MEWASPADAI RADIKALISME BERAGAMA

17 Des

radikalisme yahudiRadikalisme dalam beragama, para ulama manthiq membahasnya ke dalam beberapa istilah yang mendekatinya, seperti at-tatharuf, ghuluw, yang keduanya bermakna sikap berlebihan dalam agama. Makna at-tatharuf ad-diniy (radikalisme keagamaan), dilihat dari kata at-tatharuf yang secara bahasa berarti berdiri di ujung, jauh dari pertengahan. Bisa juga diartikan berlebihan dalam sesuatu. Awalnya, kata tersebut digunakan untuk hal-hal yang kongkret, seperti berlebihan (tatharuf) dalam berdiri, duduk dan berjalan. Kemudian penggunaanya dialihkan untuk hal-hal yang bersifat abstrak, seperti berlebihan (tatharuf) dalam beragama, berpikir, dan berperilaku.

Karena itu, tatharuf lebih dekat kepada kebinasaan dan bahaya, serta jauh dari keselamatan dan keamanan. Hal ini seperti penyair yang berkata,

Semula ia merupakan pertengahan terlindung

lantas diliputi oleh peristiwa,

sehingga jadilah ia berada di ujung.

Perbuatan berlebihan ini diungkapkan melalui bahasa syariat dengan istilah ghuluw (berlebihan), tanathu’ (melampaui batas), tasydid (keras dan mempersulit). Sikap berlebihan dalam agama sering dipraktekkan oleh kalangan ahli kitab.

“Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”.”. (Al Maidah: 77)

Adapun Islam adalah sebuah manhaj moderat (wasathiyah) dalam segal sesuatu, baik dalam konsep, keyakinan, ibadah, akhlaq, muamalah maupun syariat. Hal ini diistilahkan dengan ash-shirath al- mustaqim, yang berbeda dengan jalan-jalan selainnya, baik dari kalangan “yang dimurkai” maupun “yang tersesat”.

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia..”. (Al Baqarah: 143)

Radikalisme biasanya diawali dari perkara yang kecil kemudian sedikit demi sedikit menyebar dan meluas keburukannya. Dahulu Nabi saw melempar jumrah dengan batu-batu kerikil biasa yang kecil, kemudian ada orang yang berkata, “Melempar jumrah dengan kerikil-kerikil yang besar lebih mantap daripada dengan kerikil-kerikil kecil”.

Tidak mencukupkan diri dengan sunnah itulah yang menjadi pangkal berlebihan dalam sikap dan perbuatan, ada kesan mereka meremehkan perbuatan Nabi saw.

Dalam ash shahihain disebutkan dari Aisyah ra bahwa ada beberapa orang dari kalangan sahabat Nabi saw yang bertanya kepada istri Nabi saw tentang amalan beliau. Lantas mereka menganggapnya terlalu sedikit. Salah seorang dari mereka berkata, “Aku tidak akan makan daging”. Yang seorang lagi mengatakan, “Aku tidak akan menikahi wanita”. Yang lain mengatkan, “Aku tidak akan tidur di atas kasur”. Akhirnya kejadian itu diketahui oleh Nabi saw, maka beliau bersabda, “Kenapa ada orang yang mengatakan begini dan begini? Padahal aku berpuasa dan juga berbuka, aku tidur dan bangun, memakan daging, dan aku juga menikah. Barangsiapa yang membenci sunnahku maka ia bukan dari golonganku”.

Sunnah Nabi saw adalah manhaj dalam memahami agama tentang bagaimana berperilaku terhadap Rabb-nya, memperlakukan diri sendiri dan keluarganya, serta seluruh manusia di sekelilingnya. Semua hak diberikan kepada para pemiliknya secara berimbang dan proporsional. Mengabaikan hal ini akan mendatangkan kerusakan.

Ibnu Mas’ud ra meriwayatkan, “Sungguh binasalah orang-orang yang berlebihan. (Beliau mengucapkannya tiga kali)”. (HR Muslim)

Ibnu Abbas ra meriwayatkan, “Jauhilah sikap berlebihan dalam beragama, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu hancur karena sikap berlebihan dalam beragama”. (HR Ahmad dalam Musnad-nya, An Nasa’i dan Ibnu Majah dalam sunan mereka, Al Hakim dalam Mustadrak).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: