Aneka Ragam Golongan Ingkar Sunnah (2)

3 Jan

nolak sunnahMasih ada lagi yang termasuk enggan menerima sunnah, yaitu sebagian dari kaum kontekstualis. Mereka berpikiran bahwa sebuah perilaku yang sudah dilarang dalam sunnah Nabi saw, namun jika larangan itu ditaati di suatu tempat dapat menghambat ruang gerak Muslim bahkan merugikan, maka harus ada upaya pemikiran untuk memahami zhahir (tekstual) hadits dengan yang sebaliknya. Dengan itu tidak akan ada benturan dengan situasi dan tuntutan hidup yang ada.

Kontekstualisasi hadits itu sebenarnya bisa saja dilakukan tetapi hanya bagi mereka yang memiliki keahlian dalam bidang ini, agar kaum muslimin tidak jatuh ke dalam kekeliruan yang memprihatinkan serta merusak kehidupan mereka.

Jika kontektualisasi itu berangkat dari keengganan dan kemudian menempatkan diri pada keterpaksaan seolah tak ada pilihan lain, maka ini merupakan pilihan atau kecenderungan yang merusak. Apalagi kontektuslisasi hadits hanya berangkat dari ketidaksukaannya dengan simbol-simbol Islam, dia hanya gemar dengan yang substansial saja, tak suka beramal dan hanya gemar pada aktivitas intelektual semata. Seharusnya seorang muslim jika berhadapan dengan benturan dalam hidupnya bertanya kepada ahlinya, bukan condong kepada dirinya yang tak memiliki ilmu alat yang memadai untuk menetapkan hukum (ijtihad) dalam persoalan itu.

Ada lagi sekelompok orang yang secara tidak langsung tergolong ke dalam kelompok yang mengingkari sunnah. Dikatakan tidak langsung karena mereka itu sebenarnya menerima sunnah dan mengamalkannya, namun metodologi penerimaan sunnah mereka mengada-ada, tidak ada standar ilmiahnya sehingga salah kaprah. Mereka mensyaratkan hadits tersebut harus bersambung sanadnya, dari Nabi saw hingga ke pemimpin jama’ah mereka. Inilah yang mereka sebut sebagai “sanad manqul” atau sanad yang bersambung. Maka konsekuensinya adalah jama’ah ini tidak menerima dan tidak mengakui hadits-hadits yang terdapat dalam kitab-kitab sunnah yang dipelajari oleh seorang yang tak mendapat rekomendasi jama’ah mereka. Jadi untuk menerima keshahihan sebuah hadits dan mengamalkannya haruslah dengan talaqqi (menerima langsung) hadits dari pemimpin jama’ah yang telah mengklaim bahwa sanad haditsnya bersambung sampai kepada Nabi saw.

Kalau pengertian manqul sendiri menurut mereka adalah, “Jika tidak ada ketaatan berarti belum baiat, jika belum baiat berarti tidak ada amir/imam, jika belum memiliki amir berarti belum jama’ah, kalau belum jama’ah sama dengan belum Islam, jika belum Islam berarti masih kafir”.

Kemudian ilmu manqul menurut mereka adalah semua ilmu agama atau ilmu belajar mengajar agama baru dianggap syah atau benar jika terlebih dahulu ditashih di depan guru jama’ah mereka. Paradigma seperti itu akan bisa mengkafirkan semua orang di luar jama’ah mereka, dan hal ini merupakan paham pemikiran yang berbahaya. Jadi mereka telah berani menolak hadits-hadits yang terdapat kitab-kitab sunnah jika tidak disampaikan oleh jama’ah mereka, yang pernah dikenal dengan nama Darul Hadits atau Islam Jama’ah, yang dipimpin oleh seorang amir/imam bernama Nur Hasan Ubaidah. Dirinya mengklaim sebagai satu-satunya ulama Indonesia yang memiliki sanad bersambung hingga ke Nabi saw. Selainnya dianggap tak memiliki sanad, sehingga dianggap tidak benar dan tak diizinkan menimba ilmu kepada mereka.

Konon, orang ini telah talaqqi (belajar secara langsung) dengan syaikh Umar bin Hamdan, seorang ulama besar di Mekah. Riwayatnya berasal dari Ahmad al Barzanji, dari Sayid Ismail al Barzanji. Dengan demikian  sanadnya sampai kepada Nabi saw, Malaikat Jibril dan Allah Ta’ala.

Hal-hal yang melatarbelakangi pemikiran mereka bahwa penerimaan agama atau hadits harus melalui riwayat dengan cara manqul tersebut adalah dalih mereka sebagaimana ucapan Imam Abdullah bin Mubarak bahwa “periwayatan adalah bagian dari agama”. Dan memang Imam Muslim juga telah menjadikan tema tersebut sebagai judul sebuah bab dalam kitab shahihnya. Namun pada prakteknya kelompok ini sesungguhnya telah menjadikan ucapan Imam Abdullah bin al Mubarak tersebut sebagai hadits Nabi. Mereka lupa atau mungkin mengabaikan bahwa penulisan hadits itu telah selesai. Kita sekarang sudah tidak memerlukan lagi sanad atau rawi untuk menyampaikan hadits-hadits Nabi saw. Semua sudah termuat di dalam kitab-kitab shahih seperti Shahih Bukhari, Muslim, Sunan Abu Daud, At Tirmidzi, An Nasai, Ibnu Majah, Musnad Ahmad dan lainnya. Para imam hadits tersebut telah mentakhrij/mengeluarkan hadits dalam periwayatan yang utuh mencakup para rawi sejak disusunnya hadits tersebut oleh para imam hadits hingga ke Nabi saw. Jadi penulisan dan penyusunan hadits sudah ditutup dan selesai.

Adapun pengetahuan tentang kedudukan suatu hadits telah tersedia perangkatnya yaitu ilmu musthalahul hadits. Sehingga penerimaan dan penolakan hadits dengan metode manqul hanyalah mengada-ada, tidak memiliki dasar atau argumentasi yang kuat sehingga tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: