Berlebihan dalam Beragama

21 Des

berlebihanInilah hal penting dan patut kita jadikan perhatian dalam beramal utamanya aktivitas yang melibatkan kepentingan atau kebersamaan umat Islam. Yaitu agar selalu menjauhi sikap berlebihan dalam beragama, karena akan menimbulkan implikasi buruk di dalamnya seperti penyakit yang melekatinya. Implikasi tersebut adalah:

Mendatangkan kebencian

Sikap dan perilaku berlebihan dalam beragama hanya akan menimbulkan kebencian bagi mayoritas manusia. Karakter manusia secara umum tidak menginginkan sesuatu yang berlebihan dan hanya sedikit manusia yang mampu bersabar atasnya. Syariat Islam ditetapkan Allah swt untuk manusia secara umum dan tidak ada ketetapan bagi sekelompok manusia berkedudukan khusus. Dengan demikian kandungan ajaran Islam mampu diamalkan oleh setiap muslim selama tanfidz-nya (operasionalnya) dijalankan dengan proporsional.

Nabi saw pernah marah kepada sahabat beliau yang mulia, Muadz, ketika ia mengimami shalat berjama’ah dengan memanjangkan shalatnya, sehingga salah seorang dari mereka lapor kepada beliau. Nabi saw pun menegur Mu’adz dan bersabda, “Apakah engkau hendak menimbulkan fitnah, wahai Muadz?” Beliau mengucapkannya tiga kali.

Dalam peristiwa yang sama, beliau juga marah dan bersabda kepada imam shalat, di mana beliau tidak pernah marah seperti itu.

“Sesungguhnya di antara kalian ada orang-orang yang membuat kebencian. Barangsiapa menjadi imam shalat, hendaklah memendekkan shalatnya, karena di belakangnya ada orangtua, orang lemah, dan orang yang memiliki keperluan”. (HR Bukhari)

Ketika Nabi saw mengutus Mu’adz dan Abu Musa Al Asy’ari ke Yaman, beliau berpesan kepada keduanya, “Permudahlah, jangan mempersulit. Berilah kabar gembira, jangan membuat manusia lari (menakut-nakuti). Dan bersepakatlah, jangan saling berselisih…” (HR Bukhari dan Muslim)

Umar ra berkata, “Janganlah kalian menjadikan Allah dibenci oleh hamba-hamba-Nya, di mana salah seorang dari kalian menjadi imam lantas memanjangkan shalatnya, sehingga mereka membenci apa yang mereka amalkan itu”.

Mendatangkan Kebosanan

Sikap berlebihan beragama pada operasionalnya adalah mempersulit diri dalam ibadah, sehingga berakibat pada aktivitas yang selalu berusia pendek. Mempertahankan kontinuitas dalam sikap tersebut teramat berat alias sulit. Jika seseorang mampu bersabar atasnya, maka kekuatan fisik dan kejiwaannya suatu saat akan mengalami kelelahan hingga akhirnya pada situasi dan kondisi tertentu ia mendapati kebosanan dan meninggalkannya.

Nabi saw telah memperingatkan akan hal ini, “Lakukan amal sesuai kemampuan kalian, karena sesungguhnya Allah tidak akan pernah merasa bosan sampai kalian merasa bosan. Sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinyu sekalipun sedikit”. (HR Syaikhani, Abu Daud dan Nasa’i, dari ‘Aisyah ra).

Ketika Nabi saw mendengar berita ada seorang budak wanita yang berpuasa di siang hari dan beribadah di malam hari, beliau terkejut lalu bersabda, “Sesungguhnya setiap amal itu ada masa giatnya, dan setiap masa giat itu ada masa jedanya (turun intensitasnya). Barangsiapa jedanya menuju kepada sunnahku, ia telah mendapat petunjuk. Dan barangsiapa jedanya menuju kepada selain itu, maka ia tersesat”. (HR Bazzar, dan para rawinya adalah perawi hadits shahih)

Menimbulkan kedzaliman

Sikap berlebihan dalam beragama tak akan terhindar dari efek sampingnya yaitu kedzaliman terhadap hak-hak yang yang semestinya diperhatikan dan kewajiban lain yang mesti ditunaikan.

Nabi saw pernah menanyai Abdullah bin Amr yang dikabarkan telah memfokuskan seluruh aktivitas dirinya untuk beribadah sehingga melalaikan hak istri yang wajib ditunaikannya. “Benarkah kamu selalu berpuasa di siang hari dan beribadah di malam hari?” Abdullah menjawab, “Benar, wahai Rasulullah”. Maka beliau bersabda, “Jangan kau lakukan itu! Berpuasalah namun juga berbukalah. Lakukan qiyamullail (shalat malam) namun juga tidurlah. Sesungguhnya dalam jasadmu ada hak yang harus kau tunaikan. Dalam matamu ada hak yang harus kau tunaikan. Istrimu mempunyai hak yang harus kau tunaikan. Juga tamu-tamumu mempunyai hak yang harus kau tunaikan”. (HR Bukhari)

Demikianlah Nabi saw senantiasa mengoreksi aktivitas para sahabatnya yang dinilai menuju kepada sikap berlebih-lebihan, sebagaimana hal ini terdapat banyak kisah dalam hadits-hadits beliau. Maka seseorang janganlah berlebihan dalam satu aspek dengan mengorbankan aspek yang lain. Setiap hak hendaknya diberikan kepada pemiliknya, dan sikap berlebih-lebihan itu akan menghapus kebaikan dalam beragama.

“Sesungguhnya agama ini mudah. Tidaklah seseorang mempersulit agama kecuali ia pasti terkalahkan. Berlakulah lurus dan mendekati kebenaran serta berilah kabar gembira”. (HR Bukhari dan Nasa’i dari Abu Hurairah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: