RAMBU-RAMBU DA’WAH

18 Jan

rambuSeorang juru da’wah (da’i) yang hanya menguasai ilmu fiqh semata, serta kemudian menyampaikan konten-konten fiqh hukum (perihal halal dan haram, boleh dan tidak boleh, dosa dan pahala, sunnah dan bid’ah, dan sebagainya) ke hadapan publik, tidak serta merta mampu mengubah kemungkaran yang ada.  Karena materi dalam fiqh itu sesungguhnya merupakan kaidah, petunjuk dan pedoman bagi orang yang sudah siap menerima hukum Islam. Jika materi fiqh hukum tersebut dihadapkan kepada komponen masyarakat tersebut, tidak akan ada masalah, jikalau ada tidaklah signifikan.

Adapun dalam dunia da’wah, para da’i di hadapkan kepada masyarakat yang heterogen dengan segala entitas di dalamnya. Bahkan sebagian dari mereka terdapat orang akan menentang da’wah baik dengan terang-terangan maupun secara tersembunyi. Oleh karena itu diperlukan fiqh tersendiri yaitu fiqh da’wah. Di sana terdapat seperangkat ilmu dan bekal untuk berda’wah yang menerangkan tentang banyak hal seperti metode, wasilah (sarana/alat), tujuan jangka pendek maupun panjang, manhaj, dan sebagainya. Dalam fiqh da’wah, tadrib atau pengamalan amr ma’ruf nahi munkar selalu disediakan rambu-rambunya, agar tidak menabrak sesuau yang sudah menjadi kelaziman masyarakat, yang berakibat pada terhambatnya proses dan tujuan da’wah. Itulah sunnah dalam da’wah, atau metode yang mesti dilakoni dalam kancah da’wah.

Dengan demikian berarti seorang da’i itu hendaklah memilih dalil-dalil mana yang tepat bagi publik. Sebab di sinilah letak pentingnya menyampaikan kepada manusia sesuai kadar penerimaan masing-masing (khotibun naas ‘ala qudri ‘uqulihim). Seorang da’i tidak harus mengobral seluruh hadits-hadits yang ia hafalkan, kendati hadits tersebut shahih, kepada manusia yang ia temui. Namun harus dilihat dahulu dengan siapa ia bicara serta apa tujuan pentingnya atau tujuan pokoknya. Ibnu Mas’ud mengatakan,

“Tidaklah engkau berbicara dengan suatu kaum dengan suatu pembicaraan di mana akal mereka tidak sampai, kecuali akan menjadi fitnah bagi sebagian mereka”. [1]

Semua itu dilakukan agar akal memiliki kesiapan untuk menerima perintah. Jika hal itu tidak dilaksanakan maka akan menjadi fitnah. Sebagaimana diberitahukan oleh Ibnu Abbas ra dalam hadits marfu’, Rasulullah saw bersabda,

“Janganlah kamu menyampaikan hadits dari haditsku kepada umatku kecuali sesuatu yang mampu dipikul oleh akal mereka, karena kalau tidak , maka akan terjadi fitnah atas mereka”.

Simak pula hadits yang diriwayatkan oleh al Bukhari dari Anas ra, bahwa Nabi saw bersabda kepada Mu’adz ra yang sedang membonceng di belakang Nabi saw. “Tak seorang pun bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan-Nya, benar-benar keluar dari hatinya secara tulus, kecuali Allah akan mengharamkan neraka atas dirinya.” Mu’adz bertanya, “Ya Rasulullah, tidakkah sebaiknya aku memberitahukan hal ini kepada khalayak, agar mereka bergembira?” Jawab beliau, “Kalau begitu mereka akan bermalas-malasan (karena mengandalkannya).” Kemudian, Mu’adz menyampaikan hadits tersebut pada saat menjelang kematiannya, semata-mata demi menghindari dosa (apabila tidak menyampaikan sabda Nabi saw tersebut).

Malahan para ulama itu sesungguhnya dimungkinkan “menyembunyikan” hadits-hadits yang dikhawatirkan menimbulkan fitnah di kalangan orang awam. Di antara para ulama ahli hadits tersebut yang tidak “hobi” menyampaikan sebagian hadits semacam itu adalah Imam Ahmad. Beliau “menyimpan” hadits-hadits yang berkenaan dengan masalah pemberontakan terhadap penguasa, karena khawatir akan ada kesan pembolehan. Demikian pula Malik berkenaan dengan “sifat-sifat Allah”, yang dapat menimbulkan kebingungan bagi kaum awam. Juga Abu Yusuf berkenaan dengan hal-hal ghaib. Dan sebelum mereka, Abu Hurairah, sebagaimana diriwayatkan darinya dalam apa yang disebut “hadits dua karung”[2] Adapun muatan hadits-hadits tersebut meramalkan tentang konflik politik yang bakal terjadi, dan sebagainya yang diriwayatkan oleh Hudzaifah.

Sekali lagi, Al Hasan pernah mengkritik Anas ra yang telah menyampaikan riwayat tentang orang-orang dari suku ‘Uranah[3], hingga hadits itu sampai ke Al Hajjaj dan digunakan sebagai dalih untuk melakukan perbuatan yang kejam. Dengan Hadits itu Al Hajjaj telah salah dalam memahami kandungan haditsnya.

Hadits-hadits yang tidak layak disajikan di depan publik adalah jika makna lahirnya atau pemahaman secara harfiah, dapat memperkuat perbuatan bid’ah, padahal bukan hal itu yang dimaksud. Namun tidaklah mengapa jika di-rawi-kan khusus terbatas pada ahli ilmu, sehingga tidak sampai kepada orang-orang yang tidak mampu memahami hadits, seperti orang-orang yang membawa misi kebatilan dan para penganut paham kebebasan (ibahiyah).

Di antara sahabat Nabi saw juga bersikap “menyembunyikan” untuk sementara waktu terhadap hadits-hadits yang bisa disalahpahami. Kalau melihat pada kasus hadits Mu’adz tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa sesungguhnya bagi siapa saja yang memiliki kefahaman seperti Mu’adz, maka tak ada salahnya untuk diberitahu. Namun dilarang memberitahukan hal itu kepada orang-orang yang terlalu berharap tetapi dengan bermalas-malasan, tidak mau beramal serta memahami sesuatu dengan yang bukan maknanya.

Dalam riwayat Muslim dijelaskan pula bahwa sesungguhnya Nabi saw telah memerintahkan kepada Abu Hurairah ra untuk memberitahukan kabar gembira ini kepada manusia. Kemudian ia bertemu dengan Umar ra dan Umar ra menolaknya dengan berkata, “Kembalilah wahai Abu Hurairah”. Dan Abu Hurairah pun kembali ke tempatnya semula, kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, janganlah engkau lakukan, sesungguhnya aku takut kalau manusia itu akan terlalu berharap, biarkan saja mereka beramal”. Maka Nabi saw menjawab, “Ya, biarkan mereka”.

Jadi fungsi larangan di sini adalah karena mencari maslahat, bukan karena diharamkan. Lantas “point” apa yang kita dapat dari hadits-hadits tersebut? Berdasarkan hadits tersebut dapatlah kita ambil beberapa kaidah atau rambu-rambu yang perlu diperhatikan dalam da’wah, yaitu bahwa dibolehkan menghindarkan suatu tindak kebaikan karena khawatir menimbulkan kesalahpahaman sebagian orang, sehingga mereka berbuat yang lebih parah daripadanya. Menjauhi apa-apa yang pada umumnya, orang-orang bersegera mengingkarinya. Menjauhi apa-apa yang dikhawatirkan akan timbul bahaya pada mereka. Melunakkan hati mereka dengan sesuatu yang tidak boleh ditinggalkan adalah wajib. Mendahulukan yang lebih penting, kemudian yang penting adalah termasuk menolak kerusakan dan menarik kemaslahatan.


[1] HR Muslim

[2] Disebutkan dalam Musnad Ahmad bahwa Abu Hurairah berkata, “Saya menghafal tiga karusng (hadits). Namun yang telah saya siarkan hanya dua karung saja.” Dan dalam Shahih Bukhari dari Abu Hurairah, katanya, “Saya menghafal dari Rasulullah saw, sebanyak dua wadah, salah satu dari keduanya telah saya siarkan; sedangkan yang satunya lagi, sekiranya saya siarkan juga, niscaya urat leherku ini telah dipotong orang!”

[3] Suku ‘Uranah adalah suatu kelompok dari luar kota Madinah yang mengunjungi Nabi saw, kemudian menyatakan masuk Islam. Suatu saat mereka sakit akibat cuaca di kota Madinah, kemudian Nabi saw memerintahkan agar mereka diberi beberapa ekor unta di antara unta-unta hasil zakat, lalu meminum susu serta air kencingnya. Setelah itu mereka sehat kembali dan pulanglah mereka dengan bekal dari Nabi saw tersebut. Namun di luar dugaan, dalam perjalanan pulang tersebut mereka murtad bahkan juga membunuh para gembalanya yang dikirim bersama mereka, lalu membawa unta-unta itu ke kediaman mereka. Sampailah berita tersebut ke Nabi saw, dan beliau mengutus pasukan Muslimin guna menangkap mereka. Setelah mereka berhasil dibawa ke hadapan Nabi saw, beliau memerintahkan agar memotong tangan dan kaki mereka serta membutakanmata mereka lalu membiarkan mereka hingga mati. Hadits tersebut tercantum dalam kedua ktab Shahih dan lainnya. (Fathul-bari, jilid 12 hal 98)

2 Tanggapan to “RAMBU-RAMBU DA’WAH”

  1. Muhammed Mukhtasar 27/01/2013 pada 10:34 #

    Memang begitu semestinya kita dlm brda’wah. Pertanyaannya: riwayat terakhir ttg eksekusi Nabi saw. thdp suku ‘uranah, tdkkah perlu ditinjau ulang lg? Apakah benar itu keputusan Nabi? Apakah motifnya murni ‘aqidah atau “politis”? Yg kedua, Abu Hurairah dikenal sbg al-mukatssiruun fi al-hadits, bknkah ada keganjilan jk dibandingkan dgn org yg trdekat dgn Nabi, ‘Aisyah & shbt2 besar yg sll sjk awal brsma Nabi. Ketiga, hadits2 ttg politik. Tdk prlukah ‘dicurigai’ mrpkan rekayasa utk menjustifikasi klmpok msg2?

    • nurahmad007 27/01/2013 pada 16:15 #

      mal-mas’ul ‘anha bi a’lama minas-sa’il, itulah yg jwbn yg tepat utk Pak Kyai. melihat bhw hadits tsb sdh termaktub dlm shahihain, mk yg dibutuhkn adalah pemahaman yg tepat, kontekstual & komprehensif oleh org yg memiliki kapasitas dan kapabilitas sbgmn sikap ulama ahlu sunah yg men-tawaquf-kannya, tdk terburu-buru menolak hadits shahih lantaran dianggap tdk rasional. Mmg memahami suatu hadits itu jg mmpertimbangkan latar belakangnya, situasi&kondisi tatkala diucapkan serta tujuannya. dsb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: