدَتْ أَرْضَهُ مِنْ لبِّ أَوْطَانِي

Dimanapun nama Allah disebut dalam satu negeri *** maka negeri tersebut bagian dari tanah airku

Bahkan, cinta kepada negeri lebih luas dan lebih luas sehingga meliputi seluruh umat manusia. Allah SWT berfirman:

وَمَا لَكُمْ لا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَل لَنَا مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا وَاجْعَل لَنَا مِنْ لَدُنْكَ نَصِيرًا

“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan Kami, keluarkanlah Kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah Kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah Kami penolong dari sisi Engkau!”. (An-Nisa:75)

Katika nasionalisme diiringi dengan akidah maka akan menghasilkan keteladanan dalam berkorban dan keberanian tidak takut terhadap berbagai tipu daya musuh, kebencian orang-orang yang membenci, para penghambat dan hina, sungguh telah banyak terjadi gerakan pembebasan dari penjajahan di negara kita yang didasari iman yang murni .. Bahkan jika pembebasan telah sempurna melalui keberanian para Mujahidin dan darah para syuhada, kita melihat di beberapa negara buah dari jihad dicuri oleh pencoleng yang tidak beriman pada hari hisab (perhitungan) dan yang tumbuh di atas hidangan materialisme dan atheisme; untuk menjadi alternatif yang menjamin kelanjutan dari pengaruh asing setelah runtuhnya penjajahan militer, dan inilah rencana penjajahan di sebagian besar negara setelah terusirnya penjajahan militer dengan penjajahan lain sehingga dapat mencapai satu tujuan.

Ikhwanul Muslimin berhasil memerangi orang-orang Yahudi di Palestina, dan berjuang memerangi pasukan Inggris di tepi kanal suez, (Omar Mukhtar) berjuang melawan penjajahan Italia di Libya, Ibnu Badis berjuang melawan penjajahan Perancis Aljazair, Al-Mahdi melawan penjajahan Inggris di Sudan .. Semua gerakan pembebasan tanah air titik tolaknya adalah iman yang murni, para Mujahidin sangat mengidamkan jihad dan syahadah di jalan Allah mengangkat tanah air dan membebaskan negerinya.

Dan tidak pernah para mujahidin memerangi saudaranya setanah air… Bahkan terhadap penguasa yang zhalim sekalipun, mereka seantiasa meluruskannya dengan kata-kata  yang hak meski mereka menanggungnya dengan banyak pengorbanan; jiwa, harta dan kebebasan, sama sekali tidak mendorongnya untuk balas dendam karena mengikuti contoh dari Rasulullah saw yang senantiasa dari umatnya berbagai macam siksa dan penderitaan, namun beliau selalu berdoa:

اللهمَّ اهْدِ قومي فإنهم لا يعلمون

“Ya Allah, berilah hidayah kepada kaumku, karena mereka tidak mengerti” 

Bahkan ketika datang malaikat gunungnya sekembalinya dari Thaif dalam kondisi terusir dan terluka, meminta izin kepada Nabi untuk menghancurkan warga Mekah yang keji. Beliau bersabda:

لا.. عسى الله أن يخرج من أصلابهم من يشهد أن لا إله إلا الله”، وقد استجاب الله تعالى دعاء نبيه صلى الله عليه وسلم

 ”Jangan.. karena aku berharap, Allah mengeluarkan dair keturunan mereka yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah”, Maka Allahpun mengabulkan doa Nabi saw tersebut”.

Maka Allah memberikan hidayah setelah itu, Makkahpun ditaklukkan dengan penuh kecintaan, maaf dan marhamah, dan Allah mengeluarkan Ikrimah dari tulang sulbi Abu Jahal, dan Khalid dari tulang sulbi Al-Walid bin Al-Mughirah, dan kota Mekkah kembali naungan tauhid untuk menjadi kiblat semesta alam, tempat kerinduan umat Islam hingga hari pembalasan.

Siapa saja yang mencintai tanah airnya tidak akan membakar, membunuh atau merusak, namun akan senantiasa mempertahankan tanah air dengan segala kekuatannya yang dimilikinya, dan tidak akan membuka tangannya berlumuran darah meski terhadap para pelanggar dalam bereksperi atau berlebih-lebihan dalam memusuhi

لَئِنْ بَسَطْتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِي مَا أَنَا بِبَاسِطٍ يَدِيَ إِلَيْكَ لأقْتُلَكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ

“Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam.” (Al-Maidah:28)

Alhamdulillah, kami diberikan anugerah untuk senantiasa bersabar atas segala sesuatu yang menimpa kami; kezhaliman, penjara, siksaan dan pembunuhan, dan telah banyak dari kami yang menjadi syuhada menghadap Tuhan mereka di masa lalu, bahkan sampai sekarangpun tidak dapat kami berikan hak-hak mereka dari orang-orang yang membunuh mereka, namun semua kami serahkan kepada Allah, karena disisi-Nya lah semua akan diperhitungkan dihadapan mahkamah ilahiyah yang Maha Adil, Allah akan putuskan semua urusan kita dengan hukum-Nya yang Maha Adil.

Rasa takut kami kepada Allah telah mendorong kami untuk tidak membalas permusuhan dengan permusuhan lainnya, namun senantiasa bersabar dan menyerahkan seluruhnya keapda Allah.. kami berseru seperti yang dimohonkan Nabi saw:

اللهمَّ اهْدِ قومي فإنهم لا يعلمون

“Ya Allah berilah petunjuk kepada kaumku karena mereka tidak mengetahui”.

Karena banyak sekali dari para pembangkang disesatkan oleh media yang keji, atau menjual sebagian mereka dan menguasai kebutuhan mereka para pemilik kepentingan dari antek-antek rezim masa lalu yang zhalim, bahkan ada sedikit dari mereka yang menjual perasaan mereka, mengkhianati tanah air mereka, mencari kekuatan dari musuh-musuh eksternal diatas kepentingan umat, merekalah yang akhirnya dapat kami singkap jati diri mereka dan kami kalahkan tipu daya dan permainan mreka, meskipun demikian, terhadap mereka kita diperintah oleh Allah untuk tidak berbuat buruk kepada mereka, namun tetap meresmpin perintah Allah

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ قَوْلا بَلِيغًا

“Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan Katakanlah kepada mereka Perkataan yang berbekas pada jiwa mereka”. (An-Nisa:63)..

Dan memohon petunjuk (hidayah) melalui ucapan para ulama yang tsiqah

جهاد الكفار بالسيف والسنان، وجهاد المنافقين بالحُجَّة والبَيان

“JIhad melawan orang kafir dengan pedang dan senjata, dan jihad melawan orang munafik dengan hujjah (bantahan) dan penjelasan.

Kita tidak akan kehilangan harapan dan tidak akan menyerah atau putus asa dari Rahmat Allah SWT, dan kami akan terus bekerja siang dan malam, berkorban dengan ruh, waktu, berbagai kondisi kami karena kecintaan kami kepada tanah air  dan sayang rakyat kami, meninggikan syiar-syiar (damai .. damai .. damai), melantunkan ayat Al-Qur’an

إِنْ أُرِيدُ إِلا الإصْلاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali”. (Huud:88)

Imam Syahid Hasan Al-Banna juga telah mengajarkan kita untuk berkata dalam berbagai kondisi seperti:

ونُحبُّ أن يعلمَ قومنا أنهم أحبُّ إلينا من أنفسنا، وأنه حبيبٌ إلى هذه النفوس أن تذهب فداءً لعزتهم إن كان فيها الفداء، وأن تزهق ثمنًا لمجدهم وكرامتهم ودينهم وآمالهم إن كان فيها الغناء.. وما أوقفنا هذا الموقف منهم إلا هذه العاطفة التي استبدت بقلوبنا، وملكت مشاعرنا، فأقَضَّتْ مضاجعنا وأسالت مدامعنا.. وإنه لعزيزٌ علينا جدُّ عزيز أن نرى ما يحيط بقومنا، ثم نستسلم للذلِّ أونرضى بالهوان أو نستكين لليأس، فنحن نعمل للناس في سبيل الله أكثر مما نعمل لأنفسنا، فنحن لكم لا لغيركم أيها الأحباب، ولن نكون عليكم يومًا من الأيام

“Kami ingin agar umat mengtahui bahwa mereka lebih kami cintai daripada diri kami sendiri, sungguh, jiwa-jiwa kami ini senang gugur sebagai penebus bagi kehormatan mereka, jika memang tebusan itu yang diperlukan. Atau melayang untuk membayar kejayaan, kemuliaan, agama, dan cita-cita mereka, jika memang mencukupi.. Tiada yang membawa kami pada sikap seperi ini kepada mereka, kecuali karena rasa kasih sayang yang telah mencengkram hari kami, menguasai perasaan kami, menghilangkan kantuk kami, dan mengalir air mata kami. SUngguh, kami benar-benar sedih melihat apa yang menimpa umat ini, sementara kita hanya sanggup menyerah pada kehinaan, ridha pada kerendahan dan pasrah pada keputusasaan.. Sungguh, kami berbuat di jalan Allah untuk kemaslahatan seluruh manusia, lebih banyak dari apa yang kami lakukan untuk kepentingan diri kami. Kami adalah milik wahai saudara-saudara tercinta, bukan untuk orang lain. sesaat pun kami tak akan pernah menjadi musuh kalian”.

Semoga Allah melindungi negeri kita, tanah air kita dan bangsa kita..

Semoga Allah memberikan rahmat kepada para syuhada kami dan mengobati orang-orang yang menjadi korban…

Memberikan kepada kita rasa aman.. Amin ya Rabbal alamin..

فَسَتَذْكُرُونَ مَا أَقُولُ لَكُمْ وَأُفَوِّضُ أَمْرِي إِلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ .  فَوَقَاهُ اللَّهُ سَيِّئَاتِ مَا مَكَرُوا وَحَاقَ بِآلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ

“Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepada kamu. dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya”. Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang Amat buruk”. (Ghafir:44-45)

Allah Akbar dan segala puji hanya milik Allah

Cairo, 15 Muharram 1434 H/ 29 Nopember 2012

sumber: al-ikhwan.net

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: