Aneka Ragam Golongan Ingkar Sunnah (1)

31 Des

nolak sunnahSungguhpun As Sunnah telah jelas kehujahannya, namun tetap saja ada golongan yang membuat kaidah tersendiri terhadap sunnah sehingga menjadi tertolaknya sebagian sunnah, sebagaimana yang dilakukan oleh mereka yang menolak hadits-hadits yang tidak bersumber dari Ahlul Bait dan tidak bersumber dari imam-imam mereka. Siapakah mereka? Ada yang menyebut mereka adalah kaum Syi’ah. Secara umum, di luar konteks periwayatan, ulama Syi’ah itu condong membatasi ahlul bait dengan Ali, Fatimah, Hasan dan Husain serta sembilan keturunan Husain dengan istrinya[1].

Kemudian Ahlul Bait yang populer mereka jadikan sumber periwayatan adalah Ali, Fathimah, Hasan dan Husain. Dengan kaidah seperti itu, maka pasti akan hilang atau tertolak sebagian besar dari sunnah Nabi saw. Karena mereka mengabaikan para sahabat lain yang jika dijumlah akan jauh lebih banyak periwayatannya serta memuat hal-hal yang sangat penting dan pokok dalam agama.

Adapun pengertian Ahlul Bait menurut ulama Ahlus sunnah adalah mereka segenap kerabat Nabi saw yang diharamkan menerima sedekah, mulai dari Nabi saw beserta keluarga beliau, Ja’far dan keluarga beliau, Aqil dan keluarga beliau, Abbas dan keluarga beliau, dan lain-lain.[2] Ulama Ahlu Sunnah memasukkan segenap istri Nabi saw dalam kelompok ahlul bait berdasar surat Al Ahzab ayat 33.[3]

Golongan lain yang ingkar sunnah adalah Mu’tazilah. Mereka juga membuat kaidah tersendiri terhadap sunnah. Mereka menghilangkan kredibilitas para sahabat yang terlibat dalam konflik politik (al fitnah). Artinya golongan Mu’tazilah tidak percaya dengan hadits-hadits yang diriwayatkan dari sahabat yang terlibat konflik tersebut. Sebenarnya konflik tersebut merupakan perbedaan ijtihad saja. Perbedaan ijtihad tidak selayaknya dikaitkan dengan periwayatan, karena para sahabat Nabi saw tersebut adalah orang yang adil dan tsiqah atau terpercaya. Dan dalam periwayatan, yang dipentingkan adalah kejujuran dan ketelitian atau akurasi.

Di samping itu golongan Mu’tazilah juga mensyaratkan hadits-hadits yang diterima haruslah mencapai derajat mutawatir. Padahal hadits mutawatir jumlahnya sangat sedikit bila dibandingkan dengan hadits ahad.[4]

Masih ada lagi yang termasuk ingkar sunnah, yaitu kaum rasionalis yang enggan menerima hadits-hadits yang tidak diterima akal. Padahal yang dimaksud akal oleh mereka sesungguhnya adalah pengalaman dan fenomena kehidupan yang dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan dan zaman tempat mereka berada. Harus diingat bahwa sesuatu yang dikatakan mustahil pada zamannya bisa menjadi hal yang biasa di zaman berikutnya. Jadi kaum rasionalis itu terjebak pada batas capaian kemampuan peradaban manusia di zamannya.

Sebagai contoh yaitu hadits tentang lalat yang jatuh ke minuman. Berdasar hadits, minuman itu tak perlu dibuang, namun justru dengan menenggelamkan lalat tersebut ke dalam minuman dan setelah itu lalat dibuang, kemudian minuman tersebut bisa diminum kembali. Hadits itupun sesungguhnya telah menerangkan permasalahannya, “Pada salah satu sayap itu terdapat penyakit. Akan tetapi pada sayap yang lain terdapat penawarnya“.[5]

Kaum rasionalis tergesa-gesa menolak hadits tersebut karena berpijak pada informasi kesehatan yang sederhana bahwa lalat itu pembawa kuman penyakit. Padahal jika mereka tidak apriori dan kemudian mencari pengetahuan yang lebih kredibel akan terbukti bahwa ketika lalat itu ditenggelamkan maka sayap satunya sebagai penawar akan bereaksi dan menawarkan (membuat tawar) penyakit. Dan kasus ini telah diuji di laboratorium di Eropa dan membenarkan hadits tersebut.[6]


[1] Yaitu putri Yazdajir Kaisar Persia yang ditaklukkan tentara Islam di zaman Umar bin Khathab ra.

[2] Selengkapnya bisa dilihat di buku “Hukum Zakat” karya DR Yusuf  Qardhawi, pada bab Golongan yang tidak berhak menerima zakat.

[3] “dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta`atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”. (QS Al Ahzab: 33)

[4] Hadits yang tidak mencapai derajat mutawatir.

[5] Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw pernah bersabda: “Apabila lalat jatuh ke dalam bejanamu (wadah airmu/minumanmu), makan benamkanlah kemudian buanglah, karena pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap lainnya terdapat penawar”. (HR Bukhari)

[6] Hal ini sebagaimana dipaparkan oleh DR Daud Rasyid, MA., di lembar Prakata dalam bukunya Sunnah di Bawah Ancaman, Syaamil, 2006.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: